RiderTua.com – Siapa sangka Ferrari Luce jadi kontroversi gara-gara desainnya yang aneh? Ternyata ini membuat kompetitornya bisa bernafas lega nggak ikut-ikutan membuat mobil listrik, karena kalau tidak mereka juga bakal bernasib seperti merek kuda jingkrak tersebut.
Luce Jadi Hujatan Sedunia Gara-gara Desain
Lamborghini menjadi salah satu merek yang nyaris menggarap mobil listrik, dan mereka melakukan ini agar mereka nggak tertinggal jauh dari kompetitornya. Terlebih merek seperti BMW hingga Mercedes-Benz sudah sukses besar dalam membuat mobil listriknya, dan merek berlogo banteng ini nggak mau kalah dan menyiapkan sejumlah rencana elektrifikasinya. Awalnya mereka ingin segera merakitnya mulai tahun depan, sebelum rencana tersebut dibatalkan.

Kok bisa? Padahal mereka sudah merencanakannya jauh hari, tapi tiba-tiba mereka membatalkannya begitu saja. Lamborghini mengaku setelah mereka kembali melihat kondisi pasar mobil listrik global, mereka memilih membatalkan rencananya membuat model BEV dan kembali fokus ke mobil konvensional. Walau mobil hybrid mungkin masih bisa dibuatnya karena masih memakai mesin bensin, contohnya Sian.
Sebelumnya mereka sempat memperlihatkan calon mobil listrik pertamanya bernama Lanzador, bahkan modelnya sudah dibuat konsepnya dan siap diproduksi massal. Tapi setelah rencananya dibatalkan, Lanzador benar-benar menjadi mobil konsep seutuhnya dan tidak akan pernah keluar dari pabrik produksi. Selain Lanzador, mereka juga sempat membuat versi BEV dari Urus, SUV pertamanya yang dijual di pasar.

Urus vs Luce
Bicara soal mobil SUV, kalau produksinya tidak dihentikan begitu saja, Urus BEV ini bisa menjadi lawan sepadan bagi Ferrari Luce. Tapi Lamborghini beruntung mereka batal merakit dan menjual modelnya setelah melihat kontroversi Luce, meski ini lebih mengarah ke desainnya yang nggak sreg dengan desain ikonik Ferrari selama ini. Urus BEV mungkin bakal tidak jauh berbeda dengan versi bensinnya, kecuali tanpa grille.
Merek asal Italia ini merasa cukup beruntung mereka membatalkan rencana elektrifikasinya sebelum terlambat. Kalau tidak, produknya mungkin bakal mendapat hujatan entah karena performanya tidak secepat mobil bermesin bensin atau hybrid agar lebih irit baterai. Atau hanya karena desainnya yang tidak sesuai dengan filosofi desain yang menjadi ciri khasnya.

Supercar Listrik
Sebenarnya mobil super bertenaga listrik masih bisa dibuat melaju kencang, seperti Yangwang U9 milik BYD, bahkan modelnya bisa melaju nyaris tembus 500 km/jam. Kalau dengan teknologi yang tepat, jelas ini masih bisa memungkinkan membuat mobil listrik super seperti ini, tapi tidak semua produsen bisa melakukannya. Apalagi dengan keterbatasan teknologi yang dimiliki, membuat model BEV yang bisa menyaingi Yangwang U9 mungkin cukup sulit.
Jadi merek seperti Lamborghini lebih memilih untuk mencari jalan aman saja, yaitu dengan membuat mobil bensin atau hybrid. Suksesnya Sian bisa menjadi patokannya untuk membuat supercar hybrid lainnya, walau membuat supercar plug-in hybrid atau PHEV mungkin lebih rumit.
Kalau mereka punya cara untuk memasangkannya pada mobil supernya, bisa saja ini menjadi inovasi yang sangat menarik karena belum banyak model supercar PHEV yang dijual. Sementara sebagian besar merek lebih memilih membuat supercar bermesin bensin atau dipasangkan teknologi hybrid biasa.

Di tengah banyaknya mobil listrik yang dirilis, masih ada merek yang tetap berjualan mobil konvensional, walau ada juga yang tetap menjual mobil hybrid dan PHEV. Banyaknya model BEV yang dirilis ini memang membuat pasarnya semakin ramai, tapi masalahnya kebanyakan dibanderol terlalu mahal ketimbang mobil jenis lainnya, belum lagi soal insentifnya. Ditambah lagi merek China yang terus melakukan ekspansi pasar secara agresif membuat merek negara lainnya semakin tertinggal.
Kalaupun merek berlogo banteng ini ogah membuat mobil listrik, ini sebenarnya sudah menjadi keputusan tepat. Sebab penurunan tren mobil listrik sudah terlihat karena konsumen mulai bosan dengan mobil jenis ini. Soal kontroversi Ferrari Luce mungkin masih bisa dihindari kalau mereka tetap mempertahankan bahasa desain ikoniknya, tapi masih bisa memperlihatkan identitasnya sebagai mobil listrik.






