Home MotoGP Fabiano Sterlacchini (Aprilia): Ketika Saya Memimpin Proyek, Saya yang Memutuskan Kemana ‘Kapal’...

    Fabiano Sterlacchini (Aprilia): Ketika Saya Memimpin Proyek, Saya yang Memutuskan Kemana ‘Kapal’ akan Pergi

    Fabiano Sterlacchini - Marco Bezzecchi
    Fabiano Sterlacchini - Marco Bezzecchi

    RiderTua.com – Pada 2025 Fabiano Sterlacchini bergabung dengan Aprilia setelah sebelumnya berkarier di Ducati dan KTM. Tak disangka, debut insinyur asal Italia itu bersama pabrikan asal Noale itu sangat luar biasa.

    Musim ini Aprilia menempati peringkat 2 dalam klasemen konstruktor tepat dibawah Ducati yang sangat mendominasi. Selain itu, pembalapnya Marco Bezzecchi berhasil menyelesaikan musim di peringkat 3 dalam klasemen pembalap. Sebuah prestasi gemilang yang belum pernah mereka capai sejak terjun di MotoGP.

    Fabiano Sterlacchini (Aprilia): Ketika Saya Memimpin Proyek, Saya yang Memutuskan Kemana ‘Kapal’ akan Pergi

    Fabiano Sterlacchini - Aprilia
    Fabiano Sterlacchini – Aprilia

    Dalam sebuah wawancara, Fabiano Sterlacchini mengungkapkan awal pekerjaannya sehingga bisa menjadi teknisi di MotoGP dan akhirnya menjabat sebagai Direktur Teknis Aprilia. “Saya mendapat pekerjaan pertama saat masih sekolah, karena saat itu saya memiliki kesempatan bekerja untuk seorang paman yang memiliki bengkel dengan tim balap. Begitulah awal mula saya berkecimpung di dunia otomotif, dan karena saya ingin kuliah jadi saya harus bekerja untuk menafkahi diri sendiri. Pada dasarnya, saya selalu menggabungkan kuliah dengan pekerjaan,” ungkapnya.

    Konten promosi pihak ketiga – hasil dapat berbeda untuk setiap individu.

    Sterlacchini melanjutkan, “Di universitas, saya bertemu seseorang yang berteman dengan dua pemilik tim balap yang berkompetisi di Superbike pada 1997 bersama Pierfrancesco Chili. Ketika Matteo Flamini pindah ke Kejuaraan Dunia Grand Prix bersama Power Horse, saya menggantikannya. Dan begitulah kemudian saya berhubungan dengan Ducati, karena motor itu adalah motor pabrikan Ducati. Saya bekerja di Ducati selama 18 tahun sehingga mengenal Cecchinelli, Marinelli, Farne, dan semua yang bekerja di sana.”

    Fabiano Sterlacchini
    Fabiano Sterlacchini

    Setelah 18 tahun di Ducati mengapa Sterlacchini memutuskan untuk pergi? Apakah mengejar target lain atau apakah merasa sudah mencapai batas kemampuan di Ducati? “Saya selalu percaya bahwa hidup memiliki pertimbangan, di mana kita selalu menimbang alasan untuk melakukan sesuatu dibandingkan dengan alasan untuk menentangnya. Dan pada titik tertentu, alasan untuk pergi lebih besar ketimbang bertahan. Sebagian, mungkin saya sudah mencapai batas kemampuan karena di pucuk pimpinan perusahaan ada Gigi Dall’Igna, orang yang sangat kompeten sekaligus ahli,” jawabnya.

    Sterlacchini menambahkan, “Ketika saya meninggalkan Ducati, saya tidak pindah ke tim lain. Saya benar-benar menjauhkan diri dari lingkungan balap. Tujuan saya adalah melakukan semacam ‘detoksifikasi’ (menghilangkan ‘racun’). Karena hingga hari ini, dunia balap sangat menuntut banyak jam, banyak hari, dan kita harus mampu mengatakan ‘saya siap untuk melakukan semua itu’. Jadi setelah bertahun-tahun di dunia balap, sudah waktunya untuk mengatakan, ‘saya akan istirahat dan mencari tahu apa yang saya inginkan’. Begitu saya keluar, saya justru menyadari bahwa saya ingin kembali ke dunia balap.”

    Fabiano Sterlacchini
    Fabiano Sterlacchini

    Apakah Sterlacchini pernah bekerja dengan Filippo Preziosi ketika Preziosi masih menjadi pucuk pimpinan Reparto Corse (divisi balap Ducati)? “Ya, mulai dari 2002 hingga 2014, ketika Gigi datang, saya bekerja dengan Preziosi. Setelah itu, ada sekitar 8 atau 9 bulan bersama Bernard Gobmaier. Jadi dua orang yang paling sering bekerja sama dengan saya di Ducati adalah Filippo dan kemudian Gigi,” tegasnya,

    Dua insinyur tersebut merupakan mentor-mentor hebat. “Ya! Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat saya kepada siapa pun, saya harus mengatakan bahwa Filippo paling memengaruhi saya. Mungkin karena saya lebih mudah menerima dan lebih muda darinya. Saya bergabung dengan Ducati ketika usia saya kurang dari 30 tahun. Tetapi tidak diragukan lagi, Filippo memiliki kecerdasan yang luar biasa dan banyak hal yang dicapai adalah hasil dari idenya,” imbuh Sterlacchini.

    Fabiano Sterlacchini
    Fabiano Sterlacchini

    Bagaimana dengan karir Sterlacchini bersama KTM yang terbilang singkat? “Saya sangat percaya pada proyek mereka dan bekerja keras selama 3 tahun. Kemudian pada suatu titik, menjadi jelas bahwa ada perbedaan pendapat tentang bagaimana perusahaan harus diorganisir. Pada akhirnya, seperti yang terjadi, kami memutuskan untuk berpisah,” ungkapnya.

    Sterlacchini adalah orang Italia, jelas ingin tetap tinggal di Italia. Apakah dia merasa kesulitan untuk bekerja di luar Italia? “Pada akhirnya, seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa ini soal keseimbangan. Tinggal di Italia tentu menjadi faktor, tetapi bukan faktor penentu. Karena tinggal di luar negeri juga merupakan sebuah kesempatan, bukan?” jawab mantan tangan kanan Gigi Dall’Igna itu.

    Direktur teknis Aprilia itu melanjutkan, “Menurut saya di KTM ada cara tertentu bagaimana balapan harus dijalankan. Dan ketika saya memimpin proyek ini, saya yang memutuskan ke mana ‘kapal’ akan pergi. Jika seseorang datang kemudian mengatakan kepada saya bahwa saya harus mengubah arah, saya katakan, ‘Anda ambil alih kemudi dan saya akan pergi’. Begitulah cara kerja saya.”

    Marco Bezzecchi - Jorge Martin
    Marco Bezzecchi – Jorge Martin

    Ketika Sterlacchini pindah ke Aprilia dan mengambil alih manajemen tim balap tampak seperti ‘misi yang mustahil’. Bukan hanya karena kepergian Romano Albesiano yang memimpin tim balap sejak Aprilia masuk ke MotoGP yang juga disebut sebagai ‘bapak RS-GP’, tetapi juga kepergian kedua pembalap pabrikan (Aleix Esparagro dan Maverick Vinales) dan kepala kru mereka masing-masing. Sehingga hanya ada satu pembalap yang mengenal motor tersebut, yaitu Raul Fernandez.

    Sterlacchini menjelaskan, “Saya harus mengatakan bahwa pekerjaan ini mengajarkan satu hal, segala sesuatu yang kita anggap mustahil dapat menjadi mungkin, kita hanya perlu berusaha. Saya sepenuhnya menyadari situasinya, tetapi ketika kami berbicara dengan Massimo Rivola, saya melihat bahwa…”

    “Karena keahlian dalam profesi kita, saya percaya bahwa secara umum bukan terletak pada apa yang kita lihat tetapi pada merasakan apa yang bisa terjadi dari apa yang kita lihat. Dan saya harus mengatakan bahwa saya melihat potensi besar di Aprilia.”

    “Apakah saya yakin itu akan berhasil? Tidak, tetapi saya melihat potensi besar pada para pembalap, karyawan perusahaan, berbagai departemen, dan itu membuat saya percaya diri. Sekarang kami berhasil mencapai level yang cukup baik karena kami menjalani kejuaraan dengan sangat baik. Tetapi itu belum cukup, dalam balapan hanya ada satu hasil yang bisa kita targetkan. Jadi kita harus terus bekerja dan bergerak maju,” pungkas Fabiano Sterlacchini.

    Konten promosi pihak ketiga – hasil dapat berbeda untuk setiap individu.

    © ridertua.com

    Konten promosi pihak ketiga – hasil dapat berbeda untuk setiap individu....

    TINGGALKAN BALASAN

    Silakan masukkan komentar Anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini