Home MotoGP Jorge Lorenzo: Tidak Seharusnya Jorge Martin Dipermalukan Seperti yang Dilakukan Massimo Rivola

    Jorge Lorenzo: Tidak Seharusnya Jorge Martin Dipermalukan Seperti yang Dilakukan Massimo Rivola

    Jorge Lorenzo - Jorge Martin
    Jorge Lorenzo - Jorge Martin

    RiderTua.com – Bro sekalian… Jorge Lorenzo mengulas crash massal yang terjadi di tikungan pertama di Balaton Park. “Kita akan fokus pada Jorge Martin, yang mengalami hal aneh saat mengerem di sana. Motornya menjadi tidak stabil sehingga dia harus melepaskan rem. Akibatnya kecepatannya meningkat dan dia memasuki tikungan terlalu cepat karena ketidakstabilan itu,” ujarnya.

    Lorenzo membela Martin dari sudut pandang seorang pembalap. “Pertama dia menyenggol Fermin Aldeguer, lalu menabrak Marco Bezzecchi, kemudian merembet ke Fabio Di Giannantonio, dan Raul Fernandez. Dia tidak melakukan hal ‘gila’, dia tidak mengerem terlalu lambat dibandingkan rider lain, tetapi mungkin saja roda depan terkunci atau dia kehilangan kendali atas roda belakang,” jelasnya.

    Daftar Isi

    Jorge Lorenzo: Tidak Seharusnya Jorge Martin Dipermalukan Seperti yang Dilakukan Massimo Rivola

    Jorge Lorenzo juga mengkritik pernyataan Massimo Rivola soal Jorge Martin. “Tidak seharusnya Martin dipermalukan seperti yang dilakukan Rivola, terutama jika kita belum pernah menjadi pembalap MotoGP. Mengapa? Izinkan saya memberi contoh diri saya sendiri. Di Laguna Seca pada 2011, saya melakukan start dengan berpikir sistem kontrol traksi sudah aktif. Saya start, masuk tikungan pertama, dan ternyata sistem tersebut tidak aktif, lalu saya terlempar dari motor. Kita semua manusia biasa dan bisa saja melakukan kesalahan. Yang jelas, sekarang start balapan akan menjadi lebih menarik karena akan ada lebih banyak perbedaan situasi di antara para pembalap,” tegasnya.

    Marc Marquez - Pedro Acosta
    Marc Marquez – Pedro Acosta

    Duel Marc Marquez Vs Pedro Acosta di Balaton Park

    Lorenzo menyoroti dominasi Marc Marquez di MotoGP Hungaria dan duel sengitnya melawan Pedro Acosta hampir di sepanjang balapan dalam 26 lap. Seperti yang diketahui, juara dunia 9 kali itu baru saja menjalani dua operasi sekaligus pasca crash di Le Mans. Dia mencoba comeback di Mugello meski fisiknya belum pulih sepenuhnya. Selang 5 hari kemudian, rider Ducati Lenovo itu justru tak terkalahkan di Balaton Park dengan meraih pole position, menang dalam sprint dan race utama..

    Lorenzo mengatakan, “Itu adalah comeback yang luar biasa, karena berselang beberapa hari sejak Mugello. Di Mugello dia terlihat masih jauh dari performa terbaiknya, apalagi belum lama sejak cedera di Le Mans. Tidak ada yang menyangka hanya dalam beberapa pekan dia akan pulih secepat itu dan menang dengan begitu meyakinkan. Layout sirkuit juga membantunya. Karakter sirkuitnya stop and go dan ini menguntungkan Pedro dan Marc.”

    Massimo Rivola
    Massimo Rivola

    “Sirkuit ini punya banyak tikungan kiri terutama di Tikungan 1 dan hanya punya 2 tikungan kanan, seperti yang dikatakan Marc sendiri itu sangat membantunya. Dia mungkin tidak akan menang di tikungan kanan, dan fakta bahwa lawannya menggunakan KTM juga berpengaruh. Saat ini KTM, setelah Yamaha, dan setara dengan Honda, adalah salah satu motor yang paling lemah di grid.”

