RiderTua.com – Sepanjang musim 2025 dan juga awal musim 2026 merupakan masa sulit Pecco Bagnaia di tim Ducati Lenovo. Tahun lalu dia menyelesaikan musim di peringkat 5 yang sangat mengecewakan. Rider asal Turin itu ingin tampil lebih baik di musim baru dengan Desmosedici GP26 dan berharap motornya tidak seperti sebelumnya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, Pecco hanya menempati peringkat 8 dalam klasemen setelah 6 seri pertama.
Meski begitu, Pecco menunjukkan peningkatan dan tampaknya mulai menemukan feelnya di atas Ducati. Saat ini dia mencoba memberikan performa terbaiknya sambil tetap berusaha mendapatkan hasil positif, meskipun Aprilia dan para pembalapnya tampil sangat kuat.
Pecco Bagnaia: Rasa Takut Adalah Bagian Penting dari Dunia Balap Motor

Francesco Bagnaia menjelaskan, “Ketika saya mulai balapan, saya selalu bermimpi untuk bergabung dengan Ducati dan memenangkan gelar dunia bersama mereka. Dan kami berhasil mewujudkannya. Namun sudah cukup lama, saya tidak berada dalam situasi seperti itu. Saya sangat merindukannya. Saya kehilangan banyak kepercayaan diri terhadap motor dan juga pada diri sendiri. Tetapi tidak ada pilihan lain. Itu bagian dari proses dan saya yakin kami akan kembali ke posisi itu. Saya hanya harus percaya pada prosesnya.”
Menurut Pecco menjadi pembalap membutuhkan banyak pengorbanan, bukan hanya diri sendiri tapi juga orang-orang di sekitarnya. “Saat kita berkompetisi, orang-orang yang paling banyak berkorban adalah orang-orang di sekitar kita, karena itu adalah passion saya. Jadi sejak masuk ke MotoGP, tujuan saya adalah menjadi juara dunia. Untuk mencapainya, saya melakukan semua yang diperlukan. Itulah mengapa, saya tidak pernah merasa kehilangan apa pun. Mungkin terdengar egois. Tetapi saya percaya bahwa untuk mencapai puncak, kita harus fokus dan orang-orang di sekitar kita harus memahaminya,” jelas juara dunia MotoGP 2 kali itu (2022 dan 2023).
Pecco melanjutkan, “Bagi saya, MotoGP adalah ekspresi tertinggi dari olahraga balap motor. 22 pembalap bersaing sengit melawan batas, dan itu sungguh fantastis. Ketika saya berada di lintasan dan visor helm saya tertutup, saya menjadi lebih agresif. Ada sisi lain dari diri saya yang muncul di lintasan tapi tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari.”

Sama seperti sabahatnya Marco Bezzecchi, Pecco juga merasa bahwa saat berbaris di grid tepat sebelum start (lampu padam) adalah momen yang paling menegangkan. “Saat semua orang pergi dan kita ditingggal sendirian dengan motor, kita mulai merasakan adrenalin yang luar biasa. Mulut terasa kering dan kita sangat gugup saat itu. Rasanya menakutkan, tapi bukan rasa takut yang sebenarnya. Namun kita tahu bahwa kita harus sempurna. Itu adalah salah satu momen paling intens yang kita alami saat balapan,” ungkap rider berusia 28 tahun itu.
Menurut Pecco, rasa takut sangat penting untuk seorang pembalap. “Kita harus punya rasa takut saat balapan. Kita harus tahu di mana batasnya. Bagi saya, batasnya adalah rasa takut. Karena kita tahu betul bahwa kita melebar, kita mulai takut cedera. Jadi rasa takut adalah bagian penting dari dunia balap motor dan kita membutuhkannya untuk mengetahui di mana limitnya,” jelas murid Valentino Rossi itu.

Namun dibalik tekanan dan ketakutan yang kita rasakan, ada sensasi luar biasa ketika semuanya berjalan sempurna. “Ketika kita mencetak waktu tercepat dalam time attack, ketika kita melakukan semuanya dengan sempurna, kita bisa merasakan sensasi yang luar biasa dan merasa seperti seorang ‘super hero’,” pungkas putra Pietro Bagnaia itu.






