RiderTua.com – Yamaha menyoroti dominasi Ducati yang memborong 18 kemenangan dalam 6 seri pertama WSBK musim 2026 berkat pembalapnya Nicolo Bulega. Tak hanya itu, rekan setimnya Iker Lecuona juga tak kalah hebat dari rider Italia itu. Dia 15 kali finis di posisi ke-2, dan kini mereka berdua menempati peringkat 1 dan 2 dalam klasemen.
Sebagai informasi, sejak 2018 WSBK menerapkan aturan keseimbangan performa (balance of performance) yang cukup rumit. Tujuan dari aturan ini adalah untuk menyeimbangkan performa antar motor dan juga mencegah pabrikan yang tertinggal harus terus menerus membuat motor homologasi baru yang sangat mahal hanya untuk mengejar ketertinggalan.
▶Daftar Isi
Bos Yamaha WSBK Mengkritik Dominasi Ducati: Jika Dibiarkan, Superbike Jadi Tidak Menarik dan Tak Punya Masa Depan

Awalnya pihak penyelenggara mencoba menyeimbangkan performa motor melalui pembatasan putaran mesin maksimum (RPM). Namun cara tersebut terbukti kurang efektif. Kemudian aturan ini diganti mulai 2025 dengan sistem pembatasan aliran bahan bakar (fuel flow limit).
Jika sebuah pabrikan terlalu dominan atau justru terlalu tertinggal, maka jumlah aliran bahan bakar yang diizinkan dapat disesuaikan setiap dua seri, dikurangi atau ditambah 0,5 kg/jam. Selain itu pabrikan yang tertinggal juga mendapat bantuan pengembangan yang disebut ‘konsesi’ atau ‘super konsesi’. Dengan bantuan ini pabrikan bisa melakukan modifikasi pada mesin dan sasis, yang sebenarnya berdasarkan regulasi normal tidak diperbolehkan.
Meski sudah dilakukan berbagai mekanisme untuk menyeimbangkan performa, namun musim 2026 malah menyuguhkan dominasi terbesar yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah WSBK. Ducati berhasil melahirkan Panigale V4R yang nyaris sempurna. Pembalapnya Bulega berhasil menyapu bersih 18 kemenangan musim ini atau jika dihitung sejak akhir musim lalu dia sudah memenangkan 22 balapan berturut-turut.
Sebelum balapan akhir pekan di Misano, dari total 54 podium pertama musim ini, Ducati sudah meraih 47 podium. Sementara 7 podium yang tersisa diraih pabrikan lain, dengan rincian Miguel Oliveira (BMW) meraih 4 podium, Axel Bassani (Bimota) 2 podium, dan 1 podium oleh Alex Lowes (Bimota).

Andrea Dosoli Beri Peringatan
Di sisi lain, 6 pembalap Yamaha yang berada di grid start saat ini sama sekali tidak punya peluang untuk meraih gelar dunia musim ini, sama seperti duo Honda. “Jika kita tidak bertindak, kejuaraan ini tidak punya masa depan. Tidak ada yang ingin melihat kejuaraan di mana pabrikan, sponsor, dan tim tersingkir karena tidak kompetitif, sehingga pada akhirnya hanya menyisakan segelintir pabrikan. Tidak ada yang bisa menerima itu, apalagi pemegang hak komersial kejuaraan,” tegas Andrea Dozoli (bos Yamaha WSBK).
Di balik layar, semua pihak sudah mendiskusikan cara agar kompetisi ini berjalan seimbang. Tapi tantangannya adalah membantu pabrikan yang tertinggal tapi juga tidak menghukum pabrikan yang sudah bekerja dengan sangat bagus dalam pengembangan motor. Dalam hal ini, Ducati dianggap hanya menuai hasil kerja keras mereka selama ini.
Tak hanya itu, mulai 2027 motor Superbike akan lebih diperlambat seperti yang juga akan terjadi di MotoGP tahun depan dengan mengurangi kubikasi mesin (dari 1000cc menjadi 850cc). Alasannya, motor-motor Superbike sekarang sudah sangat cepat sehingga area run-off di banyak sirkuit mulai terasa kurang memadai.
Ada berbagai ide untuk memperlambat motor. Yang paling mudah dipahami adalah pengurangan lebih lanjut dalam aliran bahan bakar. Namun ada solusi yang lebih murah yakni penggunaan ban yang lebih tepat. Mulai 2027, Michelin akan menggantikan Pirelli sebagai pemasok ban untuk WSBK dan kelas-kelas lain yang mendukungnya. Namun dapat diasumsikan bahwa Michelin akan menggunakan ajang balap untuk pengembangan produk, seperti yang dilakukan Pirelli selama beberapa dekade.

Dozoli menjelaskan, “Produsen ban masuk ke sebuah kejuaraan untuk menunjukkan kemampuan produknya. Mereka berinvestasi karena ingin menjual lebih banyak ban kepada para penggemar track day. Itu juga selalu menjadi target Pirelli. Yang dicari bukan ban jalan raya yang tahan hingga 10.000 kilometer. Tapi yang dicari adalah performa dalam balapan. Kalau untuk track day bersama teman-teman, umur ban 10 lap saja sudah cukup.”
Dozoli tahu betul bahwa Michelin ingin merebut pangsa pasar Pirelli. Oleh karena itu, dia tidak percaya Michelin akan membawa ban yang performanya lebih buruk ke Superbike. Jika promotor Dorna yang membeli ban dan menyediakannya kepada tim, skenario seperti itu mungkin masuk akal. Namun faktanya, produsen ban harus merogok kocek yang sangat dalam hanya untuk diizinkan memasok sebuah kejuaraan.
Dosoli juga menilai bahwa sistem konsesi saat ini tidak benar-benar bisa menyelesaikan masalah. “Seharusnya kita balapan dengan motor yang dapat dibeli oleh siapa pun. Jika kita mengizinkan modifikasi besar-besaran pada motor, maka kita akan terlalu mendekati dengan MotoGP. Platform WSBK adalah pemasaran, sedangkan MotoGP adalah untuk pengembangan teknis,” jelasnya.
Bos asal Italia itu melanjutkan, “Jika kedua kejuaraan ini tidak saling melengkapi, maka saya tidak melihat masa depan yang panjang untuk superbike. Kejuaraan ini harus berkelanjutan bagi para pabrikan dan tim. Setiap kali kita memperkenalkan komponen konsesi, itu bukanlah suku cadang yang diproduksi massal. Oleh karena itu biayanya sangat mahal.”

“Kita tidak lagi berada dalam situasi di mana pabrikan dapat mengembangkan motor khusus untuk Superbike karena pasar berubah begitu cepat. Saat ini, beberapa pabrikan membuat dua model, satu untuk jalan raya dan satu untuk Kejuaraan Dunia Superbike. Menurut saya, seharusnya kebalikannya.”
“Regulasi teknis WSBK harus mengikuti perkembangan pasar. Kita harus selalu mengamati pasar dengan saksama dan mempertimbangkan ke mana arahnya. Dan kita harus mengembangkan regulasi teknis di masa depan sesuai dengan itu. Jika pabrikan dipaksa untuk membuat sepeda motor khusus untuk Kejuaraan Dunia, maka kita berada di jalur yang salah dan bergerak lebih ke arah MotoGP,” imbuhnya.
Ducati Panigale V4 versi jalan raya standar punya kapasitas mesin 1103 cc, sedangkan Aprilia RSV4 1099 cc. Keduanya tidak memenuhi syarat untuk Kejuaraan Dunia Superbike karena 1000cc saat ini adalah kapasitas maksimum untuk mesin 4-silinder. Itulah sebabnya, Ducati membuat model V4R khusus agar memenuhi standar holomogasi WSBK.
Menurut Dosoli ada altenatif yang lebih modern, seperti regulasi ‘next generation’ yang digunakan di kelas Supersport dan Sportbike. Di dua kejuaraan tersebut, keseimbangan performa tidak ditentukan oleh kapasitas mesin. Sebaliknya, performa diseimbangkan melalui batas bukaan throttle maksimum, batas putaran mesin maksimum (rpm), dan berat minimum kotor. Dengan sistem seperti itu, motor dengan kapasitas mesin yang besar tetap bisa ikut balapan tapi tanpa mendominasi.

“Jika kita ingin kejuaraan ini bertahan lama, kita harus berpikir ‘out of the box’. Tapi saya juga tidak meminta Superbike meniru plek ketiplek regulasi ‘next generation’ yang berlaku di Supersport. Tetapi kita harus mengeksplorasi sesuatu yang belum pernah kita pertimbangkan sebelumnya. Agar hal itu terjadi, semua pabrikan perlu duduk bersama dan menyumbangkan ide-ide mereka,” pungkas Andrea Dozoli.
BTW, pembalap Yamaha terbaik di klasemen adalah Andrea Locatelli yang saat ini hanya menempati peringkat 12 dengan perolehan 71 poin.






