RiderTua.com – Bulan lalu hasil penjualan yang didapatnya secara global mengalami kenaikan hingga 5,5 persen dari tahun lalu di bulan yang sama. Meski begitu, mereka masih mengalami tekanan pada penjualan di kampung halamannya akibat sejumlah faktor.
▶Daftar Isi
Mobil Listrik dan PHEV-nya Makin Laris Terjual
Melihat dari BYD dan usaha yang dilakukannya selama beberapa tahun terakhir, tidak heran kenapa mereka bisa mencetak hasil penjualan yang begitu memuaskan. Bulan lalu saja mereka sukses menjual 403.472 unit mobil secara global, dan hasil yang didapatnya ini meningkat 5,5 persen dari periode Juni 2025. Meski penjualannya naik tipis, setidaknya ini sudah menjadi hasil yang begitu memuaskan di tengah kondisi pasar roda empat yang tidak menentu.

Sebab bulan Mei lalu penjualannya hanya naik 0,3 persen dari tahun sebelumnya, dan hasil ini jauh lebih sedikit ketimbang dari hasil yang didapatnya di bulan selanjutnya. Sementara untuk ekspor mobil dari kampung halamannya sepanjang bulan Juni tembus 175.349 unit, naik signifikan 94,7 persen dari hasil tahun lalu. Ini semua berkat usahanya dalam memperluas jaringan penjualannya di seluruh dunia dalam beberapa tahun.
BYD kini fokus melakukan ekspansi besar-besaran di Eropa dengan mendirikan sejumlah pabrik disana, dengan pabrik di Hungaria menjadi yang pertama dibangun. Dengan begitu, mereka bisa mengurangi ketergantungan impor serta mengakali tarif yang dikenakan untuk mobil CBU yang dijual disana. Inilah yang membuat harga mobil China dipatok cukup mahal, karena kebanyakan merek masih mengimpornya langsung dari tempat asalnya.

Penjualan Domestik Menurun
Kenaikan penjualan globalnya ini juga sudah membantu menyeimbangkan hasil yang didapatnya di China. Sebab penjualan domestiknya malah turun 22 persen dari hasil di bulan Juni 2025, padahal seharusnya hasil yang didapatnya ini bisa meningkat drastis dengan banyaknya model yang ditawarkan. Namun mereka sudah tidak berdaya menghadapi industri otomotif lokal yang tertekan dalam beberapa bulan terakhir, bahkan dengan cara seperti pemberian diskon sekalipun.
Memang tidak hanya BYD saja yang terdampak, produsen BEV seperti Xiaomi Auto hingga Leapmotor juga mengalami penurunan penjualan. Penyebabnya tidak lain yaitu pengurangan insentif mobil ramah lingkungan secara bertahap, dan ini membuat konsumen ogah membeli mobil jenis tersebut. Belum lagi stok mobil yang menumpuk dan berkurangnya daya beli konsumen juga mempengaruhi penjualannya secara signifikan.

Tetap Ekspansi Pasar Global
Meski didera kesulitan di kampung halamannya, ini tidak membuat BYD patah semangat, justru mereka semakin rajin melakukan ekspansi di pasar global. Mereka akan terus memperluas jaringan penjualannya di sejumlah negara dengan mendirikan dealer, meluncurkan mobil baru, sampai membangun pabrik perakitan mobilnya sendiri. Setidaknya ini bisa membantunya bertahan di pasar roda empat di seluruh dunia ketika penjualan di dalam negeri menurun.
Di Indonesia, mereka tetap melakukan penjualannya seperti biasa, dari merilis model anyar sampai mendirikan lebih banyak dealer mobil. Mereka masih memegang pangsa pasar mobil listrik tertinggi berkat lini produk yang dihadirkannya sejauh ini sudah membantunya mencapai posisi teratas. Model seperti Atto 1, M6, sampai Sealion 7 menjadi andalannya selama ini dengan performa penjualan yang begitu memuaskan.

Kini mereka mulai menyasar pasar mobil ramah lingkungan lainnya untuk memperluas lini produknya, dengan merilis M6 DM di pasar model PHEV. Model ini menjadi andalan barunya untuk bersaing di pasar tersebut, dan ini menandakan dimulainya ekspansi lini mobilnya di Indonesia, jadi tidak hanya terbatas pada model BEV saja. BYD ingin membawa model lainnya untuk mengisi pasar yang dianggap punya potensi lebih besar untuk diisi dengan produknya.
Tapi untuk sekarang mereka mau fokus jualan M6 DM dulu, dan setelahnya baru mereka bisa memikirkan soal model anyar lainnya. Karena lini mobil PHEV-nya cukup luas, mereka tinggal memilih model mana yang cocok dijual disini, entah itu SUV atau hatchback.














