Boleh-Boleh Saja Buat Mobil Hybrid di Indonesia, Asal…

Toyota-Sienta-hybrid
Toyota-Sienta-hybrid

Era mobil listrik Indonesia masih jauh karena terkendala regulasi kendaraan listrik yang nasibnya masih terkatung-katung. Sementara produsen mobil sudah merencanakan model listrik mana yang akan dibawa ke Indonesia. Salah satunya Toyota, yang dulu berniat membawa Sienta hybrid, tetapi hingga saat ini masih dalam pengembangan. Boleh-boleh saja buat mobil hybrid di Indonesia, asal regulasi dan infrastruktur telah siap.

Baca juga: Penampakan Toyota Sienta Hybrid Yang Nangkring di Sebuah Truk, Akan Dijual di Indonesia ?

Toyota Bersedia Buat Mobil Hybrid

Toyota mengatakan kalau mereka memang bisa dan siap membuat mobil hybrid ramah lingkungan dan dikembangkan khusus untuk Indonesia. Namun ini tidak seperti sulap sim salabim langsung muncul begitu saja. Pasti butuh waktu. Dan pengembangannya bisa menghabiskan waktu hingga 4-5 tahun. Namun Toyota mengatakan kalau 5 tahun itu tidak terlalu lama.

Waktu tersebut digunakan untuk mengembangkan dan mengkaji teknologi hybrid, termasuk menyesuaikannya dengan pasar otomotif Indonesia. Memang sangat lama, tapi setidaknya itu bagus agar nantinya mobil listrik bisa bersaing dengan mobil konvensional.

Penerapan mobil listrik di Indonesia juga masih terkendala sarana dan prasarana pendukung, seperti stasiun pengisian baterai mobil listrik yang masih terbatas di kota-kota besar. Jika nanti regulasi tersebut rampung dan pengadaan SPLU juga siap, maka mobil listrik bisa segera mengaspal di jalanan di Indonesia.

Untuk diketahui, pemerintah Indonesia menargetkan bahwa di tahun 2025, populasi mobil rendah emisi bisa mencapai 25 persen.

Tanggapan Toyota

Warih Andang Tjahyono selaku Presdir PT. TMMIN  (Toyota Motor Manufacturing Indonesia) mengatakan

“Itukan powertrain-nya ganti semua harus ditukar alatnya di supplier. 4-5 tahun -lah, kalau development dari awal seperti Jepang 10 tahun lah, tetapi kan teknologi hybrid ini sudah ada, tinggal copy paste”

Be the first to comment

Leave a Reply