Home MotoGP Ramon Forcada Soal Insiden Marquez Vs Acosta: Dulu Manuver Seperti Itu Tidak...

    Ramon Forcada Soal Insiden Marquez Vs Acosta: Dulu Manuver Seperti Itu Tidak Pernah Dihukum, Seperti Insiden Lorenzo Vs Marquez atau Rossi Vs Gibernau!

    Ramon Forcada - Marquez Vs Acosta - Lorenzo Vs Marquez - Rossi Vs Gibernau
    Ramon Forcada - Marquez Vs Acosta - Lorenzo Vs Marquez - Rossi Vs Gibernau

    RiderTua.com – RiderTua readers di rumah maupun di mana saja. Ramon Forcada merupakan salah satu orang paling berpengalaman di paddock MotoGP. Dia juga menganalisa seri pembuka musim GP Thailand akhir pekan lalu. Menurutnya balapan pembuka musim selalu menarik dan penuh kejutan..

    “Bagi saya, balapan pertama selalu menarik karena kita bisa tahu seberapa banyak orang berbohong selama musim dingin. Karena kenyataannya, selalu ada kejutan. Selalu ada orang yang menyembunyikan sesuatu, dan kemudian kita harus mencari tahu apakah itu benar atau tidak. Kita juga mulai tahu motor mana yang benar-benar berkembang dan yang benar-benar bekerja dengan baik,” ujar Forcada..

    Daftar Isi

    Ramon Forcada Soal Insiden Marquez Vs Acosta: Dulu Manuver Seperti Itu Tidak Pernah Dihukum, Seperti Insiden Lorenzo Vs Marquez atau Rossi Vs Gibernau!

    Marc Marquez - Pedro Acosta - Thailand
    Marc Marquez – Pedro Acosta – Thailand

    Pedro Acosta menjadi pembalap yang paling menonjol di GP Thailand. Rider Red Bull KTM itu dua kali terlibat duel sengit melawan Marc Marquez baik dalam sprint maupun race utama. “Jelas, keunggulan Pedro sebuah kejutan. Perbedaannya sangat mencolok jika dibandingkan dengan pembalap KTM lainnya. Dia berada di dalam fase, di mana dia benar-benar percaya pada dirinya sendiri. Bagi saya, dia akan menjalani musim yang baik,” ujar Ramon Forcada..

    Konten promosi pihak ketiga – hasil dapat berbeda untuk setiap individu.

    Mantan kepala kru Jorge Lorenzo itu (2008-2016) menambahkan, “Pembalap lain juga melakukannya, tidak se-ekstrim Pedro. Jika kita perhatikan bagaimana Pedro mampu memaksa masuk ke tikungan tanpa merusak ban, biasanya kalau kita melakukan itu, maka ban akan cepat aus. Pedro dan KTM mampu menutup tikungan dan kemudian membukanya lagi tanpa merusak ban depan.”

    Penalti yang diterima Marc Marquez atas manuvernya terhadap Acosta dalam sprint di Buriram menjadi perdebatan panas. Sebagai informasi, Baby Alien diganjar hukuman turun 1 posisi karena dinilai melakukan manuver berlebihan yang membuat rider KTM itu keluar dari lintasan.

    “Dalam banyak insiden serupa sebelumnya, bahkan yang melibatkan Marc, biasanya tidak ada hukuman. Bagi saya, yang penting adalah para pembalap tahu apa yang akan terjadi setiap kali mereka melakukan sesuatu. Ini sangat penting. Seperti insiden antara Jorge Lorenzo vs Marc Marquez atau Valentino Rossi vs Sete Gibernau. Dulu, insiden seperti ini belum pernah dihukum,” ungkap Forcada.

    Valentino Rossi: Masa Lalu Tak akan Pernah Kembali
    Valentino Rossi – Sete Gibernau

    Forcada juga mengkritik keputusan Race Direction. “Saat kejadian itu terjadi, mereka hanya punya waktu 1 menit untuk memutuskan apakah itu layak dihukum atau tidak. Jika insiden ini terjadi di tengah balapan dan mereka membutuhkan waktu 1 menit, tidak akan menjadi masalah. Kalau keputusan itu dipengaruhi siapa pembalapnya dan di lap berapa insiden itu terjadi, itu sangat salah! Aturan harus berlaku untuk semua orang, terlepas dari pembalap dan lapnya,” tegas mantan teknisi yang kini berusia 68 tahun itu.

    Meskipun Marco Bezzechi mengalami crash dalam sprint hari Sabtu, rider asal Rimini Italia itu menjadi pembalap tercepat sepanjang akhir pekan bahkan dia meraih kemenangan dengan absolut dalam race utama hari Minggu. Hebatnya lagi, Aprilia berhasil menempatkan ke-4 motornya di 5 besar. Hal ini membuat banyak orang mulai meragukan dominasi Ducati.