    “Serangan pertama Pedro terhadap Marc terjadi di tikungan kanan, semacam manuver ‘block pass’. Kali ini Marquez membalasnya di tikungan kiri di mana dia merasa jauh lebih nyaman. Dia bisa memiringkan motornya dengan sangat cepat dan percaya diri. Marc sedikit melebar, keduanya mengambil racing line yang sangat berbeda, dan Marquez memiringkan motornya dengan tajam di sana.”

    “Dan Pedro memilih racing line yang jauh lebih lebar sehingga dia bisa membawa kecepatan lebih tinggi ke tikungan kiri berikutnya. Karena Marquez memiringkan motornya ke tikungan dengan tajam seperti huruf V, dia meninggalkan sedikit celah di sana dan Pedro memanfaatkannya,” tambah Lorenzo.

    Menurut Lorenzo, comeback Marc Marquez sangat luar biasa. “Kembalinya Marc untuk kesekian kalinya setelah cedera, menunjukkan kekuatan fisik dan yang terpenting kekuatan mentalnya. Dia tidak pernah menyerah. Kejuaraan ini bukan mustahil untuk diraih, memang sangat sulit tetapi bukan tidak mungkin. Dan setelah balapan hari Minggu ini, dia berhasil memangkas poin sebanyak mungkin dari Bezzecchi,” ujar mantan pembalap asal Mallorca Spanyol itu.

    Jorge Lorenzo
    Jorge Lorenzo

    Lorenzo menambahkan bahwa balapan di Hungaria sangat menguntungkan Marquez. “Yang terjadi adalah skenario terbaik untuk kepentingannya dalam perebutan poin. Dia menang, sementara Bezzecchi dan Martin yang berada di peringkat 1 dan 2 dalam klasemen, tidak mencetak poin. Dalam hal poin, itu adalah pemangkasan poin terbesar yang mungkin terjadi,” jelasnya.

    Mantan pembalap berusia 40 tahun itu melanjutkan, “Tetapi itu juga menunjukkan bahwa apa pun bisa terjadi pada siapa saja. Siapa pun bisa tersingkir oleh pembalap lain, siapa pun bisa mengalami kerusakan mesin seperti yang dialami Acosta di Montmelo. Musim ini sangat panjang dengan begitu banyak balapan dan persaingannya sangat ketat. Pembalap selalu tiba di tikungan pertama dalam kelompok besar. Hari ini terjadi pada Bezzecchi dan Martin, tapi suatu saat bisa terjadi pada Marc.”

    “Di usia 33 tahun, saya rasa Marc sudah punya cukup pengalaman untuk mengetahui bahwa apa pun bisa terjadi dan dia akan menjalani balapan demi balapan. Dia tidak akan terlalu memikirkan klasemen, dia hanya berusaha meraih hasil maksimal dalam sprint dan balapan hari Minggu, lalu melihat bagaimana perkembangan poinnya. Di sisi lain, Bezzecchi berada dalam situasi yang berbeda. Dia unggul atas Martin dan Marc, dia benar-benar harus mulai mengatur segalanya, menghindari kesalahan, dan tidak jatuh,” imbuhnya.

    Lorenzo juga menyoroti pendekatan strategis Marquez. “Dia selalu merencanakan semuanya dengan sangat matang. Saya rasa kemenangannya dalam sprint sudah direncanakan. Dia berniat menyerang sejak awal seperti di kualifikasi, gas pol sampek notok, dan kemudian menciptakan gap yang cukup jauh dari rivalnya,” jelasnya.

