RiderTua.com – Setelah meraih kemenangan MotoGP perdananya di Assen, Ai Ogura mendadak jadi ‘artis dadakan’. Banyak pengamat dan penggemar yang menyorotinya. Bagi pengamat sekaligus mantan pembalap Neil Hodgson, penampilan kuat rider asal Jepang tersebut bukanlah kejutan. Dari pengamatannya, Ogura sudah menunjukkan kualitasnya yang luar biasa di atas motor sejak beberapa waktu yang lalu.
“Dia adalah pembalap yang sangat mengandalkan insting atau naluri, pembalap yang paling tidak agresif yang pernah kita temui. Dia sangat pendiam dan rendah hati, tetapi begitu visor helmnya tertutup dia langsung menyerang. Dia selalu seperti itu, bahkan saat masih membalap di kelas yang lebih kecil,” ujar Hodgson.
Ai Ogura ‘Raja’ Rem Belakang Kebalikan dari Pecco Bagnaia

Neil Hodgson menyoroti salah satu kemampuan teknis terbesar Ai Ogura yakni cara dia menggunakan rem belakang. Menurutnya gaya pengereman rider berusia 25 tahun itu mirip dengan Marc Marquez. “Dia adalah ‘raja’ rem belakang. Saya tahu sebagian besar pembalap MotoGP banyak menggunakan rem belakang, tetapi Ai jelas memiliki gaya yang mirip dengan Marc Marquez,” jelasnya.
Menurut Hodgson, keterampilan Ogura dalam penggunaan rem belakang yang sangat baik membantunya untuk mengendalikan dan menemukan keseimbangan motor yang lebih baik. Dan ketrampilan ini belum tentu dapat dilakukan oleh pembalap lain. “Kita tahu Marc banyak menggunakan rem belakang. Itu membantu menarik bagian belakang motor dan mengurangi beban pada bagian depan. Apa pun yang dia lakukan, Ogura berhasil menemukan titik keseimbangan yang tepat,” ungkap mantan pembalap asal Inggris itu.
Dengan hasil finis 1 dan 2 di TT Belanda, kini Ogura masuk dalam daftar kandidat peraih gelar dunia musim 2026. Dengan menduduki peringkat 4 dan perolehan 168 poin, kini juara dunia Moto2 2024 itu hanya tertinggal 25 poin dari pemimpin klasemen yang baru Jorge Martin. “Semua rivalnya harus waspada karena dia adalah kandidat juara dunia. Kemampuannya dalam menghadapi tekanan juga menjadi salah satu kelebihannya. Dia brilian,” ujar Hodgson.

Hodgson juga membandingkan gaya balap Ai Ogura dengan Francesco Bagnaia. Menurutnya, kedua pembalap ini punya pendekatan yang sangat berbeda saat berada di lintasan. “Dia hampir kebalikan dari Pecco. Kalau Pecco berada di belakang pembalap lain, dia akan kesulitan setelah 2 atau 3 lap. Ai benar-benar kebalikannya,” jelasnya.
Hodgson melanjutkan, “Pecco cenderung membutuhkan kondisi yang benar-benar ideal untuk bisa tampil maksimal. Kita bisa melihat, saat dia mencapai titik di mana dia memiliki grip yang kuat dia bisa melaju kencang. Tapi ketika tekanan ban depan meningkat, dia tidak bisa mengendalikan motornya.”
“Sementara performa Ai justru meningkat ketika kondisinya semakin sulit, terutama ketika dia tidak punya grip terbaik dan tekanan ban depan meningkat saat berada di belakang pembalap lain. Dia mampu bertarung melawan pembalap dalam kondisi seperti itu,” pungkas Neil Hodgson.

BTW, tahun depan Ogura akan bergabung dengan tim pabrikan Monster Energy Yamaha bersama Jorge Martin. Dia merupakan pembalap Jepang pertama yang bergabung dengan pabrikan yang bermarkas di Iwata itu setelah 25 tahun. Nama-nama besar seperti mendiang Norick Abe, Wataru Yoshikawa, dan Katsuyuki Nakasuga pernah membela tim pabrikan namun hanya sebatas sebagai pembalap pengganti sementara atau tampil sebagai wildcard.
Selain itu, bergabungnya Martin ke Yamaha akan menjadi sebuah anomali. Pada 2004, Yamaha berhasil mem’bajak’ Valentino Rossi yang berstatus sebagai juara dunia bertahan bersama Honda. Tahun depan, kalau Martin yang saat ini memimpin klasemen berhasil menjadi juara dunia, maka Yamaha akan mengulang sejarah sebagai pabrikan yang mampu mendatangkan seorang juara bertahan. Bersama pembalap berdarah Jepang dan sang juara bertahan, ambisi Yamaha untuk kembali merajai MotoGP bukan sekedar omong kosong!















