RiderTua.com – Paco Sanchez merupakan manajer gaek yang saat ini memanajeri dua pembalap MotoGP Raul Fernandez dan Joan Mir. Pekerjaannya bukan hanya menegosiasikan kontrak, tetapi juga membuka peluang bagi pembalapnya dan memastikan peluang itu tetap ada ketika situasi pasar mulai tertutup.
Sanchez menyoroti molornya negosiasi perpanjangan kontrak Fernandez dengan tim Trackhouse. Menurutnya, hasil yang ditorehkan Fernandez sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk mempertahankan tempatnya di tim milik Justin Marks tersebut. Karena itulah dia heran, mengapa tawaran perpanjangan kontrak tidak kunjung disodorkan.
▶Daftar Isi
Paco Sanchez: Ketika Raul Fernandez Dapat Tawaran dari KTM, Kami Pun Mengultimatum Tim Trackhouse
Paco Sanchez mengungkapkan, “Sampai sekarang saya masih tidak mengerti, kenapa saya tidak menerima tawaran perpanjangan kontrak setelah balapan pertama atau kedua musim ini. Keterlambatan itulah yang membuat proses negosiasi menjadi jauh lebih rumit daripada yang seharusnya.”

Proses negosiasi kontrak Raul Fernández berjalan cukup alot, sementara beberapa opsi lain satu per satu mulai tertutup. Sanchez mengatakan bahwa dia sempat berbicara dengan beberapa pabrikan sebelum akhirnya KTM memberikan tawaran yang benar-benar serius. Justru tawaran KTM itulah yang membuatnya berani ‘menekan’ tim Trackhouse.
“Saat kami mendapat kesempatan pindah ke KTM, kami memberikan ultimatum kepada Trackhouse. Reaksi mereka langsung cepat, mereka langsung menyodorkan kontrak di atas meja. Niat awal Fernandez sebenarnya memang tetap bertahan di timnya saat ini,” ungkapnya.
Joan Mir, Juara Dunia yang Diremehkan
Paco Sanchez mengaku kecewa, lantaran kualitas Joan Mir dipandang sebelah mata hanya gara-gara hasil buruknya bersama tim pabrikan Honda. Padahal perjalanan karir balap Mir mulai dari Moto3 hingga MotoGP terbilang cukup cepat. Dia terjun ke Moto3 pada 2015 dan menjadi juara dunia pada 2017. Kemudian Mir hanya 1 musim berada di kelas Moto2 sebelum naik ke MotoGP pada 2019 dan bahkan menjadi juara dunia MotoGP pada 2020 bersama Suzuki. Namun sayangnya saat Suzuki memutuskan mundur dari MotoGP pada akhir 2022, karirnya juga ikut meredup.

Sanchez mengaku bahwa keputusan memilih bertahan di tim pabrikan Honda adalah langkah yang keliru. “Joan memilih untuk tetap bersama Honda, karena dia percaya pada merek dan proyek tersebut. Namun kami harus mengakui bahwa kami salah, karena mereka benar-benar tidak melakukan peningkatan pada motor itu. Di saat yang sama, rentetan crash yang terjadi harus dilihat dalam konteks risiko yang mau tak mau harus diambil Mir demi bisa bersaing di barisan depan. Di lintasan Joan punya kecepatan, tetapi tentu saja itu didapat dengan mempertaruhkan keselamatannya,” tegasnya.
Sanchez menilai bahwa saat ini Honda hanya bisa meraih hasil bagus kalau pembalapnya berani mengambil risiko yang sangat tinggi. Karena itulah, dia yakin kepindahan Mir ke Ducati di tim Gresini akan menunjukkan kemampuan aslinya. “Saya sangat berharap bisa melihat Joan mengendarai Ducati, karena saya tahu bakat yang dimilikinya, saya tahu kemampuannya, dan saya tahu bagaimana dia berlatih. Menurut saya, dia akan mengejutkan banyak orang yang sudah terlanjur meremehkannya,” ujarnya.
Proses untuk mencarikan Mir tempat baru pun tidaklah mudah. Prioritas awalnya adalah mendapatkan posisi di tim pabrikan. Dan ketika hal itu gagal terwujud, Mir bahkan sempat mempertimbangkan untuk pensiun. Menurut Sanchez, pihak Gresini-lah yang mengambil inisiatif pertama. “Michele Massini (manajer tim) menelepon saya dan berkata, ‘Paco, kami tertarik untuk membicarakan soal Joan’,” ungkapnya.
Sanchez menambahkan, “Gigi Dall’Igna (general manajer Ducati Corse) juga turut serta dalam pertemuan berikutnya. Pada akhirnya, proposal dari Gresini itulah yang berhasil meyakinkan Mir. Dia akan mendapatkan motor spek pabrikan serta dukungan resmi dari Ducati. Sejak saat itu, Joan mengesampingkan pertimbangan soal gaji dan menempatkannya sebagai prioritas sekunder. Dia lebih mengutamakan kesempatan untuk kembali menaiki motor yang kompetitif.”

Bukan Pemburu Tapi Diburu!
Menurut Paco Sanchez, peran seorang manajer sangat penting bagi pembalap, namun dia menolak anggapan bahwa dia bak seperti ‘dewa’ yang bisa mewujudkan hal yang mustahil. Dia menegaskan bahwa tentu saja tanggung jawab utama terletak pada sosok yang mengendarai motor tersebut di lintasan atau dalam hal ini pembalap. “Pada akhirnya saya hanya mengerjakan sebagian dari pekerjaan. Bagian yang paling penting justru dilakukan oleh pembalap,” jelasnya.
Soal bagaimana Paco Sanchez memilih pembalap yang akan diwakilinya, dia mengaku tidak pernah berkeliling paddock mencari bakat baru. “Saya tidak pernah mendatangi pembalap secara aktif. Saya juga tidak biasa berkeliling paddock untuk mencari pembalap. Justru para pembalap itu sendiri, anggota keluarga mereka, atau orang-orang di lingkaran terdekat merekalah yang menghubungi saya,” ungkapnya.
Setelah berhasil menghubunginya, Sanchez tak serta merta menerima mereka begitu saja. Karena dia punya satu syarat wajib bagi calon pembalap yang akan dimanajerinya. “Jika saya tidak yakin seorang pembalap mampu memenangkan Juara Dunia, saya lebih memilih untuk tidak bekerja sama dengannya. Dan uang bukanlah motivasi utama saya. Banyak sekali pembalap yang menawarkan gaji tetap agar saya mau bekerja sama dengan mereka. Secara pribadi, satu-satunya hal yang memotivasi saya adalah upaya untuk meraih kemenangan,” tegasnya.

Menurutnya, sekitar 90 persen pembalap yang pernah dia tangani berhasil meraih juara dunia atau setidaknya menjadi runner-up, dengan total lebih dari 24 gelar dunia di berbagai kelas balap.
Bagi Sanchez, ada tiga elemen mendasar yang membentuk seorang juara dunia yakni bakat, kerja keras, dan mentalitas. “Bakat alami adalah sesuatu yang dimiliki sejak lahir, bukan sesuatu yang bisa dipelajari atau diperoleh. Yang kedua adalah kerja keras, seseorang harus bersedia mengerahkan usaha dengan banyak berlatih dan rela berkorban. Dan yang ketiga adalah mentalitas. Kalau ada prioritas lain yang lebih diutamakan daripada target olahraga tersebut, saya yakin akan sangat sulit untuk meraih dan mempertahankan kesuksesan,” ungkapnya.
Menurut Sanchez, mewakili Joan Mir dan Raul Fernandez secara bersamaan bukan berarti dia menyembunyikan salah satu nama ketika sebuah tim tertarik pada pembalap lainnya. Bahkan sebelum menerima Fernandez sebagai klien, dia lebih dulu mendiskusikannya dengan Joan Mir.
Sanchez menjelaskan, “Setiap kali bernegosiasi dengan tim, saya selalu mengajukan kedua nama tersebut dan memperjuangkan keduanya. Saya berusaha meyakinkan tim agar melihat kelebihan masing-masing pembalap. Namun pada akhirnya, timlah yang memutuskan.”

“Saya mempromosikan mereka dengan sepenuh hati. Saya mencurahkan semua yang saya miliki, semua pengetahuan dan keahlian saya, dan tentu saja saya menonjolkan kelebihan nyata mereka. Tapi syaratnya, saya harus benar-benar percaya potensi mereka untuk berprestasi terlebih dulu. Jika keyakinan itu hilang, saya juga kehilangan motivasi untuk memperjuangkan karir mereka,” imbuhnya.
Pembalap yang Rela Tidak Dibayar Justru Merugikan Sesama Pembalap
Berapa komisi yang didapat Sanchez? Secara blak-blakan dia mengaku bahwa menerima bayaran 10% dari penghasilan pembalap. Dia menggunakan angka tersebut untuk menjelaskan kepada kliennya di mana letak tanggung jawab utama. “Saya harus melakukan 10% dari pekerjaan, dan Anda harus melakukan 90%-nya. Karena kalau Anda tidak melakukan bagian 90% itu dan kalau Anda tidak bekerja keras, berlatih, atau memenangkan balapan tapi saya tetap berhasil mencarikan tim untuk Anda, maka sayalah yang seharusnya menerima 90% dan Anda hanya menerima 10%,” tegasnya.
Menariknya, Sanchez mengaku tidak memungut bayaran dari pembalap muda sampai mereka memiliki penghasilan bersih sekitar 100.000 euro (lebih dari Rp 2 miliar) per tahun. Menurutnya, para rider muda di kelas-kelas rendah sangat membutuhkan uang untuk membiayai berbagai kebutuhan seperti pelatih, latihan fisik, biaya menyewa sirkuit, membeli ban, dan bahan bakar. Kebijakannya ini juga berlaku kepada para pembalap yang berada di penghujung karier mereka dan yang pendapatannya menurun drastis.
Hal lain yang cukup mengejutkan, Sanchez mengatakan bahwa meskipun dia seorang pengacara tapi dia tidak pernah membuat kontrak secara tertulis dengan para pembalapnya. “Saya tidak punya kontrak dengan satu pun pembalap saya. Tidak ada. Kami cukup berjabat tangan. Kalau suatu hari mereka ingin pergi, ya silakan,” tegasnya.
Sanchez mengaku pernah melihat kontrak manajer yang mengambil komisi hingga 25 atau 30%, tetapi dia lebih memilih hubungan yang didasarkan pada kepercayaan dan kemauan kedua belah pihak untuk terus bekerja sama.
Berbicara soal gaji pembalap, Sanchez mengkritik bahwa dalam beberapa tahun terakhir pembalap justru menjadi pihak yang paling dirugikan dalam pembagian ‘ekonomi’ MotoGP. Sementara biaya tim terus meningkat mulai dari infrastruktur, hospitality, hingga bertambahnya jumlah seri Grand Prix tapi pendapatan pembalap tidak sebanding.
Sanchez secara khusus mengkritik para pembalap yang rela membalap tanpa digaji. “Selalu ada pembalap yang mau membalap secara gratis jika memang diperlukan. Hal itu sangat merugikan rekan-rekan sesama pembalap. Mereka tidak seharusnya membalap secara gratis karena mereka mempertaruhkan nyawa dan tidak fair jika mereka membalap tanpa bayaran,” tegasnya.
Bahkan Sanchez mengklaim bahwa beberapa pembalap yang menjadi kliennya pada tahun 1990-an atau awal 2000-an di kelas yang lebih rendah, memperoleh pendapatan yang secara nominal lebih besar dibandingkan pembalap MotoGP saat ini. Berdasarkan perhitungannya, jika angka-angka tersebut disesuaikan dengan inflasi, nilainya akan 3 kali lipat lebih tinggi daripada gaji sebagian besar pembalap di grid saat ini.

Kewarganegaraan dan Jumlah Follower di Medsos Jadi Pertimbangan Utama Tim dalam Menentukan Line-up Pembalapnya
Sanchez juga mengkritik bahwa dalam perekrutan pembalap, tim tidak lagi mempertimbangan performa pembalap tapi justru kewarganegaraan yang dipermasalahkan. Seperti yang menimpa Sergio Garcia. Sanchez mengaku tak habis pikir dengan situasi ini, mengingat Garcia pernah bersaing memperebutkan gelar dunia di kelas Moto3 maupun Moto2.
Menurut Sanchez, Garcia sempat mendapat tawaran untuk naik ke MotoGP, namun status kewarganegaraannya (Spanyol) justru menghambat peluangnya dibandingkan kandidat lain. Sanchez yakin bahwa kehilangan kesempatan yang telah diperjuangkan selama bertahun-tahun secara tiba-tiba dapat berdampak jangka panjang terhadap performa pembalap tersebut.

Selain itu, Sanchez juga mengaku heran dengan sebuah tren yang menurutnya kini semakin marak terjadi. Ketika ada pembalap berusia 21 atau 22 tahun, beberapa tim justru mencari kandidat yang lebih muda lagi. “Kita sudah sampai pada titik di mana kita harus mencari pembalap dari taman kanak-kanak,” ujarnya kesal.
Selain itu, ada faktor lain yang muncul belakangan ini dan hampir tidak mungkin masuk dalam pertimbangan dunia olahraga sebelumnya yakni jumlah follower di media sosial. “Sepanjang karier saya, saya meyakini bahwa sosok yang saya cari adalah pembalap terbaik. Dia yang paling gigih berjuang, punya semangat dan ambisi terbesar, serta terlihat jelas memiliki potensi untuk menjuarai Kejuaraan Dunia. Kini justru jumlah follower di media sosial dan kewarganegaraan pembalap turut menjadi faktor penentu,” pungkas Sanchez yang semakin sulit memahami sebuah perubahan wajah dunia balap yang sudah hampir 4 dekade dia berkecimpung di dalamnya.












