RiderTua.com – Mungkin tidak ada yang menyangka merek ternama bisa juga mendapat kerugian dari penjualan mobilnya. Bahkan ada yang baru pertama kali merugi setelah 70 tahun berjualan di pasar roda empat, dan mungkin ini terdengar tidak masuk akal, apalagi untuk merek tenar seperti ini.
▶Daftar Isi
Merugi di Tahun 2025 Gara-gara Mobil Listrik
Honda selama ini sudah dikenal sebagai merek otomotif ternama yang berjualan berbagai macam produk di seluruh dunia. Termasuk mobil, dan produk yang ditawarkannya cukup beragam, baik itu mobil SUV, MPV, hatchback, city car, sedan, sampai kei car sudah disediakannya. Termasuk mobil bermesin bensin, hybrid, listrik, PHEV, bahkan hidrogen fuel cell atau FCEV juga sudah dikembangan dan dijual.

Soal mobil listrik, belakangan ini diketahui Honda menghentikan pengembangan dua model dalam 0 Series, dan hanya menyisakan 0 Alpha yang sudah disiapkan penjualannya. Termasuk 3 model BEV yang sempat disiapkan untuk dijual di Amerika Utara juga ikut disetop pengembangannya, dan salah satu diantaranya berupa produknya Acura. Ternyata ini dilakukan sebelum mereka mengumumkan kerugian yang didapatnya untuk pertama kalinya dalam 70 tahun.
Setelah diumumkan, mereka meminta maaf soal kerugian yang dialaminya, dan mereka berharap di tahun fiskal selanjutnya mereka bisa memulihkan keuntungan yang didapatnya. Tapi dengan kondisi pasar yang tidak menentu belakangan ini mungkin akan menyulitkannya untuk meningkatkan hasil yang didapatnya, tidak hanya keuntungan tetapi juga penjualannya. Sebab persaingan di pasar roda empat masih berjalan cukup ketat dengan banyaknya kompetitor yang menjual mobil baru.

Banyak Kompetitor Dari China
Kalau dilihat, pasar mobil listrik belakangan ini banyak diisi oleh produk dari merek China, entah itu produknya BYD atau Geely. Tapi melihat dari ekspansi pasar yang dilakukannya selama beberapa tahun, jelas mereka sudah bukan merek China yang dulu mengingat kualitas produknya yang jauh lebih baik. Apalagi dengan harga terjangkau, jelas banyak konsumen yang tertarik dengan mobil dari merek asal negara tersebut, sementara merek lainnya kesulitan mengejar ketertinggalannya.
Honda juga menjadi salah satu yang terdampak dari banyaknya mobil China di pasar global, walau ada juga penyebab lainnya seperti penurunan peminat mobil BEV di sejumlah negara. Agar bisa bertahan, mereka berdiskusi dengan Nissan dan Mitsubishi soal kerja sama merakit baterai dan software terbaru, tapi kelanjutannya masih belum dipastikan. Kalau terwujud, maka ketiga merek ini bakal menghadirkan kerja sama yang solid dalam menjegal kompetitor di pasar mobil ramah lingkungan.

Produk BEV Dikurangi
Tapi ini tidak akan membawa kembali model yang sudah dihentikan pengembangannya, sementara 0 Alpha dan Super One tetap dikembangkan sampai modelnya resmi dijual. Sebagai satu-satunya model 0 Series yang bertahan, 0 Alpha sudah dites jalan di India, dan nantinya negara ini bakal menjadi basis produksi untuk model SUV tersebut. Sedangkan Super One akan dirakit di Jepang, tapi tidak menutup kemungkinan modelnya bisa diproduksi di negara tujuannya, seperti Indonesia.
Sejauh ini e:N1 menjadi satu-satunya mobil listrik yang dijualnya disini, itupun modelnya tidak dijual seperti mobil lainnya, melainkan disediakan sebagai mobil sewaan. Kalaupun bisa dijual, banderolnya bisa tembus Rp 1 miliar karena diimpor utuh dari kampung halamannya, dan dikhawatirkan tidak selaris HR-V kalau tetap dijual. Kelihatannya cukup sulit untuk merakitnya secara lokal, tidak seperti HR-V yang kini memakai mesin hybrid.

Super One dan 0 Alpha akan menjadi model BEV selanjutnya yang dijual di Indonesia tapi kapan modelnya bisa dijual masih belum diumumkan. Sementara itu, Honda cukup kewalahan dengan banyaknya kompetitor yang menjual mobil listrik disini, dan model BEV terlaris hingga bulan lalu masih dipegang Jaecoo J5 EV. Mengejar penjualan J5 EV sudah dianggap sangat sulit karena J5 dibanderol cukup terjangkau untuk mobil seukuran HR-V tersebut.






