Home MotoGP Paolo Simoncelli Mengkritik Kamera TV yang Hanya Menyorot 4 Pembalap Moto3 Terdepan!

    Paolo Simoncelli Mengkritik Kamera TV yang Hanya Menyorot 4 Pembalap Moto3 Terdepan!

    Paolo Simoncelli
    Paolo Simoncelli

    RiderTua.com – Paolo Simoncelli (pemilik tim Sic58 Squadra Corse yang saat ini berkompetisi di Moto3) memperingatkan bahwa meskipun kelas Moto3 dan Moto2 terus menyuguhkan balapan yang sangat seru, namun kelas-kelas pendukung MotoGP tersebut kini semakin tak terlihat karena minimnya sorotan. Menurutnya, hal ini tak hanya merugikan para pembalap dan tim yang berlaga disana, tapi bisa menghapus sebagian ‘sejarah’ balap motor itu sendiri.

    Dalam blog timnya Sic58squadracorse.it, Simoncelli mengungkapkan kegalauan hatinya terkait ‘perlakuan tidak adil’ terhadap kelas-kelas balap kecil terutama Moto3. “Jalan tol A14, pukul 02.45 pagi. Kami sedang dalam perjalanan pulang dari Aragon. Rekan-rekan lain di dalam mobil sedang terlelap sementara saya terus mengemudi, ditemani kerlip lampu kota dan pikiran saya sendiri…”

    Paolo Simoncelli Mengkritik Kamera TV yang Hanya Menyorot 4 Pembalap Moto3 Terdepan!

    Hasil Race Moto3 Italia 2026
    Race Moto3 Italia 2026

    Paolo Simoncelli melanjutkan, “Sudah lama saya bertanya-tanya, mengapa orang-orang terus berusaha dengan segala cara, untuk merusak tontonan yang begitu murni dan sederhana ini? Mengapa mereka memecah-belahnya dan hanya menceritakan separuh kisahnya, seolah-olah mereka hanya ingin menjual separuh dari kenyataan yang sebenarnya terjadi kepada publik? Saya sungguh tidak memahaminya.”

    “Mungkin karena saya berasal dari era yang berbeda. Seorang ‘boomer’ tua, salah satu orang yang masih percaya atau lebih tepatnya masih merasa terharu saat mengenang legenda-legenda masa lalu. Sosok-sosok seperti Angel Nieto, Sito Pons, Max Biaggi, yang mengukir sejarah olahraga ini dan hingga kini masih menjadi fondasinya.”

    “Hari ini, saat memikirkan bagaimana kita ingin mengajarkan olahraga ini kepada anak-anak dengan membuat mereka percaya bahwa MotoGP adalah satu-satunya hal yang benar-benar penting, saya hanya bisa tersenyum.”

    “Tentu saja, gelar Juara Dunia di kelas utama memiliki nilai yang berbeda dan lebih besar dibandingkan gelar di kelas 250cc atau 125cc. Namun, jika kita mulai mengurangi nilai dari gelar-gelar tersebut, para pembalapnya, serta kelas-kelas itu, apa yang sebenarnya tersisa dari sejarah olahraga ini?”

    “Pertama, Anda mengurangi ruang bagi kelas yang lebih kecil, lalu Anda mengurangi nilai para juaranya. Kalau Anda terus-menerus melakukan pengurangan seperti itu, Anda berisiko kehilangan bagian-bagian penting dari sejarah.”

    “Akhir pekan ini, balapan Moto2 dan Moto3 sekali lagi berlangsung sangat seru. Balapan yang sesungguhnya, dengan pertarungan sengit dan para pembalap yang mempertaruhkan segalanya hingga tikungan terakhir. Namun, apa yang dilakukan sutradara siaran TV terutama saat balapan Moto3? Mereka hanya menyorot 4 pembalap terdepan, bahkan saat tidak ada aksi berarti di barisan depan. Padahal 6 atau 7 pembalap yang berada hanya 3 detik di belakang mereka, sedang terlibat duel yang luar biasa sengit.”

    58SquadraCorse noisiamoenergia Sic58
    58SquadraCorse noisiamoenergia Sic58

    “Rasanya mereka berusaha menyembunyikan bagian paling menarik dari kelas-kelas balap ini. Moto2 dan Moto3 semakin tidak terlihat. Kurang mendapat perhatian, kurang ruang di media sosial, kurang narasi cerita. Seolah-olah ini adalah sesuatu yang harus disingkirkan.”

    “Mungkin sedikit tambahan dukungan finansial sudah cukup untuk memungkinkan tim-tim Moto2 dan Moto3 berkembang dan mencapai level MotoGP. Karena jika kita benar-benar menginginkan tontonan yang seru, semua pihak harus ditempatkan dalam kondisi terbaik untuk menyajikannya. Terkadang kita lupa satu hal, ini memang kelas balap yang lebih rendah. Ya, tetapi bukan berarti risiko yang mereka hadapi di lintasan lebih kecil.”

    “Para pembalap ini mempertaruhkan segalanya, mengendarai motor cepat dengan ruang kesalahan yang sangat minim, serta didorong oleh hasrat, ambisi besar, dan bahkan sedikit kenekatan khas usia muda yang membuat mereka melampaui batas kemampuan. Saat mereka menutup gas, saat mereka mengerem, saat mereka melibas tikungan dengan kecepatan 150 km/jam, kondisi aspalnya sama bagi siapa saja.”

    Veda Ega Pratama - Veda Pratama
    Veda Ega Pratama

    “Saya bertanya-tanya, bagaimana kita bisa berpikir untuk mencapai jumlah penonton Formula 1 jika hanya menampilkan balapan MotoGP berdurasi 40 menit kepada penonton. Orang-orang tidak datang ke acara balapan hanya demi MotoGP.”

    “Mereka datang demi dunia balap motor itu sendiri, demi segala hal yang terjadi selama balapan akhir pekan. Demi para pembalap, demi berbagai kelas balap, demi kisah-kisah di baliknya, dan demi pertarungan sengit yang sering kali tidak terjadi di barisan terdepan, namun justru itulah yang membuat orang jatuh cinta pada olahraga ini.”

    “Namun, kita terus melangkah menuju penataan ulang area paddock di mana dari waktu ke waktu, Moto2 dan Moto3 justru diisolasi dari paddock utama, seolah-olah mereka adalah penderita wabah penyakit. Sebentar lagi kita akan memiliki toilet terpisah. Seperti kelas satu dan kelas tiga di kapal Titanic. Kita hanya berharap ada yang ingat bahwa pada akhirnya, semua penumpang Titanic itu tenggelam,” pungkas ayah mendiang pembalap Marco Simoncelli itu.

    Dua pembalap tim Sic58 Squadra Corse yakni Casey O’Gorman dan Leo Rammerstorfer masing-masing menempati peringkat 16 (53 poin) dan 24 (4 poin) dalam klasemen pembalap Moto3.

    © ridertua.com

    TINGGALKAN BALASAN

    Silakan masukkan komentar Anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini