RiderTua.com – Pada 2022 Honda memutuskan untuk menggabungkan program roda dua dan roda empatnya di bawah struktur HRC (Honda Racing Corporation). Tujuannya adalah untuk berbagi sumber daya, tenaga insinyur, dan pengembangan teknologi. Strategi ini dibuat agar tercipta sinergi antar proyek balap Honda. Namun ada sisi negatifnya, yakni jika satu proyek mengalami masalah maka proyek lain bisa ikut terdampak.
Saat ini fokus Honda tertuju pada proyek mereka di Formula 1, dimana mereka memasok mesin ke tim Aston Martin. Tapi di awal musim 2026, muncul banyak keraguan soal performa dan kehandalan mesin tersebut. Masalah sudah terlihat sejak menjalani tes pramusim, dengan terjadi beberapa kerusakan mesin dan tingkat kehandalan yang cukup rendah. Informasi dari paddock menyebutkan bahwa masalah utama terletak pada getaran unit tenaga, yang memengaruhi sistem hibrida dan komponen lain dari mobil F1.
Krisis Honda di Formula 1 Akankah Mengancam Proyek MotoGP-nya?

Selama tes di Bahrain, tim Aston Martin nyaris tidak mampu menempuh lebih dari 2.000 kilometer. Sebagai perbandingan, tim-tim rival dengan mudah mampu melampaui 15.000 kilometer. Perbedaan yang sangat jomplang ini menunjukkan bahwa AMR26 mengalami kesulitan mekanis yang serius bahkan sebelum musim 2026 dimulainya.
Dan masalah tersebut semakin terlihat jelas saat balapan pertama musim 2026 di GP Australia. 2 pembalapnya baik Fernando Alonso maupun Lance Stroll gagal menyelesaikan balapan dan suasana di dalam garasi juga sangat negatif. Bahkan Stroll mengatakan bahwa mobil sangat tidak nyaman dikendarai, karena getaran mesin sangat kuat sampai terasa hingga ke sasis dan kemudi.
Meski masalah ini terjadi di Formula 1, Honda khawatir situasi tersebut bisa merembet ke proyek MotoGP. Alasannya sederhana, karena proyek F1 dan MotoGP berada di bawah struktur yang sama yakni HRC. Ini artinya, beberapa sumber daya manusia dan teknis saling terhubung.

Seorang eksekutif Honda mengatakan, “Di MotoGP, itu pasti akan berdampak. Kami memiliki struktur yang sama dengan F1. Saat ini prioritas utama perusahaan adalah menyelesaikan masalah itu.”
Namun situasi ini terjadi di saat yangΒ sangat genting bagi divisi motor Honda. Setelah terpuruk dalam beberapa musim, Honda sebenarnya mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan di MotoGP. Hasil yang ditorehkan tahun lalu, mencerminkan peningkatan performa yang sangat signifikan dan daya saingnya mulai kembali. Bahkan peningkatan tersebut membawa Honda keluar dari peringkat konsesi D atau peringkat paling bawah ke peringkat C.
Perkembangan positif juga ditunjukkan pada seri pembuka musim di GP Thailand. Joan Mir mampu bertarung di 5 besar, sebelum akhirnya masalah ban belakang membuatnya gagal finis. Meski begitu, performa keseluruhan RC213V memberi harapan baru untuk tim.

Kekhawatiran Honda juga berkaitan dengan perubahan aturan MotoGP yang akan dimulai pada 2027, dengan mesin berkapasitas yang lebih kecil dan aerodinamikayang dibatasi. Bagi pabrikan, tahun-tahun menjelang transisi ini sangat penting dalam hal pengembangan. Jika departemen MotoGP kehilangan fokus internalnya selama periode ini karena masalah di F1, risikonya adalah Honda memasuki era baru dengan kerugian teknis dibandingkan rivalnya.









