Home MotoGP Paolo Campinoti (Bos Pramac): Tiket Paddock Club MotoGP Seharga Rp 300 Juta...

    Paolo Campinoti (Bos Pramac): Tiket Paddock Club MotoGP Seharga Rp 300 Juta Lebih? Tidak Realistis!

    Paolo Campinoti - MotoGP
    Paolo Campinoti - MotoGP

    RiderTua.com – Paolo Campinoti mengomentari pengambilalihan manajemen MotoGP dari Dorna Sports ke Liberty Media yang dilakukan sejak Juli 2025. Perusahaan asal Amerika Serikat itu membeli 84 persen saham, sementara Carmelo Ezpeleta masih memiliki saham 16 persen dan hingga hari ini masih menjalankan bisnis tersebut namun berganti nama menjadi MotoGP Sports Entertainment Group.

    Pemilik tim Pramac itu mengatakan, “Ya, saya puas, meskipun menurut saya beberapa hal seharusnya dilakukan lebih cepat. Untuk meningkatkan pendapatan, MotoGP harus melakukan sesuatu yang, maaf kalau terdengar kurang sopan, lebih menarik dan lebih seksi.”

    Informasi resmi jadwal pameran, tiket, daftar lengkap peserta dapat diakses melalui situs resmi GIIAS disini 👇 Official Media Partner GIIAS 2026 - Ridertua

    Paolo Campinoti (Bos Pramac): Tiket Paddock Club MotoGP Seharga Rp 300 Juta Lebih? Tidak Realistis!

    Tribun Kosong MotoGP

    Paolo Campinoti melanjutkan, “Kuncinya adalah menarik sponsor. Mereka harus memutuskan apakah benar-benar menjadi perusahaan hiburan (entertainment) atau tetap berjalan seperti sebelumnya. Kalau kita hanya berpikir bagaimana menghemat 100 euro (Rp 2 jutaan) dari transportasi, ya, kita memang bisa menghemat. Tetapi perubahan nyata datang dari peningkatan pendapatan, bukan pemangkasan biaya.”

    Campinoti mencontohkan salah satu seri baru di MotoGP yang menurutnya salah perhitungan. Meski tidak menyebut nama secara langsung, tapi kita semua tahu bahwa yang dimaksud bos asal Italia itu adalah sirkuit Balaton Park. Pada debut MotoGP di Balaton Park yang digelar pada Agustus 2025, total penonton selama 3 hari hanya mencapai 80.105. Diperkirakan GP Hungaria akan dicoret dari kalender MotoGP untuk 2027, kecuali mereka melakukan investasi besar-besaran di Hungaroring dan balapan dipindahkan ke Budapest.

    Negara mana yang seharusnya menjadi tuan rumah MotoGP karena memiliki potensi yang sangat besar? “Saya pasti akan memilih India karena itu adalah pasar yang besar. MotoGP harus hadir di negara-negara yang punya potensi pasar yang besar. MotoGP pernah sekali menggelar balapan di Sirkuit Internasional Buddh pada 2023, tetapi Grand Prix tersebut kemudian menghilang dari kalender karena berbagai kendala termasuk persoalan administrasi bea cukai,” jawab Campinoti.Tribun Kosong MotoGP 2020 Australian Grand

    Campinoti menambahkan, “Semua tiket sold out alias terjual habis, tribun penuh sesak, dan semua orang senang. Begitu juga di Malaysia dan Indonesia. Pasar lain yang punya potensi besar adalah Tiongkok.”

    Liberty Media merupakan perusahaan yang juga mengelola ajang balap Formula 1. Menurut Campinoti, F1 bukan lagi rival untuk MotoGP. “Sekarang Formula 1 memiliki target penggemar yang berbeda dari MotoGP. Mereka sudah sepenuhnya naik ke level yang jauh lebih premium. Justru itu membuka banyak ruang bagi MotoGP untuk memposisikan diri secara lebih luas,” ujarnya.

    Campinoti mencontohkannya dengan harga tiket di F1. Sebagai informasi, harga tiket ‘paddock club’ (tiket VIP paling eksklusif) di F1 mencapai €15.000 atau kisaran Rp 307 juta. Bahkan dengan harga setinggi itu, masih banyak yang memburunya di pasar gelap karena permintaannya sangat tinggi. “Tidak realistis dan tidak mungkin kalau MotoGP mencoba mencapai level itu. Tapi menaikkan pamor dan posisi MotoGP ke level yang lebih premium, tentu saja bisa,” tegasnya.

    MotoGP Rider
    MotoGP Rider

    Campinoti juga optimis bahwa dibawah kepengurusan Liberty Media dan Dorna, masa depan MotoGP akan semakin baik. Menurutnya, Carmelo dan Carlos Ezpeleta memiliki visi yang sangat jelas terkait arah pengembangan MotoGP. “Ini hanya masalah waktu. Saya tidak melihat ada masalah dalam mewujudkannya,” pungkasnya.

    Tahun depan tim Pramac Yamaha akan diperkuat Toprak Razgatlioglu dan Izan Guevara (peringkat 2 dalam klasemen Moto2) untuk 2027. Meski Yamaha M1 dengan mesin V4 masih menjadi motor yang paling ‘lemot’ di grid saat ini, namun Campinoti optimis mereka akan segera bangkit dan kembali menjadi motor yang layak diperhitungkan di MotoGP seperti masa kejayaan bersama legenda Valentino Rossi.

    © ridertua.com

    TINGGALKAN BALASAN

    Silakan masukkan komentar Anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini