Home MotoGP Marc Marquez: Saya Ingin Meniru Gaya Balap Pembalap Legend yang Satu Ini!

    Marc Marquez: Saya Ingin Meniru Gaya Balap Pembalap Legend yang Satu Ini!

    Casey Stoner - Marc Marquez - Ducati Duel
    Casey Stoner - Marc Marquez - Ducati

    RiderTua.com – Setelah pulih dari cedera, Marc Marquez ingin melanjutkan misinya untuk mempertahankan gelar dunianya musim ini. Dengan Desmosedici GP26 yang merupakan motor paling kompetitif di grid saat ini dan juga dengan tim yang sangat solid, rider Ducati Lenovo itu punya ‘senjata’ yang ampuh untuk mengalahkan rivalnya terutama para pembalap Aprilia.

    Marquez pertama kali bergabung dengan Ducati pada 2024 di tim satelit Gresini. Setelah merampungkan debutnya dengan Desmosedici di peringkat 3 dalam klasemen, dia dipromosikan naik ke tim pabrikan Ducati Lenovo dan langsung sukses meraih juara dunia pada 2025. Memasuki paruh kedua musim 2026, juara dunia 9 kali itu menempati peringkat 3 tertinggal hanya 18 poin dari pemimpin klasemen Jorge Martin (Aprilia). Ini artinya, bukan mustahil dia akan merayakan gelar dunia ke-10nya musim ini.

    Marc Marquez: Saya Ingin Meniru Gaya Balap Pembalap Legend yang Satu Ini!

    Ketika ditanya, apa yang membuat Marc Marquez terkesan saat pertama kali bergabung dengan Ducati? “Bagi saya, yang membuat perbedaan terbesar adalah Gigi Dall’Igna. Hanya satu orang, tetapi memiliki tim yang luar biasa yang terdiri dari para insinyur yang sangat profesional. Namun yang paling bikin saya terkesan adalah organisasi internalnya yang sangat cerdas, dan Gigi adalah orang yang bertanggung jawab atas hal itu. Dia mampu mengatur semua divisi dengan cara yang tepat, agar performa tim selalu maksimal setiap saat,” jawab rider berusia 33 tahun itu.

    Gigi Dall'Igna - Marc Marquez
    Gigi Dall’Igna – Marc Marquez

    Seiring berkembangnya zaman, motor MotoGP mengalami evolusi, begitu juga tahun depan dimana kubikasi motor akan turun dari 1000cc menjadi 850cc, aerodinamika dibatasi, dan larangan penggunaan ride height device. “Perbedaan terbesar terletak pada aerodinamika. Dulu, kami meningkatkan aerodinamika secara bertahap hingga menghasilkan downforce yang lebih besar pada motor. Saat itu kita masih bisa merasakan ban. Motor bisa bergetar atau bergoyang dan memberikan peringatan sebelum terjatuh,” jelas Marquez.

    Rider asal Cervera yang kini tinggal di Madrid Spanyol itu melanjutkan, “Sekarang, motornya seperti berada di atas meja. Downforce yang dihasilkan juga sangat besar. Dan ban juga semakin bagus. Tapi ketika kita melakukan manuver sedikit saja, kita akan kehilangan banyak waktu karena bagian depan motor bisa kehilangan grip. Dulu pembalap masih bisa masuk tikungan dengan sedikit selip (sliding), tapi sekarang hal itu justru merugikan karena bisa merusak aliran aerodinamika sehingga performanya justru menurun. Jadi gaya balap sekarang benar-benar berbeda.”

    “Kalau kita bandingkan dengan motor 2014, saat itu setiap pabrikan memiliki sistem elektronik (software) sendiri. Honda bahkan mengembangkan perangkat lunaknya sendiri. Kini seluruh tim MotoGP menggunakan satu sistem elektronik standar. Dan saya justru menyukai hal itu. Karena dengan diseragamkannya sistem elektronik, maka pembalap bisa membuat perbedaan yang lebih besar,” imbuh Marquez.

    Ducati Desmosedici Aerodinamika Gigi
    Ducati Desmosedici Aerodinamika Gigi

    Marquez mendukung rencana MotoGP untuk mengurangi aerodinamika mulai tahun depan. “Arah kita pada 2027 adalah mengurangi aerodinamika. Kalau saya, saya akan mengurangi aerodinamika lebih banyak lagi, karena sekarang dengan aerodinamika kami menjadi lebih sulit untuk menyalip. Dulu kalau kita lebih lambat 0,2 atau 0,3 detik dari pembalap lain, kita masih bisa mengejar dengan memanfaatkan slipstream dan menjaga ritme balapan,” tegasnya.

