Home MotoGP Marc Marquez: Aku Tidak Tahu, Apakah Ini akan Menjadi Gelar Dunia Terakhirku

    Marc Marquez: Aku Tidak Tahu, Apakah Ini akan Menjadi Gelar Dunia Terakhirku

    Marc Marquez
    Marc Marquez

    RiderTua.com – Sobat pembaca setia RiderTua. Jika berbicara soal Marc Marquez yang tersaji adalah perjuangan ‘epic’ yang penuh tawa dan tangis di dunia balap motor. Bakat luar biasa sejak muda, gaya balap agresif tanpa rasa takut, dan keberanian mengambil risiko yang terkadang sangat ekstrem, itulah sepenggal kelebihan dari sang bintang. Namun rider berjuluk Baby Alien itu juga menanggung sakit yang tak terperi ketika dihantam badai cedera pada 2020.

    Tapi berkat tekad kuatnya dan juga dukungan dari orang-orang terdekatnya, Marquez mampu bangkit dari keterpurukan dan kembali menjadi juara dunia MotoGP tahun lalu. Motivasinya bukan sekadar naik motor, tetapi berkompetisi hingga batas maksimal untuk meraih kemenangan. “Saya bukan kecanduan naik motor, tapi saya kecanduan kompetisi dan kecanduan menang. Ketika menang, saat itulah kita merasa dihargai, karena ada banyak effort di baliknya. Ini bukan hanya soal datang lalu mengendarai motor, ada persiapan panjang yang harus dilakukan,” ujarnya.

    Marc Marquez: Aku Tidak Tahu, Apakah Ini akan Menjadi Gelar Dunia Terakhirku

    Marc Marquez
    Marc Marquez

    Marc Marquez mengaku bahwa sebenarnya dia tidak terlalu menyukai tes. “Saya suka bosan selama tes. Saya sering terjatuh karena kurang konsentrasi. Berbeda dengan balapan akhir pekan karena lebih intens. Entah hasilnya bagus atau tidak, tetapi saya selalu tidak sabar untuk mengikuti balapan berikutnya,” ungkap rider berusia 33 tahun itu.

    Konten promosi pihak ketiga – hasil dapat berbeda untuk setiap individu.

    Namun hidup Marquez berubah drastis tatkala dibekap cedera. Bahkan dia sempat berpikir untuk pensiun dari MotoGP. “Ini adalah salah satu periode atau mungkin satu-satunya periode, dimana saya benar-benar mempertimbangkan kembali, apakah masuk akal untuk terus lanjut? Apakah penderitaan ini sepadan?” ungkap juara dunia 9 kali itu.

    Mulai 2020, cara pandang Marquez berubah total. “Dulu saya selalu berkata, ‘tubuh saya diciptakan untuk motor, saya tidak peduli dan saya memberikan segalanya’. Sekarang saya sadar bahwa motor itu penting, tetapi hidup harus terus berjalan. Ada banyak hal lain, dan karier balap hanyalah salah satu bagian dari hidup kita,” imbuhnya.

    Marquez juga sadar adanya hubungan kuat antara karir dan kehidupan pribadi. “Ketika pekerjaan kita secara langsung memengaruhi kehidupan pribadi, jika semuanya berjalan baik secara profesional, maka kita akan bahagia. Tapi jika semuanya berjalan buruk secara profesional, itu menjadi lebih berat,” ungkap rider Ducati Lenovo itu.

    Marc Marquez Juara Dunia MotoGP 2025
    Marc Marquez Juara Dunia MotoGP 2025

    Titik terberat Marquez justru terjadi pada 2022. Saat itu secara fisik dia kesakitan, performanya menurun drastis, kembali crash bahkan sangat serius ketika crash di Mandalika yang menyebabkan dia mengalami masalah penglihatan ganda (diplopia). “Maret 2022, rasa nyeri di lengan saya dan keadaan tidak berjalan baik. Saya mengalami crash di Indonesia, kepala saya terbentur dan penglihatan ganda,” ujarnya.

    Marquez menambahkan, “Dampaknya bukan hanya pada karir balap saya, tetapi juga memengaruhi kehidupan sehari-hari saya. Saya tidak bisa mengendarai mobil, tidak mandiri. Saya bergantung pada orang lain sepanjang hari dan tidak bisa menjalani kehidupan normal. Bahkan hal sederhana pun sulit saya kerjakan. Bahkan saya tidak bisa mengangkat tas belanja dan meletakkannya di atas meja.”

    Situasi tersebut memaksanya membuat keputusan penting terkait kariernya. “Saya bilang, ‘saya harus berhenti’. Kalau tidak, saya bisa benar-benar cedera parah,” tegasnya.

    Pada titik itu, Marquez menghadapi dilema antara tetap berada di zona nyaman atau mengambil risiko agar kembali kompetitif. “Tahun tersebut adalah tahun pengambilan keputusan. Kami berusaha mencari jalan keluar, apakah keluar dari zona nyaman atau terus lanjut dengan risiko cedera,” ungkapnya.

    Marc Marquez
    Marc Marquez

    Keputusan tersebut mewakili perubahan radikal setelah lebih dari 1 dekade berada di lingkungan yang sama. “Yang paling menghambat saya adalah perasaan saya. Setelah menghabiskan 10 tahun bersama Honda, dengan mekanik dan orang-orang yang sama,” ujarnya.

    Namun akhirnya keinginan untuk kembali kompetitif mengalahkan perasaan. “Kami memutuskan untuk meninggalkan zona nyaman, untuk memprioritaskan apa yang terbaik dari perspektif olahraga. Beri saya motor pemenang, saya ingin melihat apa yang mampu saya lakukan,” tegas rider asal Cervera Spanyol itu.

    Pada 2024, Marquez memutuskan meninggalkan Honda sekaligus meninggalkan gaji tinggi untuk mendapatkan Desmosedici GP yang saat itu mendominasi bersama tim Gresini. Meski begitu, keraguan masih bergelayut di benaknya. “Saya ragu, apakah saya bisa melaju cepat lagi. Saya tahu, lengan saya tidak sama seperti dulu,” jelasnya.

    Hal tersebut memaksanya mengubah pendekatan. “Sekarang saya tidak membandingkan sisi kiri dan kanan tubuh saya, tetapi saya hanya mencoba mengeluarkan potensi maksimal dari masing-masing. Setelah cedera performa kita menurun, tetapi kita tidak tahu seberapa besar penurunannya. Mungkin 3, 10, atau 20 persen,” ujar kakak Alex Marquez itu.

    Marc Marquez
    Marc Marquez

    Marquez menjelaskan bahwa di level tertinggi, bakat saja tidak cukup. “Bakat saja tidak akan membawa kita ke mana pun. Mungkin bisa masuk ke kelas junior. Tetapi di Moto2, akan terlihat jelas siapa yang bekerja keras. Bakat, kerja keras, dan lingkungan. Tanpa itu kamu tidak akan berhasil,” tegasnya.

    Konten promosi pihak ketiga – hasil dapat berbeda untuk setiap individu.

    Gaya balap Marquez terkenal sangat agresif. Namun dia membela diri bahwa semua yang dilakukannya di trek masih terkontrol. “Bukan pembalap paling nekat yang menang, tetapi pembalap yang paling baik dalam menggunakan kenekatannya itu. Kita harus sedikit ‘gila’, tetapi harus dikontrol dengan baik,” imbuhnya.

    Salah satu dampak dari cedera yang paling bertahan lama adalah ingatan akan risiko. “Kalau kamu pernah terjatuh di satu tikungan, di sesi FP1 kamu akan sulit untuk melibasnya dengan percaya diri. Tetapi lama-lama kamu akan terbiasa lalu bisa kembali fokus,” ujarnya.

    Ini artinya, sirkuit tidak lagi netral secara emosional. Setiap trek memiliki kelebihan sendiri. “Ada sirkuit dengan aura positif, ada pula yang negatif. Dan ada juga yang netral, di mana kita harus membangun kembali kepercayaan diri dari awal,” kata Marc.

    Peran adiknya Alex Marquez sangat penting bagi Marc Marquez. “Dia adik saya, sahabat terbaik saya, sekaligus rekan kerja terbaik saya. Kami berbagi tahun yang luar biasa dan bersejarah,” ujarnya, merujuk tahun lalu dimana Marc menjadi juara dunia sedangkan Alex menjadi runner-up.

    Alex Marquez - Marc Marquez
    Alex Marquez – Marc Marquez

    Marc melanjutkan, “Ketika saya cedera, dia membantu saya tetap terhubung dengan dunia balap motor. Saya merasa lebih bahagia ketika dia menang ketimbang saya yang menang. Dia juga membantu saya dalam membuat keputusan penting. Dia bilang kepada saya, ‘datanglah ke Gresini dan pakai Ducati’. Tanpa sadar kami saling membantu, berbagi strategi, ban, semuanya. Karena kami bahagia untuk kesuksesan satu sama lain.”

    Di luar lintasan, Marquez menyoroti tekanan media. “Salah satu hal yang paling melelahkan adalah ‘paparan’ media. Ibaratnya bahkan hanya ‘buang air kecil’ saja, akan diberitakan di mana-mana. Tekanan dari kamera, publik, dan sorotan terus menerus menjadi beban tambahan dalam karir seorang atlet top.

    Meskipun sekarang masih aktif sebagai pembalap, Marquez sadar kariernya akan ada ujungnya. “Saya akan mengakhiri karier saya lebih cepat karena kondisi tubuh saya, bukan karena mental saya. Saya akan terus balapan selama tubuh saya masih mampu. Saya tidak tahu, apakah ini akan menjadi Gelar Dunia terakhir saya,” tegasnya.

    Marquez tak menampik bahwa suatu saat akan terjadi penurunan performa. “Kita tidak akan memasuki tikungan dengan cara yang sama saat berusia 20 dan 35 tahun. Wajar, jika suatu hari nanti rekan setim kita akan mengalahkan kita,” pungkasnya. BTW, saat ini Marc Marquez berada di peringkat 5 dalam klasemen dengan 1 kali menang dalam 6 balapan pertama musim 2026.

    © ridertua.com

    Konten promosi pihak ketiga – hasil dapat berbeda untuk setiap individu....

    TINGGALKAN BALASAN

    Silakan masukkan komentar Anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini