RiderTua.com – Memasuki bulan Juli, seharusnya insentif untuk mobil BEV sudah diberlakukan setelah sempat tertunda beberapa kali. Karena banyak ditunda, jelas banyak yang khawatir ini bisa membuat penjualannya ikut menurun.
▶Daftar Isi
Mobil BEV Belum Kebagian Insentif Sampai Sekarang
Pasar mobil listrik masih berkembang pesat hingga kini, dengan banyaknya model anyar yang diluncurkan dalam beberapa tahun terakhir. Model yang dihadirkan juga cukup beragam, walau kebanyakan berupa mobil SUV ada juga merek yang menjual model MPV, hatchback, sampai city car. Harganya juga bervariasi, ada yang dibanderol di bawah Rp 300 juta sampai lebih dari Rp 1 miliar.

Tahun lalu performa penjualan untuk mobil listrik sudah cukup bagus dengan lebih dari 20 ribu unit terjual dalam setahun, dan ini berkat adanya insentif untuk mobil jenis ini. Namun seperti insentif lainnya, masa berlakunya sudah habis sejak akhir tahun, dan mulai awal tahun 2026 mobil listrik tidak lagi mendapatkan keringanan harga tersebut. Padahal makin banyak produsen yang membawa model BEV-nya ke sini agar menambah minat konsumen untuk membelinya.
Karena ini, banyak konsumen yang memilih menunda membeli mobil baru untuk sekarang sampai insentif yang baru diberlakukan. Masalahnya insentif baru ini terus ditunda sampai sekarang, dan ini membuat penjualannya sempat mengalami penurunan drastis beberapa bulan lalu. Tentu tidak mengherankan kalau produsen berharap insentifnya segera dilakukan dan bisa memulihkan penjualannya, atau paling tidak meningkatkan hasil yang didapatnya.

Kehadiran Model Anyar
Sementara itu, dengan GIIAS 2026 yang akan digelar dalam waktu dekat, ada yang berpikir kalau penundaan insentif ini juga berpengaruh besar pada penjualan selama pameran digelar. Mungkin kedengarannya cukup mengkhawatirkan, tapi ini hanya berpengaruh pada mobil listrik saja, sedangkan mobil hybrid dan PHEV sepertinya tidak ikut terpengaruh. Namun sepertinya pasar BEV tidak akan mendapat dampak buruk dari ditundanya insentif, mengingat kini makin banyak model entry level yang dijual.
Harga mobil yang kini semakin kompetitif membuat produsen semakin tertantang untuk menghadirkan model serupa dengan harga lebih terjangkau lagi. BEV murah seperti Jaecoo J5 EV sampai BYD Atto 1 terbukti mencetak hasil penjualan cukup bagus dalam beberapa bulan terakhir sepanjang semester pertama. Walau Atto 1 mengalami penurunan penjualan yang cukup parah akibat transisi dari impor CBU ke produksi lokal, sepertinya ini hanya bertahan untuk sementara saja.

Tetap Rilis Banyak Model
Memang tanpa adanya insentif konsumen menunda membeli mobil anyar untuk sekarang, tapi model seperti J5 EV malah semakin laris. Bahkan disebutkan hasilnya sudah lebih baik dari tahun lalu dengan pilihan model yang semakin beragam di pasarnya, baik model entry level maupun premium. Ini saja sudah menjadi hasil yang bagus, dan produsen tetap menghadirkan berbagai macam model terbarunya di Indonesia apapun keadaan pasarnya.
Kebanyakan merek yang berjualan mobil listrik adalah merek asal China, dari BYD, Geely, Chery, Changan, sampai XPeng sudah menghadirkan mobil unggulannya disini. Makin banyak konsumen yang tertarik dengan mobil ramah lingkungan disini, jelas makin banyak produsen yang membawa model unggulannya untuk dijual di Indonesia. Entah itu model PHEV, BEV, bahkan EREV yang kini menjadi jawaban untuk mengatasi jarak tempuh mobil yang terbatas.

Sementara merek Jepang mendominasi pasar mobil hybrid, tidak menutup kemungkinan merek China juga ikut-ikutan menjual mobil jenis ini. Tapi untuk sekarang mereka fokus berjualan mobil listrik dan PHEV, mengingat mereka memegang pangsa cukup besar di kedua pasar tersebut. Kalaupun nantinya ada kompetitor yang mau melawannya, mereka sudah punya model untuk menghadang rival barunya nanti.
Jelas mereka ogah berhenti sampai disini, dan mereka tetap menambah lebih banyak mobil listrik dan PHEV-nya di Indonesia. Walau tidak semua model bisa langsung dijual begitu saja, karena mereka masih harus melakukan riset pasar terlebih dahulu sebelum merilisnya.