    Pemenang 102 balapan di semua kelas itu menambahkan, “Sekarang dengan aerodinamika, kalau kita lebih lambat 0,3 detik dari pembalap lain, saat kita mengikutinya atau berada dalam slipstream, kita justru akan lebih lambat 0,5 detik. Jadi semakin sulit mengikuti motor lain, dan akibatnya semakin sulit pula melakukan overtaking. Kondisi seperti itu membuat balapan lebih sering berlangsung dalam kelompok tanpa banyak aksi salip-menyalip.”

    Marquez menegaskan bahwa teknologi balap memang akhirnya banyak diterapkan pada motor produksi massal demi meningkatkan keselamatan. Namun, motor balap punya kebutuhan yang berbeda. “Kalau ingin motor balap benar-benar kencang, terkadang memang harus mengorbankan sedikit keselamatan. Contohnya, motor balap justru harus membiarkan ban belakang lebih banyak selip dengan mengurangi intervensi traction control. Begitu juga dengan suspensi yang harus bekerja lebih berdasarkan karakter mekanis motor. Solusi seperti itu tidak ideal untuk motor jalan raya, tetapi sangat efektif untuk motor balap,” tegasnya.

    Apa kesan pertama Marquez terhadap prototipe 2027, apakah manuver menyalip akan lebih mudah dibandingkan motor generasi sebelumnya? “Saat ini saya tidak terlalu yakin. Saya ingin optimis, tetapi berdasarkan apa yang sudah saya coba, motornya kurang lebih masih sama. Memang tenaga mesinnya lebih rendah, tetapi akibatnya jarak pengereman menjadi lebih pendek. Di sisi lain, gaya pengereman pembalap kini juga lebih agresif. Jadi pada akhirnya manuver menyalip akan sama sulitnya, bahkan terkadang dalam situasi tertentu jauh lebih sulit,” ungkap MM#93 itu.

    Michele Pirro - Ducati 850cc
    Michele Pirro – Ducati 850cc

    Marquez melanjutkan, “Meskipun hanya 850cc, motor ini sudah cukup bertenaga. Dari tribun, mungkin penonton tidak akan menyadari perbedaannya. Memang benar, misalnya dengan mesin 1000cc saat ini, di sebagian besar lintasan lurus bahkan di Misano, kita tidak bisa memanfaatkan semua torsi mesin. Dengan motor 850cc, kita justru dapat memanfaatkan semua tenaga dan torsi dengan tepat sejak keluar dari tikungan. Perbedaan terbesar justru datang dari ban. Tergantung pada bannya, kita akan melihat jenis ban balapan yang berbeda.”

    Marquez pernah bilang bahwa jika dirinya disuruh memilih sirkuit yang layak dipertahankan di kalender MotoGP, itu adalah Phillip Island. “Ya, itu benar. Tetapi pada akhirnya, kita harus memprioritaskan keselamatan pembalap. Bukan berarti sirkuit ini berbahaya, tetapi ini adalah sirkuit yang sangat cepat. Saat ini kita membutuhkan area run-off yang berlapis aspal, sedangkan disana ada keterbatasan untuk melakukan perubahan itu,” ungkapnya.

    Marquez menambahkan, “Di Assen, persis sama. Sirkuit ini memiliki beberapa tikungan yang sangat cepat dengan area run-off yang masih berupa kerikil (gravel). Lihat yang terjadi pada balapan akhir pekan disana? Ada berapa pembalap yang mengalami cedera? Fermin Aldeguer dan adik saya Alex. Di sirkuit yang sangat cepat, jika melakukan kesalahan, kemungkinan mengalami cedera akan menjadi lebih besar. Tetapi Phillip Island adalah salah satu sirkuit terbaik saya dan salah satu favorit saya.”

    Casey Stoner - Marc Marquez
    Casey Stoner – Marc Marquez

    Ketika Marquez ditanya, siapa pembalap legendaris yang ingin dia lawan? “Mick Doohan. Yah, mungkin Casey Stone juga. Tetapi saya punya kesempatan untuk membandingkan data telemetrinya. Saat saya pertama masuk ke MotoGP pada 2013, dia sudah pensiun pada akhir 2012. Saya bisa mempelajari data-datanya dan memahami cara membalapnya. Tetapi kalau harus memilih pembalap dari era lain, saya akan memilih Mick Doohan,” ungkapnya sambil tersenyum.

    Dalam hal gaya balap, Stoner lebih sering melakukan sliding ketimbang Doohan. “Saya lebih suka meniru gaya balap Stoner, karena cocok dengan cara kerja ban belakang dan sistem elektronik MotoGP saat ini. Pada zaman motor 500 cc, pembalap tidak bisa terlalu mengandalkan ban belakang, sehingga mereka lebih banyak mengandalkan ban depan. Sekarang di MotoGP, kita justru harus lebih mengandalkan ban belakang dan tidak terlalu membebani ban depan. Karena jika ban belakang mulai terlalu banyak selip, sistem traction control akan membantu mengendalikannya,” pungkas Marquez.

    © ridertua.com

    1 KOMENTAR

    TINGGALKAN BALASAN

    Silakan masukkan komentar Anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini