RiderTua.com – Penjualan di pasar mobil di Indonesia sepanjang semester pertama masih cukup bagus meski penjualannya turun dua kali. Menariknya ada salah satu merek yang bisa mencetak hasil penjualan lebih dari 2 ribu unit, meski ada yang menduga produksinya belum dimulai sampai bulan lalu.
Penjualannya Tembus 2 Ribu Unit Bulan Lalu
Merek tersebut adalah BYD, dan memang merek ini selalu membawa kejutan tiap kali mereka membawa mobil terbarunya ke Indonesia. Dari model BEV terlaris seperti M6 EV dan Atto 1 sampai mobil MPV mewah terlaris Denza D9 sudah mencuri perhatian banyak konsumen sejak modelnya pertama kali dirilis. Ini sudah menjadi sesuatu yang bagus, hanya saja mereka masih mendatangkan unitnya langsung dari kampung halamannya.

Sebenarnya mereka sudah menyiapkan pabrik untuk merakit mobilnya secara lokal di Indonesia sejak pertama kali hadir disini. Hanya saja proses pembangunannya cukup lama, itupun mereka harus melakukan persiapan lanjutan sebelum bisa memulai produksinya. Bahkan hingga kuartal kedua 2026 berakhir sekalipun mereka masih terus melakukan persiapan lainnya, kali ini melakukan transisi ke produksi lokal.
Memang bukan perkara mudah untuk menyiapkan tempat produksinya untuk merek mobil baru seperti BYD, apalagi proses transisi ke produksi lokal juga membuat penjualannya turun drastis. Seperti yang terlihat di bulan Mei 2026, dimana hanya ada 895 unit yang terjual, bahkan model terlarisnya seperti Atto 1 nggak sanggup tembus 100 unit per bulan. Mungkin ada yang menduga kalau performa penjualannya nggak bisa dipulihkan lagi, tapi kenyataan justru berkata lain.

Penjualan Naik Drastis
Bulan lalu, penjualan BYD naik drastis hingga 5.264 unit secara wholesales dan 3.757 unit secara retail, dan ini memang sudah menjadi hasil yang bagus. Hanya saja ada yang penasaran kenapa bisa penjualannya tiba-tiba melonjak dari sebelumnya hanya ratusan unit menjadi lebih dari 2 ribu unit dalam sebulan. Bahkan kenaikannya mengalahkan penjualan dari merek lainnya seperti Toyota hingga Chery.
Terlebih diketahui produksi mobilnya masih belum dimulai hingga bulan lalu, menandakan proses transisi produksinya masih berlangsung. Ada yang menduga kalau mereka masih punya stok lama dari tahun lalu dan harus dihabiskan sebelum persiapan produksinya selesai. Sebenarnya mereka sudah selesai melakukan persiapannya dan kini merakit sejumlah model secara lokal, meski tidak semuanya bisa dirakit begitu saja.

Masih Impor Dua Model
Tahun ini hanya ada dua model yang masih diimpor langsung dari China, yaitu sedan Seal dan SUV kompak Atto 3. Kalau Seal sudah jelas karena modelnya berupa sedan, jenis mobil yang tidak punya banyak peminat seperti mobil SUV atau MPV, tapi anehnya Atto 3 masih diimpor. Kalau melihat dari performa penjualannya, memang Atto 3 nggak selaris Sealion 7 sepanjang tahun ini.
Setidaknya kini BYD kembali memulihkan penjualannya setelah sempat terpuruk di bulan Mei, bahkan mereka sempat jauh tertinggal dari kompetitor senegaranya. Terlebih di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya memulih akibat sejumlah faktor seperti kondisi ekonomi yang membuat harga mobil lebih mahal. Belum lagi insentifnya tidak diberlakukan sampai sekarang karena terus ditunda, padahal sudah ada banyak produsen yang menantikan diberlakukannya insentif yang baru ini.

Sejauh ini, pasar mobil listrik di Indonesia masih dikuasai oleh merek yang bermarkas di Shenzhen tersebut. Jadi jelas mereka berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankan dominasinya disini dengan mencetak hasil penjualan lebih bagus dari bulan sebelumnya, walau ini berarti mereka harus menghabiskan stok lamanya. Mungkin ini yang menjelaskan mengapa Atto 1 tiba-tiba laris dalam sebulan, dari puluhan unit terjual di bulan Mei menjadi ribuan unit di bulan Juni.
Kini mereka berjualan mobil PHEV setelah sekian lama menjual mobil listrik disini, dengan M6 DM menjadi model pertama yang dirilisnya. Entah apakah setelahnya mereka bisa membawa model lainnya ke Indonesia, mengingat performa penjualan M6 sepanjang semester pertama 2026 membawanya sebagai model PHEV terlaris.












