RiderTua.com – Ducati Vs Aprilia perang aerodinamika (leg wings). Selama tes pramusim 2015, Ducati mempelopori revolusi aerodinamika modern di MotoGP dengan memasang winglet pada Desmosedici GP milik mereka. Selama hampir 1 dekade, dengan inovasi mereka, pabrikan asal Borgo Panigale itu selalu menjadi patokan yang kemudian ditiru pabrikan lain. Bahkan Ducati meraih gelar dunia MotoGP selama 4 tahun terakhir..
Namun seiring berjalannya waktu situasinya terus berubah. Aprilia muncul sebagai inovator utama, terutama sejak diperkenalkannya fairing ‘ground effect’ pada 2022. Dan kini mereka mengembangkan aerodinamika bagian belakang, sebelum regulasi membatasinya mulai 2027. Pabrikan asal Noale tersebut memasang ‘leg wings’ atau sayap kaki di dekat jok RS-GP. Hasilnya, 2 pembalapnya menempati peringat 1 dan 2 dalam klasemen dan Aprilia memimpin klasemen konstruktor..
Demi Jegal Aprilia, Ducati Terus Terang Contek ‘Leg Wings’ Aprilia! Tanda Inovasi Borgo Panigale Mulai Mentok?

Dengan aturan homologasi yang sekarang membatasi pengembangan fairing depan, kini perbedaan antar pabrikan di MotoGP hanya ditentukan oleh detail-detail kecil saja. Sementara itu, aerodinamika belakang masih bebas dikembangkan dan kini menjadi babak baru ‘perang’ aerodinamika. Sekarang banyak tim menawarkan berbagai konfigurasi yang bisa dipilih sesuai dengan preferensi pembalap atau karakter sirkuit.
Aprilia kembali menjadi pelopor dengan memperkenalkan winglet yang dipasang di belakang jok tepat di belakang kaki pembalap. Dimana area ini berada di luar batas homologasi saat ini. Setelah Honda dan KTM, Ducati juga menggunakannya di COTA dua pekan lalu. Namun winglet versi Ducati ukurannya lebih kecil dibandingkan milik Aprilia, memulai debutnya bersamaan dengan winglet belakang yang telah direvisi, mirip dengan desain yang digunakan Aprilia, KTM, dan Yamaha.
Desain ini tampaknya menggabungkan 2 konsep yakni sirip samping vertikal seperti ‘stegosaurus’ aero dan efek downforce dari winglet ‘gaya F1’. Hasilnya, kombinasi stabilitas dan tekanan ke bawah (downforce) menjadi lebih optimal. Honda sendiri sebenarnya dulu sudah pernah bereksperimen dengan winglet belakang, tetapi saat ini mereka hanya menggunakan model sirip (vanes).

Ketika Davide Tardozzi ditanya, apakah Aprilia menjadi inspirasi untuk aerodinamis terbarunya? Secara blak-blakan manajer tim Ducati Lenovo itu menjawab, “Jelas, kita harus selalu melihat siapa yang memimpin. Dan tampaknya Aprilia saat ini berperforma sangat baik. Jadi mengapa tidak mencoba menirunya?”
Di lintasan, tampaknya aerodinamis Ducati ini cukup berhasil. Marc Marquez dan Pecco Bagnaia menjajal paket aerodinamika yang baru ini. Pecco merasakan hal positif terutama di tikungan cepat. “Saya merasa motor jauh lebih stabil di tikungan cepat. Saat keluar dari tikungan cepat, saya merasa lebih nyaman,” ungkap juara dunia MooGP 2 kali itu.
Namun performa Ducati belum maksimal secara keseluruhan. Pecco yang nyaris menang dalam sprint di COTA, justru kesulitan dalam race utama karena bannya cepat aus yang membuatnya merosot ke posisi ke-10. Sementara Marquez finis di posisi ke-5 setelah bangkit kembali usai menjalani long lap penalti. Menariknya, dengan finis di posisi ke-4, justru Fabio di Giannantonio yang menjadi pembalap Ducati terdepan padahal rider VR46 itu tidak menggunakan paket aerodinamika yang baru.

Di sisi lain, Aprilia kembali menunjukkan dominasinya. Marco Bezzecchi sukses memenangkan GP Amerika meskipun bagian belakang RS-GP-nya mengalami kerusakan dan rekan setimnya Jorge Martin finis ke-2. Ini merupakan kemenangan Bezzecchi untuk ke-5 kalinya secara beruntun mulai GP Portugal 2025 hingga GP Amerika 2026.
Terkait kerusakan motor Bezzecchi, Massimo Rivola (CEO Aprilia Racing) mengatakan, “Kecepatan Marco terhambat karena tidak adanya winglet belakang, terutama saat hard braking dan ada banyak zona pengereman keras di sini. Bagian belakang motor jelas lebih ringan sehingga menjadi tidak stabil dan sulit dikendalikan. Dia melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam beradaptasi. Jika orang lain berpikir aerodinamika tidak penting, biarkan mereka berpikir begitu.”









