RiderTua.com – Dalam balapan Moto3 selama 23 lap di Sachsenring, dengan start yang mulus, Brian Uriarte langsung melesat di posisi pertama. Rookie dari tim Red Bull KTM Ajo itu berhasil memimpin balapan hingga lap ke-19. Sayangnya, di lap ke-20 dia disalip oleh Maximo Quiles. Tapi di beberapa tikungan menjelang garis finis, ban depan Quiles kehilangan grip yang membuat rider tim Aspar itu melebar. Uriarte yang berada tepat di belakangnya tak menyia-yiakan kesempatan itu untuk kembali mengambil alih posisi terdepan hingga garis finis.
Uriarte menang dalam duel sengit melawan Quiles, unggul tipis banget hanya 0,063 detik. Kemenangannya di GP Jerman tersebut merupakan kemenangan ke-2 nya musim ini. Dan kemenangan ini juga membawa pembalap asal Cantabria Spanyol itu menempati peringkat 2 dalam klasemen, tertinggal 104 poin dari Quiles yang saat ini pemimpin klasemen.
▶Daftar Isi
Brian Uriarte: Berhasil Mengalahkan Maximo Quiles adalah Suatu Kehormatan

Mengalahkan Maximo Quiles tentu bukanlah hal yang mudah, tapi Brian Uriarte berhasil melakukannya. “Saya bekerja keras. Saya tidak tahu apakah lebih keras dari orang lain, tetapi saya benar-benar bekerja dengan sungguh-sungguh. Saya berusaha untuk menjadi lebih baik setiap hari, bukan hanya di balapan ini saja. Saya bekerja keras untuk meningkatkan kemampuan dan itu membuahkan hasil,” ujar rider berusia 17 tahun itu.
Uriarte melanjutkan, “Hari ini kami menunjukkan bahwa kami punya kecepatan dan kami mampu bersaing melawan calon juara dunia. Dia benar-benar memiliki kemampuan yang luar biasa. Tahun ini, dia membuktikannya dengan sangat jelas. Bagi saya, merupakan suatu kehormatan bisa bertarung melawannya. Dia adalah pembalap yang sangat cepat. Bisa mengalahkannya hari ini, sungguh luar biasa. Tetapi, hanya mampu bersaing melawannya saja sudah membuat saya lebih dari puas.”
Yang mengejutkan, Uriarte terlihat sangat tenang meski sudah meraih 2 kemenangan dalam debutnya di Moto3. “Emilio Alzamora (manajernya sekaligus mantan manajer Marc Marquez) selalu mengingatkan saya untuk tetap rendah hati. Pada akhirnya, kita harus siap untuk menghadapi apa pun. Kalau itu adalah kemenangan, memang kemenangan pertama terasa lebih mengejutkan, tetapi sekarang saya sudah tahu bagaimana rasanya menang. Jadi ini saatnya untuk menerima kemenangan ini dan tentu saja kami pasti akan merayakannya,” imbuhnya.
Apa faktor kunci kemenangan Uriarte di Sachsenring? “Ada dua faktor penting yakni ritme balapan dan kondisi ban. Saya fokus pada dua hal ini, dan semuanya berjalan dengan baik. Saya senang, karena saya biasanya sangat kesulitan dalam mengelola ban. Tetapi saya langsung gas pol di lap pertama, saat kondisi ban masih bagus,” ungkapnya.
Uriarte melanjutkan, “Setelah itu saya harus mengelola efek dari tekanan di awal tadi, karena hal itu membuat ban cepat aus. Di awal balapan, beberapa pembalap sempat mendekati saya. Tetapi saya berusaha untuk tetap tenang, menghemat ban, dan saya mampu mengatasinya dengan sangat baik. Di akhir balapan kondisi ban saya masih cukup bagus ketimbang Maximo, sehingga saya mampu mempertahankan ritme yang sangat cepat.”

