RiderTua.com – Marc Marquez kembali membuktikan bahwa dirinya memang layak dinobatkan sebagai ‘Raja Sachsenring’. Rider Ducati Lenovo itu sukses mendominasi balapan akhir pekan mulai hari Jumat hingga race utama hari Minggu. Setelah meraih pole position pada kualifikasi dan menang dalam sprint hari Sabtu, dia menang pada race utama hari Minggu unggul 1,996 detik didepan dua pembalap tim Trackhouse Aprilia yakni Ai Ogura dan Raul Fernandez. Ini merupakan kemenangannya yang ke-10 di trek yang memiliki panjang 3,671 km atau trek terpendek di kalender MotoGP itu.
Marquez sempat kesulitan di awal musim karena keterbatasan fisik (bahunya yang pernah dioperasi kembali terasa sakit). Bahkan saat itu dia tertinggal 100 poin dari pemimpin klasemen. Usai crash di Le Mans yang membuat kakinya cedera, juara dunia 9 kali itu akhirnya memutuskan untuk menjalani dua operasi sekaligus pada kaki dan bahunya. Kemudian dia melakukan upaya comeback di Mugello. Dan setelah tampil apik di Hungaria, Brno, Assen, dan kemudian Sachsenring, The Baby Alien berhasil memangkas defisitnya menjadi 18 poin saja. Kini dia kembali terlibat dalam perebutan gelar dunia.
Marc Marquez: Kemenangan ke-10 di Sachsenring Sangat Luar Biasa, Tapi Masih Ada yang Kurang

Marc Marquez mengatakan, “Saya sangat senang. Ini adalah akhir pekan yang spesial bagi saya. Saya sangat fokus. Sebelumnya saya sudah bilang bahwa kalau mau terlibat dalam perebutan gelar maka saya harus tampil menyerang di sini. Dan kami benar-benar menyerang. Kita harus memanfaatkan momen ketika performa kita sedang kuat. Kami sudah menunjukkan hal itu dalam balapan-balapan terakhir. Merayakan kemenangan MotoGP ke-10 kami di sini adalah sesuatu yang istimewa. Itu adalah pencapaian yang sangat istimewa.”
Apa arti kemenangan ini baginya? “Kemenangan tetaplah kemenangan. Tetapi yang jelas, ini termasuk 10 kemenangan terbaik saya,” jawab Marquez.
Meski tampaknya balapan berjalan sempurna bagi Marquez, namun dia mengaku sempat menurunkan ritmenya untuk beberapa saat. “Saya terus gas pol sejak awal, tetapi kemudian saya merasa bahwa ban depan sudah mencapai batasnya. Rasanya agak aneh. Saya tidak tahu, apakah ban depan mengalami ‘graining’ atau apa yang sebenarnya terjadi,” jelasnya.
Pemenang 102 balapan di semua kelas itu melanjutkan, “Saya sedikit mengurangi kecepatan. Saat itulah, grup di belakang saya mulai sedikit mendekat. Setelah itu saya memahami apa yang terjadi dengan ban depan, lalu saya kembali menyerang. Dengan serangan kedua itu, saya memperlebar gap. Ketika kita unggul 1 atau 1,5detik di lintasan ini, tidak mudah bagi yang lain untuk mengejar defisit tersebut.”

BTW, graining adalah kondisi ketika permukaan ban mengalami sedikit keausan yang tidak rata sehingga muncul gumpalan-gumpalan kecil seperti butiran karet yang membuat daya cengkeram menjadi berkurang.
Namun Marquez mengaku tidak sepenuhnya bahagia hari itu. Adiknya Alex Marquez yang sejak awal menempel di belakangnya, crash di tikungan 13 di lap ke-9. “10 kemenangan di satu trek di MotoGP, tentu saja mengesankan. Saya sangat bahagia. Tapi jujur, saya tidak sepenuhnya puas karena saya ingin melihat Alex di podium. Saya melihat betapa kerasnya dia bekerja setelah balapan di Montmelo. Itu benar-benar mengesankan. Saya tidak menyangka. Ya, dia pekerja keras. Tetapi kali ini dia bahkan melampaui batasnya itu,” ungkap juara dunia MotoGP 7 kali itu.
Agar konsisten dalam perebutan gelar dunia, Marquez punya strategi jitu untuk menghadapinya. “Kami berusaha menyerang ketika saya merasa dalam kondisi yang baik. Dan ketika treknya sulit, kami hanya ingin bertahan. Jika kami ingin bersaing dalam memperebutkan gelar, maka lengan kanan saya harus membaik. Itu satu-satunya kelemahan saya,” ujarnya.

Marquez menambahkan, “Saya akan beristirahat selama libur musim panas. Secara mental, itu perlu. Tetapi saya harus bekerja sangat keras untuk mengatasi kelemahan di lengan kanan saya. Terkadang saya hanya bisa mengendari motor, tapi tidak bisa benar-benar bermain dengan motor dan tubuh saya seperti yang ingin saya lakukan.”
Soal kesulitannya di awal musim Marquez menjelaskan, “Balapan pertama musim ini seperti mimpi buruk. Saya tidak bisa menikmatinya, karena saya tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Sejak masalah saraf di lengan saya teratasi, semuanya berjalan dengan baik. Kekuatan saya belum kembali seperti yang saya inginkan, tetapi feel saya cukup baik dan saya dapat merasakan apa yang terjadi.”
Tahun depan Marquez akan punya rekan setim baru dengan Pedro Acosta di tim Ducati Lenovo. Rider berusia 22 tahun itu dianggap sebagai pembalap yang mampu menyainginya karena gaya balapnya juga agresif sama seperti Marquez. Apakah Acosta akan menjadi rekan setim yang mampu mengalahkan Marquez tahun depan? Mengingat selama ini tidak ada satu pun rekan setim yang mampu mengalahkannya.

Kemenangan ke-10 Marc Marquez di Sachsenring Sangat Luar Biasa..✍️












