RiderTua.com – Di balik keceriaan dan terkadang kekonyolan yang selalu diperlihatkannya, Marc Marquez ternyata sangat menderita karena efek dari cedera yang dialaminya. Juara dunia 9 kali itu mengaku bahwa selama ini dia harus hidup dengan rasa ketidak-nyamanan. Contoh sederhana tapi justru salah satu yang cukup penting dalam hidup adalah tidur. Kondisi bahu kanannya mempengaruhi cara dia tidur.
“Saya harus hidup dengan ketidaknyamanan itu. Jelas, saya tidak bisa tidur miring ke kanan. Saya harus tidur miring ke kiri karena bahu saya. Saya tidur dalam posisi itu sepanjang malam. Kalau saat tidur tanpa sadar tubuh saya miring ke kanan, saya akan langsung terbangun karena merasa sakit,” ungkap rider Ducati Lenovo itu.
Marc Marquez: Kalau Tidur Harus Miring ke Kiri, Kalau Miring ke Kanan Bahu Saya Sakit
Semua orang butuh tidur yang cukup, begitu juga pembalap apalagi kalau besok harus menjalani balapan akhir pekan. Marc Marquez mengaku bahwa selama balapan akhir pekan dia justru kesulitan untuk tidur yang cukup. Bukan karena merasa khawatir atau gugup, melainkan karena adrenalin yang masih tersisa usai menjalani sprint race atau race utama. Pemenang balapan 102 di semua kelas itu juga menjelaskan bahwa sebelum tidur pikirannya terus berputar soal teknis seperti pemilihan ban, set-up, hingga titik-titik terbaik untuk melakukan overtaking.

“Adrenalin yang tersisa dari sprint race atau race utama membuat kita sulit tidur. Tidur jadi berkurang,” ungkap rider berusia 33 tahun itu.
Menariknya, Marquez juga mengaku bahwa selama balapan akhir pekan dan sehari sesudahnya, dia tidak mampu mengingat informasi apapun jika tidak ada kaitannya dengan balapan.
“Pasangan saya tahu betul, keluarga saya tahu, bahwa di akhir pekan, apa pun yang mereka katakan kepada saya dari Kamis hingga Minggu, hal-hal yang tidak terkait dengan motor, saya tidak akan ingat. Bahkan apa pun yang mereka katakan kepada saya pada hari Senin setelah Grand Prix, saya juga tidak akan ingat,” ungkap pacar Gemma Pinto serta putra dari Julia Marquez dan Mama Roser Alenta itu.
Dengan motor 850cc yang akan mulai digunakan tahun depan, Marquez menilai bahwa pengurangan kapasitas mesin tidak akan terlalu berpengaruh kepada penonton. “Motor memang melaju lebih lambat, tapi menurutku penonton yang berada di tribun bahkan tidak akan menyadarinya. Saya berharap perangkat aerodinamika banyak dikurangi agar balapan menjadi lebih seru. Selain itu berkurangnya downforce membuat motor lebih sulit dikendalikan saat berdekatan dengan motor lain. Tapi setiap era di MotoGP punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing,” tegas rider asal Cervera Spanyol itu.

Marquez juga mengungkapkan bahwa dia sudah mempersiapkan diri untuk berbagai skenario saat start dan ketika masuk tikungan pertama. Namun dia menegaskan bahwa pada akhirnya instinglah yang menentukan. “Semua karena insting, dan itulah keunggulan utama saya. Saya mengikuti insting saya dan berimprovisasi. Mustahil bisa memprediksi apa yang akan dilakukan pembalap lain. Kemampuan berimprovisasi juga menjadi salah satu kekuatan terbesar saya,” jelas juara dunia MotoGP 7 kali itu.
Tidak seperti atlet elit lainnya, Marquez mengaku dia tidak pernah menggunakan jasa psikolog olahraga. Dia menegaskan bahwa dukungan terbesarnya berasal dari lingkaran terdekatnya. “Dukungan psikologis terbesar saya berasal dari lingkaran dalam saya. Salah satu langkah yang saya ambil untuk melindungi dirinya secara mental adalah dengan sepenuhnya memutuskan hubungan dengan media sosial selama balapan akhir pekan,” ungkapnya.

Untuk pembalap atau atlet lain yang saat ini sedang berjuang untuk pulih dari cedera, Marquez memberikan pesan, “Tubuh itu pintar. Dia bisa mengingat, tetapi juga bisa melupakan. Tubuh akan melupakan hal-hal yang buruk dan akan mengingat yang baik,” pungkas rider yang saat ini berada di peringkat 3 dengan perolehan 190 poin atau tertinggal 18 poin dari pemimpin klasemen Jorge Martin itu sambil tersenyum.