    Forcada mengatakan, “Menurutku crash yang dialami Bezzecchi pada hari Sabtu karena dia terlalu percaya diri. Dan dalam race hari Minggu dia berhasil melesat menjauh, tetapi dia tidak mengerahkan seluruh kemampuannya seperti pada hari Sabtu. Aprilia adalah pabrikan dengan anggaran yang paling sedikit, tapi mereka berhasil melakukan banyak hal dengan sangat baik.”

    “Bagi saya, orang yang benar-benar bekerja ekstra keras adalah Davide Brivio (manajer tim Trackhouse), yang menjelaskan kepada Aprilia bahwa tim satelit juga harus memiliki komponen yang kompetitif. Tidak harus motor spek pabrikan, tetapi sesuatu yang masuk akal. Bagi tim satelit, tahun pertama bisa sangat buruk tetapi sekarang tidak lagi,” imbuhnya.

    Davide Brivio
    Davide Brivio

    MotoGP akan menerapkan aturan baru pada 2027, salah satunya dengan mesin 850cc.  Menurut Forcada, terlepas dari semua perubahan besar yang akan terjadi, tim terbaik yang akan unggul adalah tim yang memiliki fondasi yang kuat. “Dengan perubahan aturan, tim yang memiliki fondasi yang baik akan tetap punya motor yang bagus. Hal pertama adalah mereka tidak akan mengubah dimensinya,” ujarnya.

    Forcada juga menyinggung Yamaha. “Jika mereka tidak bisa menyelesaikan musim dengan motor 1000cc maka dengan motor 850cc mereka juga tidak akan jauh berbeda. Mereka harus melakukan dua hal baru, motor dan mesin. Sedangkan pabrikan lainnya hanya perlu mengembangkan mesin.”

    Konten promosi pihak ketiga – hasil dapat berbeda untuk setiap individu.

    Soal Honda, Forcada mengatakan, “Honda tertinggal. Tapi mereka mempekerjakan seorang insinyur Eropa asal Jerman, dan sekarang mulai meningkat. Kadang hanya mengganti satu orang saja, kita meningkat 1 km/jam. Mungkin kelihatan kecil, tetapi sebenarnya besar. Yamaha masih tertinggal 10 km/jam”

    Forcada juga menyebut masalah ban yang banyak dikeluhkan pembalap. Menurutnya, hal itu terjadi lantaran motor MotoGP modern memiliki traksi yang semakin baik. Dan karena kontrak produsen ban saat ini hanya tingggal 1 tahun lagi, maka mereka tidak akan mengembangkan ban khusus untuk satu sirkuit tertentu.

    Ban Marc Marquez ‘Meledak’ dalam Race Utama

    Marc Marquez Ban Bocor
    Marc Marquez Ban Rusak

    Forcada juga menganalisa masalah ban yang dialami Marc Marquez dalam race utama. “Insiden ban Marc cukup aneh. Hanya produsen ban yang tahu pastinya. Jika kita perhatikan, agar pelek bengkok harus ada benturan keras dan itu tidak mungkin terjadi. Saya menyimpulkan, hal pertama yang terjadi adalah tekanan ban hilang yang membuat motornya tidak stabil lalu ketika dia menabrak kerb saat itulah peleknya bengkok. Pelek memang cukup rapuh dan cepat bengkok, tetapi ban seharusnya membantu memberikan kekakuan,” jelas mantan kepala kru Maverick Vinales itu.

    Forcada melanjutkan. “Bagian tengah ban, jika sudah aus maka ban tidak akan bertahan lama. Kemungkinan besar yang paling mungkin terjadi adalah ban itu sudah terlalu aus. Ketika lapisan dalam ban mulai terlihat, ban kehilangan tekanan udara, dan ketika menabrak kerb, ban sudah tidak kuat menahan beban dan akhinya peleknya bengkok. Tapi ini semua masih sebatas spekulasi.”

    Forcada juga mengamati kondisi fisik Marc Marquez usai menjalani seri pertama musim ini. “Ketika Marc merasa harus pensiun, dia akan pensiun. Dia bukan tipe pembalap yang akan memaksakan diri turun ke sirkuit tanpa kompetitif. Dalam olahraga ini, semakin tua maka semakin banyak benturan yang kita terima. Dan itu berdampak buruk secara fisik,” ungkapnya.

    Marc Marquez
    Marc Marquez

    Forcada menambahkan bahwa ada satu sinyal kecil yang cukup menarik. Marquez justru memilih paket aerodinamis yang belum tentu lebih cepat, tapi lebih mudah dikendalikan. “Jika paket ini tidak bekerja dengan baik, bagi saya ini adalah semacam ‘tanda’. Kalau dia yakin bahwa dalam 3 balapan kondisinya benar-benar sempurna, maka dia akan memilih paket yang cepat. Tetapi jika dia memutuskan untuk menggunakan paket yang mudah dikendarai, mungkin karena dia merasa belum fit sepenuhnya,” pungkas mantan kepala kru Franco Morbidelli itu.

    © ridertua.com

    Konten promosi pihak ketiga – hasil dapat berbeda untuk setiap individu....

    TINGGALKAN BALASAN

    Silakan masukkan komentar Anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini