RiderTua.com – Halo para penikmat MotoGP di RiderTua. Dalam sebuah kesempatan, dua ujung tombak KTM Pedro Acosta dan Dani Pedrosa ngobrol soal motor dan harapan mereka untuk musim selanjutnya. Yang satu merupakan pembalap muda berbakat yang saat ini sedang on fire, yang satunya adalah tes rider berpengalaman yang membuat RC16 meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir..
Menjelang GP Jerez akhir pekan ini Acosta berada di peringkat 3 dalam klasemen. Dia hanya kalah dari 2 pembalap Aprilia Marco Bezzecchi dan Jorge Martin. Namun Acosta tak mau berpuas diri dan terlalu percaya diri, menurutnya musim masih panjang dan banyak hal masih bisa terjadi. Tapi dia juga tak menampik bahwa musim ini KTM punya dasar yang jauh lebih kokoh dari sebelumnya.
Ngeri! Cuma Modal ‘Percaya Buta’ Sama Dani Pedrosa, Pedro Acosta Langsung Sikat Podium Pake Sasis yang Ditolak Pembalap Lain!

Pedro Acosta mengatakan, “Kami tampil lebih baik dari yang terlihat. Ya, tapi kami juga belum sebaik yang seharusnya. Kami sudah membuat banyak kemajuan, itu yang terpenting. Dibandingkan awal musim lalu yang masih serba tidak jelas, sekarang kami terlihat cukup stabil dan berada di posisi yang cukup baik.”
Tapi sayangnya hanya Acosta yang mampu bertarung untuk memperebutkan podium melawan pembalap-pembalap kuat seperti Marc Marquez dan Martin. Sementara 2 rekannya Brad Binder dan Enea Bastianini masih kesulitan menemukan performa yang baik. Bestia berada di peringkat 11 sementara Binder ke-12 dalam klasemen.
Dani Pedrosa percaya ini bukan kebetulan. “Yah, sebagian besar hasil atas kerja keras Pedro. Bukan hanya tahun ini, di paruh kedua musim lalu dia sudah menunjukkan performa yang sama. Dia adalah pembalap terbaik untuk tim, secara konsisten berada di podium,” ujar rider berusia 39 tahun itu.

Pedrosa menegaskan bahwa ketika seorang pembalap tampil sebaik itu, maka pabrikan akan lebih fokus mendukungnya. “Sebagian besar kesuksesan tim berkat dia. Dan jelas, ketika seorang pembalap berada di depan, bertarung untuk meraih podium dan kemenangan, pengembangan motor juga akan mengikuti arah itu. Karena dialah pembalap terdepan, yang memberikan umpan balik terbaik, dan di situlah kita benar-benar dapat menyempurnakan detail yang dibutuhkan motor untuk mencapai level berikutnya,” jelas rider berjuluk Little Samurai itu.
Banyak yang mungkin berpikir bahwa bekerja dengan seseorang yang berpengalaman seperti Dani dapat menimbulkan konflik. Tetapi kenyataannya mereka justru sangat cocok. Sudah lebih dari 2 musim mereka bekerja bersama, tapi tidak pernah berselisih sama sekali. Apakah mereka pernah bertengkar? Mereka menjawab serentak, “Tidak pernah. Sama sekali tidak.”
Dani enggan disebut mentor, dia menegaskan bahwa yang menentukan tetap pembalap di lintasan. “Tidak, tidak, pembalaplah yang menentukan,” tegasnya.

Acosta setuju dengan pendapat Dani dan merasa kesamaan cara pandang menjadi kunci dari hubungan mereka. “Hal bagus dari kami adalah kami punya pendapat yang hampir sama dalam banyak hal seperti motor, orang-orang di tim, dan banyak hal lainnya. Jadi sangat mudah untuk mencapai titik tengah. Termasuk juga mentalitas saat balapan akhir pekan,” ungkap rider berjuluk Hiu dari Mazarron itu.
Kepercayaan Acosta kepada Pedrosa sangat tinggi, bahkan kadang dia tidak perlu banyak bertanya. Kalau Pedrosa bilang satu suku cadang bagus, maka Acosta akan langsung memasangnya dan turun ke lintasan tanpa ragu-ragu. “Sebagian besar suku cadang atau peningkatan yang saya suka dan yang sudah saya uji sebelumnya, biasanya dia juga suka. Tidak semuanya, tetapi mayoritas iya,” ungkai Pedrosa.

Acosta ingat satu moment ketika kepercayaan ‘buta’ itu membuahkan hasil. Itu terjadi di tahun pertamanya di MotoGP, ketika sasis baru ditolak oleh pembalap lain. “Saya ingat tahun pertama saya di MotoGP, mereka membawa sasis baru ke Misano yang belum saya uji. Dan ketika pembalap lain tidak menyukainya, saya bertanya, ‘oke, apa kata Dani?’ Dia bilang pakai saja. Jadi saya bilang, ‘oke, kalau begitu bawa ke Indonesia, saya akan menggunakannya’. Saya biasa tidak mau terlibat dalam perdebatan,” ungkap rider berusia 21 tahun itu sambil tertawa.
Pedrosa langsung menimpali, “Dan kamu meraih podium di balapan itu.”
Acosta mengakui bahwa moment itu sangat penting baginya. “Ya. Saya sering terjatuh di beberapa balapan sebelumnya, dan disitu saya benar-benar butuh hasil bagus,” pungkas rider Red Bull KTM itu.






