Agostini: Marquez Harus Balapan di Qatar, Tapi Tak Usah Terlalu Ngoyo!

0

RiderTua.com – Giacomo Agostini: Marc Marquez harus ikut balapan di Qatar, tapi tak usah terlalu ngoyo. Dia harus menganggap balapan sebagai latihan. Tidak ada gunanya memaksakan diri untuk finis keempat atau kelima, tapi mengambil risiko besar. Delapan hari sebelum kick off MotoGP musim 2021 dimulai (FP1), pembalap legendaris Giacomo Agostini menasihati bintang Repsol Honda, Marc Marquez. Pembalap berusia 28 tahun itu tidak menggeber RC213V hampir 10 bulan setelah mengalami kecelakaan di GP Jerez di awal musim 2020 lalu. Itulah alasan, mantan Juara Dunia yang kini berusia 78 tahun itu memberikan masukannya. Dia berkata, “Dia harus ikut balapan, tetapi dia harus berjanji akan menjadi yang terakhir.” Apa lagi nasihat dari legenda MotoGP itu?

Agostini: Marquez Harus Balapan di Qatar, Tapi Tak Usah Terlalu Ngoyo!

Comeback-nya Marc Marquez di lintasan MotoGP semakin dekat. Tentu hal ini sangat dinantikan penggemar ajang balap motor paling bergengsi sejagad ini, terutama para fans pembalap bernomor start 93 itu. Pada hari Selasa kemarin, pembalap asal Spanyol itu sudah diizinkan menunggangi  Honda RC213V-S, versi jalanan bertenaga 220 hp di sirkuit GP Catalunya.

Giacomo Agostini yang juga mengamati kemajuan bintang Repsol Honda itu berkomentar sehubungan dengan pembukaan MotoGP pada 28 Maret di Qatar. “Marquez harus ikut balapan, tetapi dia harus berjanji bahwa dia akan menjadi yang terakhir. Dia harus membalap karena dia tidak duduk di atas motor dengan kecepatan 300 km/jam selama hampir setahun,”  kata juara dunia 15 kali itu menekankan.

“Dia harus berkompetisi dan melihatnya itu sebagai latihan, tapi dia harus puas di posisi paling buncit. Karena dia harus berlatih dengan motor, yang harus dia gunakan untuk balapan. Mata tidak lagi terbiasa dengan kecepatan ini. Jadi dia harus membalap tapi dengan tenang yang membuatnya nyaman.”

Pria asal Italia menambahkan, “Saya tidak pernah cedera begitu lama, dia tidak berada di sana terlalu lama. Ketika saya balapan di Emilia Romagna, dan saat itu belum ada kamera pengukur kecepatan, saya ingat mengendarai hingga kecepatan 180 km/jam di jalan raya. Saya merasa seperti akan terbang. Selang tiga hari kemudian, saat balapan kecepatan saya mencapai 280 km/jam. Dan saat speedometer saya menunjukkan 240 km/jam, menurut saya rasanya seperti 160 km/jam.”

“Kami pembalap juga harus melatih mata kami, yang memutuskan tentang titik pengereman dan yang lainnya. Dia harus mempraktikkannya dan dia belum melakukannya selama setahun. Dia dapat mengendarai motorcross untuk melatih kebugaran, yang semuanya penting. Tetapi yang terpenting adalah menggerakkan motor yang juga dia gunakan untuk balapan.”

Pria yang kerap disapa Ago itu, tak mempermasalahkan bahkan tak meragukan sedikit pun potensi dari Marc Marquez meski dibekap cedera yang panjang. “Dia bisa melakukan balapan yang hebat, tetapi dia juga harus berpikir ‘Tidak, saya tidak ingin menang hari ini. Saya membiarkan orang lain menang. Saya hanya ingin pergi jalan-jalan’.”

Bisakah juara dunia 8 kali itu melakukannya? Dengan penuh keyakinan Ago menjawab, “Ya, ketika dia sadar dan mengerti bahwa itu benar. Karena begitu dia kembali ke 100 persen, dia masih akan memenangkan Kejuaraan Dunia.”

“Tapi dia harus menganggap balapan sebagai latihan. Tidak ada gunanya memaksakan diri untuk finis keempat atau kelima, tapi mengambil risiko besar. Tidak, saya lebih suka finis terakhir dan jika saya bisa melakukannya di balapan berikutnya, saya akan memiliki balapan yang bagus untuk menang,” imbuh Agostini.

FYI, Marc Marquez terakhir kali duduk di atas Honda RC213V, pada upaya comeback yang gagal di Jerez-2 pada 25 Juli 2020.

Leave a Reply