8 Armada: Ducati Mendominasi MotoGP 2022

1

RiderTua.com – Pembalap besutan Yamaha, Fabio Quartararo memang dinobatkan sebagai Juara Dunia MotoGP 2021. Tetapi skuad Ducati berhasil mendominasi di akhir musim. Apakah ini artinya mereka menunjukan daya saing yang kuat untuk musim 2022 dengan menambah pasukannya menjadi 8 penyerang?.. Sebagai contoh di balapan final musim 2021 di Valencia. Cara menang yang luar biasa dengan Podium ‘all-red’ MotoGP pertama dalam sejarah. Hal ini dipertajam dalam tes Jerez (di mana mesin terbaru digunakan) mereka melanjutkan dengan keunggulan di catatan waktu terbaik. Ducati berutang keunggulannya pada inovasinya. Mereka adalah yang pertama memperkenalkan winglet, launch device, dan ride height device. Geometri variabel dibuat untuk mengatasi kelemahan saat belok yang terkenal buruk. Ada fokus yang jelas dalam pengembangan, power dipertahankan, titik kelemahan ditangani. Lawan pasti akan garuk-garuk kepala tahun depan melihat formasi dan formulasi terbaru ini…

Ducati Mendominasi MotoGP 2021

Namun, Fabio Quartararo tercatat dalam buku sejarah pada 2021. Pembalaplah yang membuat perbedaan (menggunakan ungkapan yang sering digunakan Valentino Rossi).

Penggemar Ducati mungkin berpikir, itu sedikit tidak adil. Pabrikan asal Italia itu harus menyalahkan dirinya sendiri. Terlalu banyak pembalap kuat yang bisa berkembang di atas motor balap terbaik di dunia. Ini adalah formula yang menggoda, tetapi juga formula yang dapat melemahkan kesuksesan.

Balapan terakhir musim ini adalah momen yang menarik. Dalam 19 tahun MotoGP, Ducati hanya menang 2 kali di Valencia. Tikungan yang tajam dan trek lurus yang pendek bukanlah kombinasi yang cocok untuk motor yang cepat tetapi selalu understeering. Troy Bayliss dan Casey Stoner diminta untuk mengatasi rintangan ini, dua talenta luar biasa yang bisa memanfaatkan keadaan.

Honda memenangkan sebagian besar balapan di Valencia, ditambah 10 kemenangan yang ditorehkan Yamaha dan 1 kemenangan untuk Suzuki sejak trek itu ditambahkan ke kalender kejuaraan dunia balap motor 1999.

Bagaimana Ducati menampilkan dirinya di trek yang ketat telah berubah sepenuhnya dalam 2 tahun terakhir. Sejauh ini, kekuatan terbesar Desmosedici adalah akselerasi dan kecepatan di trek lurus. Sekarang kombinasi dari inovasi petualang dan rekayasa yang solid telah menghasilkan apa yang disebut runner-up Pecco Bagnaia sebagai ‘motor yang sempurna’. Di Valencia dia merayakan kemenangan ke-4 nya dalam 6 balapan terakhir.

Rekan setimnya dari Tim Lenovo Ducati, Jack Miller, menyatakan, “Kami semua merasa nyaman dengan motor ini. Kami menemukan paket hebat yang berfungsi fantastis sehingga kami tidak perlu menyentuh apa pun. Saya pikir itulah intinya, mendapatkan waktu dengan motor yang sama selama 2 tahun. ”

Selain podium 1-2-3 oleh Bagnaia, Martin dan Miller, jangan lupakan rekan setim Martin di Pramac-Ducati Johann Zarco finis ke-6 di Valencia, kalah dari 2 detik di belakang juara baru Quartararo yang finis ke-5.

Hanya Suzuki dengan performanya yang mulus yang menantang armada Ducati, setidaknya pada tahap awal di Valencia. Alex Rins kemudian crash, dan Mir harus menyerah dan puas finis di posisi ke-4.

Ducati mendominasi akhir musim. Tapi pada akhirnya, itu adalah kesempatan lain yang terlewatkan. Tiga pembalap Ducati yang berbeda memenangkan 7 dari 18 balapan. Sebaliknya, ada 6 kemenangan bagi Yamaha. Faktor penentunya adalah Quartararo mendapatkan 5 kemenangan di antaranya. Tidak ada rider Ducati yang memenangkan lebih dari 4 balapan.

Pengembangan mesin tidak lagi dibekukan untuk musim mendatang. Yang lain dapat mencoba mengejar ketinggalan, tetapi Ducati juga memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh. Hal ini juga berlaku untuk aspek lainnya. Ducati memimpin di semua trek. Ducati memiliki sederet talenta yang memesona untuk tahun 2022. Akankah terbukti Ducati terlalu bagus untuk sebuah tim balap?

1 COMMENT

Leave a Reply