RiderTua.com – Sobat RiderTua dimana pun berada. Massimo Bartolini menyoroti perbedaan cara kerja dan lambatnya respon pabrikan Jepang dibandingkan dengan pabrikan Eropa. Itulah salah satu alasan, mengapa di MotoGP pabrikan Jepang tertinggal dari Eropa dalam beberapa tahun terakhir.
“Kami sudah lama berusaha memperbaiki cara kerja. Tapi memang sulit kalau departemen-departemen bekerja dari belahan dunia yang berbeda. Disitulah kami harus banyak melakukan peningkatan. Sejauh menyangkut perbedaan filosofi antara orang Eropa dan Jepang, dalam beberapa hal mereka sangat mirip tapi di hal lain mereka sangat berbeda,” ungkap Direktur Balap Yamaha itu.
▶Daftar Isi
Massimo Bartolini: Kalah Jauh dari Honda! Intip Strategi ‘Gila’ Yamaha Demi Kejar Ketertinggalan di Era Mesin 850cc

Meski begitu, Max Bartolini menegaskan bahwa Yamaha punya kelebihan. “Yang bagus dari Yamaha adalah saat ini mereka melihat banyak hal dari sudut pandang global, bukan hanya balap. Saya yakin, Yamaha akan semakin memposisikan diri sebagai perusahaan global di masa depan. Sejak dulu mereka selalu menjadi perusahaan Jepang yang paling terbuka dan sudah lama mendirikan anak perusahaan di negara lain. Mereka paham bahwa tidak semuanya harus dikerjakan di Jepang,” jelas bos asal Italia itu.
BTW, selama lebih dari 20 tahun pusat kendali aktivitas motorsport Yamaha di Eropa berlokasi di Gerno Lesmo dekat Milan di Italia utara. Disana merupakan ‘mabes’nya tim pabrikan Yamaha MotoGP dan Superbike, yang berkembang secara bertahap dari waktu ke waktu.
Strategi Yamaha….
Dalam upaya menyetarakan dengan kompetitor, Yamaha untuk pertama kalinya mengembangkan mesin V4 pada 2024 dan 2025 sambil tetap fokus pada balapan. Motor ini akan menjadi dasar untuk mesin baru 850cc yang akan wajib digunakan mulai 2027 dan seterusnya. M1 V4 untuk pertama kalinya diturunkan ke lintasan pada musim 2026, setelah mem’pensiun’kan mesin In-line-4 yang selama 24 tahun (terhitung sejak era MotoGP 4-tak dimulai pada 2002 hingga akhir musim 2025) mereka gunakan.

Namun jalan Yamaha untuk kembali ke puncak sangat terjal. Sejauh ini Fabio Quartararo menjadi pembalap Yamaha terbaik dalam klasemen dengan hanya menempati peringkat 17 dengan perolehan 6 poin. Parahnya lagi, untuk kesekian kalinya Yamaha kembali berada di peringkat paling bawah dalam klasemen konstruktor. Bahkan perolehan poin Yamaha belum mencapai sepertiga perolehan poin Honda yang berada di peringkat kedua dari bawah.
Semua orang di Yamaha sadar, mereka sangat jauh tertinggal. Oleh karena itu mereka tidak ragu mengeluarkan banyak uang dan usaha untuk mengejar ketertinggalan. Namun Bartolini juga harus pintar mengelola sumber daya mereka seefektif mungkin, apalagi akan ada perubahan besar peraturan teknis mulai 2027, dengan mesin akan dipangkas menjadi 850cc dan pemasok ban juga akan diganti Pirelli.
“Kami harus terus mengembangkan motor saat ini, karena ada hal-hal tertentu yang hanya bisa diuji selama balapan akhir pekan,” tegas Max.

Soal entri wildcard, Max menegaskan, “Menjelang akhir musim mungkin wildcard tidak akan terlalu berguna lagi, kecuali untuk menguji hal besar seperti sistem pendingin, sasis, atau swing arm. Dengan perubahan ban, tidak masuk akal untuk menguji banyak suku cadang dengan ban Michelin karena toh nantinya akan menggunakan ban Pirelli. Mulai pertengahan musim, efektivitas wildcard akan berkurang secara signifikan.”
“Beberapa pengembangan untuk motor saat ini, akan bermanfaat untuk tahun depan. Kami fokus bekerja bersama Augusto Fernandez dan Andrea Dovizioso, tetapi kami juga punya tes rider di Jepang yang melakukan uji fungsional dan daya tahan. Kami tidak melakukan ini sesering dulu, tetapi kami sesekali masih menggunakan mereka,” pungkas Max.








