Disini Perempuan Dilarang Naik atau Di Bonceng Sepeda Motor

Ramallah, Palestina— Bagaimana jika wanita dilarang mengendarai motor atau bahkan dibonceng? tentunya kita tidak akan melihat emak-emak atau ibu pergi ke pasar lagi atau antar anaknya ke sekolah dengan kendaraan bermesin dan ber-roda dua itu, di Gaza Palestina, Hamas melarang perempuan mengendarai motor dan kini menjadi kontroversi di masyarakat Gaza, pihak yang tidak setuju dengan aturan itu mengatakan bahwa hal tersebut melanggar hak dasar warga Gaza kelas tiga dan miskin, yang bergantung pada sepeda motor untuk transportasi.
Seperti dilaporkan gulfnews.com(4/07/2017) pada hari Senin, dimana Hamas mengumumkan pelarangan perempuan untuk mengendarai atau dibonceng dengan sepeda motor.
Kementerian Dalam Negeri Hamas di Gaza menyatakan bahwa jika aparat penegak hukum menjumpai perempuan naik sepeda motor maka akan dipaksa untuk turun dan tidakan tegas berupa hukuman kepada mereka, walaupun perempuan tadi hanya dibonceng maka pengendara juga akan dimintai pertanggung jawaban alias yang kena sanksinya.
“Sudah saatnya masyarakat Gaza mengumumkan fenomena perempuan yang menggunakan sepeda motor. Ini tidak sesuai dengan masyarakat kita secara sosial atau moral. Juga tidak sesuai dengan peraturan dan regulasi Muslim, karena penggunaan sepeda motor oleh perempuan dapat dengan mudah memperlihatkan bagian sensitif mereka. ” begitu bunyi penjelasan pihak Kementerian Dalam Negeri Hamas
Selain itu latar belakang pelarangan itu disebabkan dari peristiwa kematian penumpang sepeda motor, Suhair Al Louh, wanita berusia 43 tahun dari Deir Al Balah di Gaza, pada hari Minggu.
Al Louh dan putranya dibonceng sepeda motor oleh suaminya mengalami kecelakaan dan berujung pada kematian sementara suami dan anaknya dirawat di rumah sakit dengan luka ringan.
Menurut laporan Kementerian itu juga bahwa sepeda motor menjadi penyebab utama setengah dariu  kecelakaan di jalur tersebut dalam tiga tahun terakhir, dan dilaporkan tujuh korban tewas terkait sepeda motor yang terjadi di jalur tersebut pada paruh pertama tahun 2017, dan puluhan lainnya mengalami luka parah dalam insiden kecelakaan lainnya.
Namun banyak juga pihak yang menentangnya seperti Ebrahim Al Madhoun, seorang pemikir dan penulis Gaza, adalah salah satu orang yang menentang aturan itu dan mengutuk pelarangan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kebebasan seluruh masyarakat, menurutnya  pelarangan tersebut tidak penting karena perempuan Gaza mengendarai motor yang berpakaian tepat dengan pakaian yang layak, dan penggunaan sepeda motor oleh perempuan telah menjadi bagian dari budaya Palestina, khususnya Gaza selama bertahun-tahun, dia juga menambahkan bahwa larangan itu tidak berdasar, terutama saat pihak berwenang tidak menyediakan pilihan transportasi alternatif kepada warganya.
Pendapat lain datang dari Myaser Taha, seorang aktivis Gaza, dia berpendapat bahwa tidaklah tepat jika wanita yang disalahkan jika ada korban kecelakaan sepeda motor dan para pengendara muda yang nakal lah dituding sebagai pembuat masalah itu di jalan-jalan Gaza.
Sebagai informasi tambahan kenapa masyarakat memilih transportasi sepeda motor adalah saat Hamas dengan keras mengambil alih Jalur Gaza pada tahun 2007 menyusul perang saudara singkat dengan gerakan Fatah, yang telah digulingkan dari Gaza.
Dan sejak saat itu, Israel telah memberlakukan pengetatan pengangkutan udara, laut dan darat di Gaza dan sudah melancarkan tiga peperangan di jalur pantai.
Hal ini menyebabkan kelangkaan bahan bakar yang serius dan kondisi ini memaksa banyak warga Gaza memilih transportasi murah seperti sepeda motor.

Sumber : gulfnews.com

1 Comment

Leave a Reply