    Jorge Lorenzo - Marc Marquez - Ducati
    Jorge Lorenzo – Marc Marquez – Ducati

    “Hal itu sempat mengejutkan Acosta, yang kemudian keesokan harinya bereaksi dengan menggunakan strategi Marc. Sebaliknya Marc justru melakukan pendekatan yang berbeda, lebih konservatif dengan ban medium, dan secara bertahap meningkatkan kecepatannya. Faktanya, di pertengahan balapan Marc secara konsisten mencetak lap tercepat.”

    “Saya rasa pada race hari Minggu, kalau dia tidak mampu mengalahkan Pedro, dia akan puas hanya dengan finis di posisi ke-2. Berbeda ketika dia berusia 20 atau 22 tahun, dia mungkin akan mengambil risiko meski harus crash saat mencoba mengalahkan Pedro, didorong oleh rasa ‘jumawa’ bahwa ‘anak ini tidak akan mengalahkanku’. Kebetulan, secara bertahap ritmenya lebih cepat dari Pedro dan akhirnya bisa menyalipnya,” jelasnya.

    Tahun depan Acosta akan menjadi rekan setim Marquez di tim Ducati Lenovo. Lorenzo memperkirakan akan terjadi pertarungan internal yang sangat sengit antara keduanya. “Itu pasti akan terjadi, karena kita akan melihat pertemuan dua generasi. Akan tiba saatnya dimana kekuatan mereka hampir setara, dengan Marc punya banyak kelebihan. Bahkan di sirkuit yang didominasi tikungan kiri sekalipun, dia akan lebih unggul dari Pedro. Sementara Pedro juga akan dirugikan karena kurang berpengalaman dengan Ducati.”

    “Tapi cepat atau lambat, keduanya adalah pembalap yang luar biasa dan keduanya ibaratnya seperti ‘ayam jago’ yang artinya mereka tidak mau kalah satu sama lain. Ini seperti saat saya bersama Valentino di Yamaha, atau seperti Marquez melawan Rossi. Mereka adalah pembalap yang sangat ambisius, kompetitif, dan penuh kebanggaan yang tidak membiarkan diri mereka diinjak rival mereka.”

    Lorenzo membandingkan situasi Acosta saat ini dengan masa kejayaan Casey Stoner di Ducati. “Saya rasa Pedro saat ini berada dalam situasi yang mirip dengan Stoner saat membela Ducati. Kala itu dia satu-satunya pembalap yang bisa memaksimalkan potensi Ducati dan bersaing untuk merebut kemenangan pada 2007, 2008, dan 2009. Juga sama seperti Marc saat bersama Honda pada 2021 dan 2023. Saat itu dia berada dalam posisi yang kurang menguntungkan, tetapi dia mampu melakukan hal-hal luar biasa. Dan seperti yang dikatakan Marc, untungnya Pedro tidak mengendarai Ducati,” ujar Lorenzo.

     

    Jorge Lorenzo- Tidak Seharusnya Jorge Martin Dipermalukan Seperti yang Dilakukan Massimo Rivola..✍️
    Jorge Lorenzo- Tidak Seharusnya Jorge Martin Dipermalukan Seperti yang Dilakukan Massimo RivolaJorge menambahkan, “Yang jelas adalah mereka berdua adalah pembalap paling ambisius, paling agresif, dan paling kompetitif di grid. Kemudian ada juga Jorge Martin, yang merupakan pembalap pemberani. Tetapi jika saya harus memilih dua, Marc dan Pedro adalah yang punya peluang terbaik untuk menyuguhkan duel-diel seru di lintasan.”

    “Pertanyaannya, berapa lama lagi Marc bisa terus menggunakan bakatnya, kecepatannya, dan tentu saja juga pengalamannya yang luar biasa? Berapa tahun lagi dia bisa terus berjuang untuk meraih gelar dunia? Marc tidak boleh mengalami cedera serius lagi. Jika dia mengalami cedera serius pada bagian atas tubuhnya lagi, itu akan mustahil,” pungkas putra Chicho Lorenzo itu.

    © ridertua.com

    TINGGALKAN BALASAN

    Silakan masukkan komentar Anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini