RiderTua.com – Bro readers RiderTua sekalian. Cristian Gabarrini yang saat ini menjadi kepala kru Pecco Bagnaia, sedang galau. Apakah dia akan ikut Pecco pindah ke Aprilia atau tetap di Ducati untuk bekerja dengan Pedro Acosta mulai 2027? Sebuah pilihan yang cukup sulit untuknya. Sebagai informasi, ketika Pecco ditanya soal masa depannya, tanpa tedeng aling-aling dia menegaskan bahwa musim depan dia akan meninggalkan Ducati untuk bergabung dengan Aprilia..
Jauh sebelum Pecco membuat keputusan tersebut, agennya mulai menanyakan masa depan Pecco ke Ducati pada akhir musim panas 2025. Tapi selama berbulan-bulan pihak Ducati terus mengelak dan tidak memberikan jawaban yang pasti. Dan akhirnya disadari bahwa Pecco tak diinginkan lagi dan Ducati diketahui merekrut Pedro Acosta untuk 2027. Saat itulah agen Pecco mulai bertindak dengan bernegosiasi dengan Yamaha.
Cristian Gabarrini: Setia Pada Pecco Bagnaia atau Tantangan Baru Bekerja dengan Pedro Acosta, Pilih Mana?

Sebenarnya Yamaha memberikan tawaran yang cukup bagus untuk Pecco Bagnaia. Namun ada 2 faktor utama yang membuat Pecco akhirnya ragu untuk bergabung dengan pabrikan asal Iwata Jepang itu. Pertama, saat tes pramusim 2026 diketahui bahwa performa M1 V4 yang masih dalam tahap pengembangan tidak bisa diandalkan. Kedua, terungkap bahwa Yamaha sudah terlebih dulu mengontrak Jorge Martin sehingga Pecco harus berbagi garasi dengannya.
Kemudian Aprilia memanfaatkan situasi tersebut dengan pendekatan emosional. Mereka bilang bahwa Yamaha pasti akan lebih memprioritaskan Martin dibanding Pecco. Selain itu pabrikan asal Noale itu juga menawarkan RS-GP yang cukup kompetitif tahun lalu. TapiΒ dilihat dari gaji, tawaran Aprilia lebih kecil dibanding Yamaha. Namun sebagai kompensasi Aprilia memberikan kontrak jangka panjang selama 4 tahun dengan skema 2+2 pada Pecco. Pada 2028, kedua belah pihak akan meninjau ulang berdasarkan dari performa. Yah, gajinya lebih sedikit tapi lebih aman dan stabil, sesuatu yang sangat dihargai oleh Pecco.

Begitu kabar Pecco pindah ke Aprilia mencuat, langsung muncul asumsi bahwa Cristian Gabarrini yang telah menjadi kepala krunya sejak debutnya di MotoGP pada 2019 akan ikut pindah bersamanya.
Di MotoGP ada beberapa pembalap yang berhasil membawa kepala teknisi andalannya saat mereka ganti tim atau pabrikan. SepertiΒ Valentino Rossi yang membawa Jeremy Burgess pada 2011 ketika dia pindah ke Ducati. Lalu Jorge Martin yang membawa Daniele Romagnoli ke Aprilia. Di sisi lain ada pembalap yang gagal membawa serta kepala krunya saat pindah. SepertiΒ Marc Marquez yang tidak dapat membawa mantan kepala krunya Santi Hernandez saat pindah ke tim Gresini. Kemudian Jorge Lorenzo yang setelah 9 tahun bersama Ramon Forcada di Yamaha, gagal membawanya saat dia pindah ke Ducati.
Gabarrini adalah lulusan teknik mesin dari Universitas Ancona dan pertama kali bergabung di MotoGP pada akhir 2002 bersama tim LCR sebagai insinyur data. Lalu pada 2005 dia bekerja di Ducati sebagai direktur teknik dan insinyur elektronik selama 2 tahun. Ketika Ducati merekrut Casey Stoner pada 2007, dia ditunjuk menjadi kepala krunya dan sukses memenangkan gelar dunia MotoGP pertama dalam sejarah Ducati sekaligus gelar dunia pertama bagi pembalap asal Australia tersebut.

