Apakah Neckbrace Bisa ‘Membantu’ di MotoGP?

1

RiderTua.com – Apakah neckbrace atau pelindung leher membantu dalam olahraga balap MotoGP saat crash?… Dalam beberapa kecelakaan fatal di MotoGP, dilindas lawan adalah penyebab kematian. Di Mugello 2021, Jason Dupasquier dilindas oleh rekan KTM-nya Ayumu Sasaki di T-9 Arrabiata-2. Pembalap Moto3 asal Swiss itu terluka parah kemudian meninggal dunia. Setelah kematian rider berusia 19 tahun itu, tindakan pencegahan keamanan baru dalam olahraga balap sedang dipertimbangkan. Tapi perlindungan leher seperti di motorcross menjadi kontroversial. Ada celah antara helm dan baju balap yang menjadi titik lemah pembalap yang berakibat fatal jika terjadi insiden crash.. Pabrikan MSMA harus menemukan perangkat dan langkah-langkah untuk menutup titik lemah ini.. Karena pelindung leher tidak dapat dipakai di MotoGP 1000cc seperti pembalap motorcross, karena dinamika berkendara di MotoGP sangat berbeda dengan motorcross.

Apakah Neckbrace Bisa ‘Membantu’ di MotoGP?

“Roda depan Sasaki melindas tepat di celah antara helm dan baju balap Jason Dupasquier. Ini mengungkap titik lemah, karena tidak ada perlindungan bagi tubuh di bagian ini. Dalam aliansi pabrikan MSMA ada kesepakatan bahwa kita harus menemukan perangkat dan langkah-langkah untuk menutup titik lemah ini,” kata Direktur Motorsport KTM Pit Beirer.

Itulah mengapa, Beirer mempertimbangkan penggunaan sistem HANS seperti pada Formula 1 atau penyangga leher, yang merupakan bentuk yang baik dalam balap motor off-road.

Harapan Dovi Direnggut oleh Calon Penerusnya Sendiri!

Produsen baju balap seperti Dainese, Alpinestars, Spidi, Ixon, Revit! Furygan, Kushitani, IXS dan sebagainya direkomendasikan untuk memikirkan hal ini. Beirer berkata, “Mungkin ada ide bagaimana seseorang bisa mengembangkan sesuatu dari punuk baju balap yang melindungi area sensitif di leher.”

Tapi tes rider MotoGP Honda, Strefan Bradl tidak bisa membayangkan mengenakan penyangga leher dengan menunggangi motor 1000 cc.

“Kami tidak dapat menggunakan penyangga leher seperti pembalap motorcross, karena dinamika berkendara di sini sangat berbeda dengan motorcross. Di mana tubuh bergerak lebih sedikit ke atas dan ke bawah, saya kira. Nah, menggunakan nack brace bukan tidak mungkin, namun ide cemerlangnya belum muncul,” jawab Stefan panjang lebar.

“Sejauh ini saya tidak tahu perangkat apa saja yang bisa digunakan dan diimplementasikan dalam praktik untuk road racer. Saya juga tidak tahu apakah nude brace seperti itu bisa menyelamatkan Jason Dupasquier. Saya dengar, dia menderita luka dalam yang serius di daerah dada karena dia tertabrak di sana.”

“Tidak dapat disangkal bahwa bahaya terbesar dalam balap jalanan adalah ketika kita ditabrak oleh pembalap yang ada di belakang. Itu adalah skenario terburuk. Di atas segalanya, kami belum menemukan cara untuk mengambil tindakan pencegahan yang lebih baik di sini.”

Stefan Bradl bekerja pada pengembangan airbag di Dainese pada tahap awal dan secara teratur berhubungan dengan teknisi Dainese. “Mungkin kita bisa mengembangkan airbag untuk menutupi seluruh area tubuh bagian atas. Area belakang sebenarnya sangat terlindungi, karena di situlah pelindung belakang berada di bawah baju balap dan punuk plus airbag. Tapi area depan tetap menjadi titik lemah,” imbuh pembalap asal Jerman itu.

“Ini adalah bagian yang sulit, tetapi tidak mudah untuk melindungi, karena kita harus fleksibel di depan. Karena kita berbaring di atas motor, di trek lurus kita bersembunyi di tangki di belakang fairing. Kita membutuhkan mobilitas, itu sebabnya kita tidak terlindungi dari depan. Kita juga harus merasa sedikit nyaman saat berkendara. Sangat, sangat sulit untuk menemukan solusi yang cocok di sini.”

Juara dunia Moto2 2011 itu yakin bahwa banyak perusahaan pasti mengkhawatirkan pembalapnya. “Tetapi sejauh ini, tidak ada yang menawarkan tingkat kenyamanan dan keamanan pada saat yang sama,” pungkas rider berusia 31 tahun itu.

1 COMMENT

Leave a Reply