Menakar Kekuatan Pembalap MotoGP di Musim 2021

0

RiderTua.com – Menakar kekuatan pembalap MotoGP di musim 2021… Tinggal menghitung hari balapan pembuka MotoGP musim 2021 bakal digelar. Siapa yang akan menjadi favorit untuk merebut mahkota Kejuaraan Dunia setelah melakoni tes Qatar?.. Bagaimana kejuaraan ini berakhir, mengingat tes pramusim hanya digelar selama 4 hari, di trek yang sama? Serta, ban Michelin mana yang akan bekerja paling baik sepanjang musim ini?.. Siapa yang mendominasi atau konsisten tahun ini, Yamaha semakin di depan atau Suzuki yang nyalakan nyali?

Menakar Kekuatan Pembalap MotoGP di Musim 2021

Losail adalah trek yang tidak biasa dan kondisinya unik. Sejak GP Qatar pertama pada 2004, juara Losail itu baru lima kali meraih gelar. Ini bisa diartikan, jangan terlalu mementingkan tes.

Di sisi lain, para pembalap hanya mempunyai waktu selama 4 hari tes di Losail. Jadi apa yang bisa dipelajari dari ini? Siapa penantang gelar dan siapa yang diunggulkan? Dan berikut adalah peta kekuatan pembalap di musim 2021 ini.

Jack Miller adalah pembalap tercepat dalam catatan waktu gabungan, dan salah satu dari hanya dua pembalap yang tetap membukukan di bawah rekor putaran sepanjang masa. Itu berarti, dia mampu mempertahankan kecepatannya menjelang akhir musim lalu.

Miller adalah satu-satunya pembalap reguler Ducati pada tahun 2020. Beberapa hari yang lalu, dia mengungkapkan bahwa dia sendiri hanya mengerti bagaimana Ducati bekerja dengan konstruksi ban Michelin baru di 3 balapan lagi. Ini tentang bagaimana pembalap memberi tekanan pada ban, lebih halus dan lebih konstan di seluruh tikungan, seperti mesin in-line.

Trio Yamaha M1 atau Morbidelli?

Maverick Vinales hanya tertinggal 0,06 detik di belakang Miller pada akhir tes, dengan kecepatan balapan (race pace) terbaik di lintasan. Tapi kita tahu bahwa, bukan tanpa alasan pembalap asal Spanyol itu dianggap sebagai juara dunia tes musim dingin..

Dalam tes, Fabio Quartararo juga menunjukkan beberapa lap yang sangat cepat. Namun sama seperti Vinales, hal yang sama juga terjadi padanya. Tak hanya itu, ada juga aspek psikologis dari keduanya. Vinales selalu goyah karena dia kesulitan untuk tetap tenang ketika segala sesuatunya tidak berjalan ke arah yang benar. Dan pada akhirnya banyak sekali potensi yang terbuang.

Quartararo sendiri mengaku, jika dia tidak bisa menangani tekanan dengan baik di musim 2020. Memang itu bukan hanya salahnya, M1 tahun lalu sangat tidak konsisten dari satu trek ke trek lainnya. Jelas hal itu selalu menggerogoti kepercayaan diri pembalap.

Pembalap Petronas Franco Morbidelli, kemungkinan berada dalam posisi yang lebih baik ketimbang Vinales dan Quartararo karena tiga alasan. Selama bertahun-tahun, berkali-kali kita melihat pembalap tim satelit Yamaha melakukan keajaiban, sementara pembalap pabrikan terjerat antara satu sasis dan sasis lainnya. Mereka tidak fokus untuk mendapatkan hasil maksimal.

Morbidelli tidak punya masalah. Dia akan kembali menggunakan sasis, dimana dia menjadi pembalap terbaik kedua Yamaha tahun lalu. Bannya tidak mengalami perubahan, jadi Morbidelli bisa dengan tepat merujuk pada data dari tahun sebelumnya.

Sang Juara Bertahan dan Pendatang Baru Honda

Sebelumnya Juara bertahan Joan Mir mengatakan, bahwa dia siap 70 persen untuk race. Faktor terpenting untuk dipertimbangkan adalah, dia baru memasuki musim MotoGP ketiganya. Jadi secara teori, setidaknya dia harus menjadi pembalap yang jauh lebih baik daripada tahun 2020.

Alex Rins pasti akan memenangkan gelar MotoGP pada tahun 2020, seandainya dia tidak mengalami kecelakaan saat kualifikasi di GP Spanyol. Dia menderita cedera bahu disini. Seperti Mir, saat itu dia mengendarai motor terbaik, motor yang bisa memanjakan ban Michelin lebih baik daripada pabrikan yang lain. Rins juga memiliki lebih banyak pengalaman ketimbang Mir. Dan gaya membalapnya lebih lembut, terutama dengan bahan bakar, yang bahkan lebih lembut pada ban.

Pol Espargaro menampilkan performa luar biasa di tes pramusim. Hanya dalam 4 hari, dia sudah bisa beradaptasi baik dengan Honda RC213V.  Sebagai perbandingan, pada 2019 saat Jorge Lorenzo bersama Honda, waktu lap terbaik yang dicatatkan Lorenzo adalah 1: 54,563 menit di kualifikasi dan 1: 56,168 menit di babak kualifikasi. Catatan waktu itu dicapai, setelah menjalani tes selama 9 hari dan balapan penuh di akhir pekan. Pada tes di Losail-Qatar, waktu terbaik Espargaro setelah melakoni tes selama 4 hari adalah menit 1: 53,899. Selain itu, dmelaju dengan kecepatan 1:55 yang dalam.

Tahun lalu penampilan Miguel Oliveira sangat mencengangkan, dia mampu memenangkan dua balapan. Hal ini membuatnya layak disebut sebagai penantang gelar. Pemenang Styria dan GP Portugal itu adalah pemikir sejati, dia dijuluki ‘New Andrea Dovizioso’. Jadi dia tahu apa yang penting dan apa yang tidak.

Aleix dan Aprilia Bukan Penantang Gelar

Pecco Bagnaia yang memiliki kecepatan luar biasa, yang mendapat dukungan penuh dari pabrikan Ducati, dan insinyur data yang membantunya menghilangkan titik kelemahannya untuk menyelinap ke barisan depan.

Johann Zarco adalah ibarat ‘kunci pas yang longgar di dalam kotak perkakas’. Juara dunia Moto2 dua kali itu terkadang super cepat, terutama karena ini tahun keduanya di Ducati dan dia dipromosikan dari Esponsorama ke Pramac dan mendapat upgrade motor di sana.

Valentino Rossi akan menganggap dirinya beruntung jika dia naik podium satu atau dua kali. Jika dia mengawali musim dengan baik, dia bisa lanjut pada 2022.

Aleix Espargaro akan memiliki beberapa pertarungan dengan RS-GP baru, tapi sejauh ini tidak melihat Aprilia sebagai penantang dalam perebutan gelar. Enea Bastianini (yang menurut Davide Tardozzi sebagai pembalap jenius di balap roda dua) mungkin akan menjadi rookie tercepat, setidaknya di awal musim.

Leave a Reply