Ketika Stoner pindah ke Honda pada 2011, dia membawa Gabarrini ikut bersamanya dan langsung meraih gelar dunia di tahun pertamanya. Namun kerjasama keduanya hanya berlangsung 2 tahun karena Stoner memutuskan untuk pensiun (masalah kesehatan).
Pada 2013, Gabarrini menjadi insinyur balap di HRC yang bekerja bersama Marc Marquez dan Dani Pedrosa. Lalu naik menjadi kepala insinyur Honda di MotoGP pada 2015. Satu momen yang kemudian menjadi terkenal terjadi pada 2013, ketika Marquez didiskualifikasi di GP Australia. Gabarrini kecewa dengan keputusan tersebut dan membuat gestur ‘potong leher’ di garasi. Akibatnya dia dikeluarkan dari tim inti Marquez,Β meskipun dia tetap menjabat sebagai kepala teknisi selama 3 musim atau hingga akhir 2016.
Pada 2017 Gabarrini kembali ke Ducati untuk bekerja dengan Jorge Lorenzo dan hanya berlangsung 2 tahun atau hingga akhir 2018. Karena Ducati tidak memperpanjang kontrak Lorenzo, Ducati pun memindahkan Gabarrini ke tim satelitnya Pramac Racing dengan tugas khusus untuk membimbing seorang rookie MotoGP asal Italia, Pecco Bagnaia. Setelah 2 tahun di tim Pramac, Pecco dipromosikan ke tim pabrikan pada 2021 dan Gabarrini tetap menjadi kepala kru-nya.

Hasilnya sungguh luar biasa. Pecco Bagnaia sukses menjadi juara dunia MotoGP dalam 2 tahun berturut-turut yakni pada 2022 dan 2023. Ini artinya Gabarrini berhasil 3 kali mengantarkan pembalapnya meraih gelar dunia MotoGP untuk Ducati. Di musim 2026, kolaborasi Pecco dan Gabarrini memasuki tahun ke-8. Pertanyaannya, apakah mereka akan tetap bersama tatkala Pecco pindah ke Aprilia tahun depan?
Gabarrini menghadapi keputusan yang paling sulit dalam kariernya. Antara tetap loyal atau setia kepada Pecco dan mengikutinya ke Aprilia, atau tetap di Ducati di mana dia akan bekerja bersama seorang bintang baru di MotoGP Pedro Acosta.
Acosta sendiri dikabarkan meminta Ducati agar bisa bekerja bersama Gabarrini. Seorang ‘sumber’ yang tidak mau disebut namanya mengungkapkan, “Mereka sudah saling mengenal, sering berkomunikasi, dan punya chemistry yang baik. Kelihatannya dia akan lanjut bersama Ducati, dan arah keputusan Gabarrini cenderung kesana.”

Ada hal yang menarik lainnya. Banyak yang melihat Acosta sebagai ‘The New Stoner’ dan pembalap berusia 21 tahun itu ingin tahu segala sesuatu tentang Stoner. Bagaimana dia bekerja, apa yang dia minta dari motornya, dan bagaimana gaya balapnya di lintasan. Bagi Acosta, bisa bekerja dengan kepala kru yang memenangkan dua gelar dunia bersama Stoner seperti ‘hadiah besar’.
Faktor lain yang juga tak kalah penting adalah keluarganya. Putranya Matteo Gabarrini adalah seorang pembalap sekaligus anggota VR46 Riders Academy sejak 2024. Baginya, karir anaknya juga sangat penting. Pada 2021 pembalap berusia 17 tahun itu memenangkan CIV (Kejuaraan Balap Motor Italia) di kelas junior MiniGP50 dan kini dianggap sebagai pembalap Moto3 yang menjanjikan di bawah bimbingan legenda MotoGP Valentino Rossi.
Seberapa besar pengaruh keluarga terhadap keputusan Gabarrini? Yang jelas, jika dia tetap bersama Pecco maka ada kemungkinan dia akan semakin dekat dengan VR46 Riders Academy.