Duel perebutan kemenangan terjadi di lap terakhir. “Memasuki lap terakhir, terutama di tikungan pertama, saya terus berpikir di mana saya bisa menyalipnya. Karena saya belum yakin, di mana dia lebih cepat atau lebih lambat dari saya karena saya tidak sempat mempelajarinya dengan baik selama balapan. Dari data terungkap bahwa dia lebih cepat dari saya di sektor terakhir,” jelas Uriarte.
“Jadi saya mencoba memanfaatkan area lintasan yang menjadi kekuatan saya, untuk menciptakan gap dan mengurangi peluang menyerangnya di akhir balapan. Tapi saya mempertaruhkan segalanya di tikungan terakhir. Ban depan sempat kehilangan grip, bagian belakang motor juga sempat selip. Tapi saya mengerahkan semua kemampuan saya hingga tikungan terakhir. Mampu mengalahkan pemimpin klasemen adalah sebuah kebanggaan,” imbuhnya.
Uriarte berhasil memimpin balapan selama 19 lap. “Saya membalap sendirian didepan. Ketika kita percaya diri dan mampu menjaga ritme yang baik, maka kita berani memimpin. Saya tahu, Maximo juga mampu mencatatkan ritme itu, tetapi dia memutuskan untuk tetap di belakang saya. Memang benar, ketika berada di depan ban kita lebih cepat aus. Dan jika berada di belakang, kita jauh lebih hemat,” ujarnya.
Uriarte melanjutkan, “Namun menjelang lap terakhir, saya melihat Maximo sedikit kesulitan dengan bannya. Saat dia berada di depan itulah, saya tahu saya punya sedikit keunggulan di beberapa tikungan yang belum saya manfaatkan dan saya memanfaatkannya di lap terakhir. Saya senang karena mampu melawannya untuk meraih kemenangan.”
Begitu Uriarte berhasil menyalip Quiles, dia langsung fokus untuk bertahan. Namun dia sempat berpikir bahwa Quiles mungkin belum mengerahkan seluruh kemampuannya. “Setelah berhasil mengambil alih posisi terdepan, saya gas pol habis-habisan. Salah satu kekuatan Maximo terletak pada pengereman, jadi saya berusaha menutup setiap peluang baginya untuk menyalip saya. Tapi saya paham, dia juga memikirkan gelar dunia. Itu wajar, karena dia mempertaruhkan banyak hal. Saya tidak tahu, apakah dia sempat ragu untuk menyalip saya. Saya benar-benar tidak tahu, karena itulah saya harus menonton kembali rekaman balapannya. Tetapi saya yakin, dia menahan sesuatu. Saya rasa dia tidak mengerahkan seluruh kemampuannya,” tegasnya.

Seandainya Uriarte menjadi pemimpin klasemen, apakah dia akan menahan diri seperti yang dilakukan Quiles ataukah dia akan tetap gas pol tanpa mempedulikan risikonya? “Tidak, kita tidak punya waktu untuk berpikir seperti itu. Ada banyak hal yang harus dipikirkan. Saya rasa kalau melihat kecepatannya, ini balapan yang sangat konsisten. Hampir sepanjang balapan, catatan waktu saya sama. Itu adalah sesuatu yang sudah lama saya latih dan saya senang bisa menemukan konsisitensi seperti itu. Saya mampu menjaga ritme yang stabil di setiap lap, sekaligus mampu menyimpan sedikit tenaga dan performa untuk digunakan di akhir balapan,” pungkasnya.
Dalam klasemen rookie 2026, Brian Uriarte memimpin unggul 37 atas pembalap kebanggaan Indonesia Veda Ega Pratama yang menempati peringkat 2 dengan 90 poin. Sementara rookie asal Malaysia Hakim Danish berada di peringkat 3 hanya tertinggal 4 poin dari rider asal Wonosari Gunung Kidul itu.
Rookie Moto3 tahun ini: Rico Salmela, Brian Uriarte, Jesus Rios, Zen Mitani, Veda Pratama, Casey O’Gorman, Hakim Danish, Leo Rammerstorfer
Klasemen Sementara Rookie Moto3 2026 (Setelah GP Jerman)
| No. | Rider | Tim | Poin | Gap |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Brian Uriarte | Red Bull KTM Ajo | 127 | – |
| 2 | Veda Pratama | Honda Team Asia | 90 | -37 |
| 3 | Hakim Danish | A-M MSi Racing | 86 | -41 |
| 4 | Rico Salmela | Red Bull KTM Tech3 | 51 | -76 |
| 5 | Jesus Rios | Rivacold Snipers | 44 | -83 |
| 6 | Casey O’Gorman | SIC58 Squadra Corse | 40 | -87 |
| 7 | Leo Rammerstorfer | SIC58 Squadra Corse | 4 | -123 |
| 8 | Zen Mitani | Honda Team Asia | 2 | -125 |












