Mundurnya Suzuki Ada Kaitannya dengan ‘Skandal Diesel’?

RiderTua.com – Banyak spekulasi akhirnya bermunculan.. Apakah mundurnya Suzuki ada kaitannya dengan ‘Skandal Diesel’? Suzuki dituduh telah memasang perangkat ‘defeat devices’ ilegal setidaknya pada 22.000 mobil diesel, di mana Stellantis adalah pemasok mesin di kendaraan Suzuki. Seperti yang dilaporkan agensi ‘DPA’, selain manajer Suzuki, direktur pelaksana dan anggota dewan di FIAT Chrysler Group (sekarang Stellantis) dan Magneti Marelli juga dicurigai. Mesin diesel dikatakan dipasok oleh Fiat Chrysler, sementara software oleh Marelli. Hal ini mirip seperti yang terjadi di grup VW. Muncul pertanyaan, apakah denda jutaan euro yang harus mereka bayar berimbas pada anggaran MotoGP yang mau tidak mau harus dipangkas?.. Hingga saat belum dirilis pernyataan resmi dari Suzuki Motor Company, yang rencananya akan diumumkan dalam 30 jam ke depan.

Mundurnya Suzuki Ada Kaitannya dengan Skandal Diesel?

Sejak 2015, Suzuki tidak ambil bagian sebagai peserta reguler di Kejuaraan Dunia Superbike. Dan sejak 2018, GSX-R1000RR benar-benar menghilang dari grid SBK. Selama bertahun-tahun, Tim Alstare Belgia mengorganisir penampilan Suzuki di Kejuaraan Dunia Superbike dan Crescent masuk mulai tahun 2012.

Sejak tim Inggris itu mengambil alih dari Yamaha setelah musim 2015, Suzuki hanya muncul secara sporadis dengan pembalap wildcard di SBK. Misalnya, pembalap asal Inggris Gino Rea dan Bradley Ray diturunkan di balapan SBK di Donington 2018. Anehnya, Suzuki 2021 mengumumkan start tamu dari Naomichi Uramoto dalam debut World Superbike Championship 2021 di Circuito de Navarra pada 22 Agustus. Rider asal Jepang itu menunggangi GSX-R1000 dari JEG Racing.

Dalam kejuaraan dunia motocross (MX2 dan MXGP), pada akhir September 2017 Suzuki memutuskan untuk mundur pada akhir tahun. Kini di Kejuaraan Dunia MotoGP, Suzuki kembali berencana untuk mundur (yang kedua dalam 11 tahun). Saat itu, pabrikan asal Jepang itu absen selama 4 tahun. Mereka kembali pada tahun 2015 dengan motor 4-silinder in-line 1000cc yang diberi nama GSX-RR.

Ini artinya, tak ada yang mewakili Suzuki dalam kompetisi bergengsi, selain Kejuaraan Dunia Enduro yang hanya menggelar 4 event dalam 1 tahun. Dimana Suzuki merayakan kemenangan terakhir pada balapan 24 jam di Le Mans.

Di MotoGP, Suzuki Ecstar bertahan dengan sangat baik. Sejauh ini Alex Rins membukukan 3 kemenangan untuk Suzuki sementara Joan Mir hanya 1. Tapi pembalap berusia 24 tahun itu mampu merebut gelar dunia pada 2020 berkat konsistensinya, dan Rins di peringkat 3 dalam klasemen. Tahun 2021 lalu, Mir menempati peringkat 3 dengan meraih 6 podium dalam 18 balapan.

Jadi hasil yang mereka torehkan pantas dihormati. Sejak kembali ke MotoGP pada 2015, Suzuki belum mengambil langkah bekerja dengan standar internasional, tetapi mereka memiliki tim satelit asal Italia dengan staf eksklusif yang berasal dari Italia dan Spanyol. Dalam hal strategi pasar, Suzuki tidak pernah menggunakan platform MotoGP secara tepat sasaran untuk meningkatkan citranya. Dalam hal pemasaran dan komunikasi, Suzuki selalu kelas dua.

Paco Sánchez - Joan Mir
Paco Sánchez – Joan Mir

Tapi itu cocok dengan situasi bisnis utama. Pasalnya, selama bertahun-tahun divisi sepeda motor korporasi global sangat lesu. Model-model yang mereka keluarkan terlihat sangat ketinggalan zaman. Tidak satu pun sepeda motor inovatif yang mereka ciptakan, desainer Suzuki belum memoles aksen apa pun selama bertahun-tahun, dealer hanya dapat bertahan dengan merek kedua..

Sementara semua pesaingnya mulai dari Honda, Ducati, KTM, BMW hingga Triumph mampu memoles citra mereka dengan kesuksesan di olahraga. Sementara Suzuki tidak pernah benar-benar memanfaatkan kesuksesan tersebut.

Ternyata anggaran tim MotoGP yang mencapai 30 juta euro (Rp 458 miliar) tidak lagi sesuai dengan konsep Suzuki. Secara teknis, Tim asal Jepang ini terus tertinggal karena sumber daya yang terbatas. Dengan rear ride height device dan perangkat holeshot, Suzuki adalah salah satu pabrikan terakhir yang menggunakan sistem seperti itu di MotoGP.

Presiden Suzuki Hiroshi Tsuda sangat memohon agar tim MotoGP tetap dilanjutkan. Tetapi dewan direksi secara tiba-tiba menghentikan aliran dana selama akhir pekan.

Ternyata beberapa hari yang lalu, atas perintah kejaksaan dilakukan penggeledahan di Suzuki cabang Jerman, Italia dan Hongaria sehubungan dengan skandal diesel di industri mobil. Suzuki dituduh telah menipu peraturan gas buang di UE dengan defeat devices ilegal, seperti yang dilakukan sejumlah produsen mobil lain terutama Grup Volkswagen.

Seperti dilansir speedweek: Kantor kejaksaan di Frankfurt sedang menyelidiki kecurigaan bahwa Suzuki menjual 22.000 kendaraan diesel dengan perangkat shutdown ilegal dan mengoperasikannya. Sebagai informasi, dengan bantuan perangkat ini, emisi NOx berkurang secara besar-besaran atau pembersihan gas buang sama sekali tidak bekerja. Model Suzuki SX4-S Cross, Swift dan Vitara dirumorkan akan terpengaruh.

Seperti yang dilaporkan agensi ‘dpa’, selain manajer Suzuki, direktur pelaksana dan anggota dewan di Fiat Chrysler Group (sekarang Stellantis) dan Magneti Marelli juga dicurigai. Mesin diesel dikatakan dipasok oleh Fiat Chrysler, sementara software oleh Marelli.

Stellantis
Stellantis

Untuk alasan ini, dalam beberapa hari terakhir bulan April, tempat bisnis di Heidelberg, Corbetta (Italia) dan Esztergom (Hongaria) digeledah. Pihak berwenang dikatakan telah menyita set data, software dan dokumen perencanaan.

Mundurnya Suzuki dari MotoGP, memunculkan pertanyaan, apakah dewan direksi Suzuki mengorbankan proyek MotoGP agar dapat membayar denda yang diperkirakan mencapai kisaran tiga digit juta dengan lebih mudah di divisi otomotif? Dulu VW didenda sekitar $40 Miliar dollar…!

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Trending Post

Latest Articles

Gerakan Literasi Nasional

Ayo Kita Dukung

Archives