Valentino Rossi: Permusuhan Sebagai Motivasi!

0

RiderTua.com – Valentino Rossi anggap permusuhan antar sesama pembalap sebagai sebuah motivasi… Namun dengan semakin bertambahnya usia, ada yang berubah dari bintang MotoGP Valentino Rossi. Pembalap Italia yang kini berusia 42 tahun itu, menjadi semakin lembut hatinya, tentu beda dengan kala muda dulu. Tapi saat kita mengenang kembali masa-masa pertarungannya, Rossi sama sekali tak menunjukkan rasa belas kasihan pada lawan-lawannya. Sebut saja Max Biaggi, Sete Gibernau, Casey Stoner, Jorge Lorenzo dan Marc Marquez. Permusuhan psiko (perang mental) Rossi paling populer adalah dengan rekan setimnya di Yamaha, Jorge Lorenzo. Untuk Marquez dia hanya mendapatkan ‘sisa’ dari kekuatan Rossi saja karena usianya jelas bukan lawan sebanding.. Bagaimana jika Rossi dan Marquez seumuran ya.. ? 

Valentino Rossi: Permusuhan Sebagai Motivasi

‘Banyak musuh, banyak kehormatan’, sepertinya itu sudah menjadi motto dari Valentino Rossi. Dimana dia dianggap selalu mencari permusuhan, sebagai tambahan untuk mengeluarkan sedikit motivasi dari dirinya.

Max Biaggi, Sete Gibernau, Casey Stoner, Jorge Lorenzo dan Marc Marquez, itulah ‘pohon-pohon’ yang suka dikepras oleh pembalap asal Italia itu di puncak karirnya.

Untuk bertahan di puncak kejuaraan dunia balap motor selama 25 tahun, dan tetap memimpin di balapan ke-383 seperti di GP Valencia pada 2018, jelas seorang pembalap membutuhkan bahan bakar jenis khusus. Tapi Valentino Rossi dianggap selalu mencari permusuhan terhadap pembalap lain, untuk menjadi kekuatan pendorong karirya. Jelas hal ini banyak yang menyayangkan.

sete-gibernau- valentino-rossi
Sete Gibernau- Valentino Rossi

Sete Gibernau

Pada tahun 2005, pembalap Spanyol Sete Gibernau kehilangan permainannya. Hal itu lantaran timnya mengajukan protes terhadap Rossi pada tahun 2004. Saat itu, tim Rossi di Yamaha telah membersihkan tempat start di GP Qatar, yang jelas melanggar peraturan. Akibatnya, Rossi harus start dari posisi paling buncit alias paling belakang.

Rossi kemudian terjatuh saat mengejarnya. Sehingga peluang Gibernau di Kejuaraan Dunia meningkat. Tapi Rossi tetap memenangkan gelar di tahun pertamanya di Yamaha. Dan Sete pernah memenangkan balapan setelah Qatar pada 2004.

Sebagai ucapan terima kasih atas protes tersebut, Rossi ‘menghukum’ Gibernau dengan mengabaikannya selama bertahun-tahun. Pada tahun 2005, Rossi menabrak Gibernau di lap terakhir GP Jerez. Yang terjadi kemudian bisa ditebak, Gibernau harus berakhir di kerikil.

Rossi berhasil menang 8,6 detik sebelum Gibernau. Para penggemar marah dan mengutuknya. Namun Vale tidak tergerak, dia tetap santai naik ke podium.

Valentino Rossi- Casey Stoner- LagunaSeca- Corkscrew - 2008
Valentino Rossi- Casey Stoner- LagunaSeca- Corkscrew – 2008

Casey Stoner

Sementara dengan Casey Stoner, Vale terus-menerus menebar kebencian. Kedua pembalap yang bertentangan ini memiliki pandangan yang sangat berbeda tentang pabrikan dari Borgo Panigale. Di Ducati Stoner berhasil meraih kejayaan, sementara Rossi tidak.

Valentino-Rossi-dan-Jorge-Lorenzo

Jorge Lorenzo

Permusuhan psiko Rossi paling populer adalah dengan rekan setimnya di Yamaha, Jorge Lorenzo. Dimana pembalap asal Spanyol ini bergabung dengan tim pabrikan Yamaha pada 2008, setelah memenangkan dua gelar Kejuaraan Dunia 250 cc.

Rossi memandang Lorenzo tak lebih dari seorang penyusup yang mengancam supremasinya. Oleh karena itu, dia bersikeras menggunakan secara eksklusif ban Bridgestone dan kemudian berhasil menang.

Sementara Lorenzo hanya mendapatkan ban dari Michelin. Akibatnya, Jorge mengalami beberapa highsiders yang buruk. Selain itu, Rossi juga memasang dinding antara dirinya dan Lorenzo di garasi Yamaha, yang konon untuk mencegah pencurian ide. Kenyataannya, Rossi hanya tidak ingin melihat Lorenzo.

Rossi – Biaggi

Max Biaggi

Terkadang Rossi tidak segan-segan melakukan kekerasan fisik. Pada 2001, setelah balapan 500 cc di Barcelona (Rossi menang 2,5 detik di depan Max Biaggi) terjadi adu mulut dengan Biaggi di tangga menuju ke podium. Saat itu Rossi bahkan sempat adu fisik dengan Max dengan helm yang dibawanya. Akibatnya, Max mengalami luka robek di bawah matanya. “Gigitan nyamuk,” kata Biaggi kepada wartawan.

motogp valentino rossi marc marquez

Marc Marquez

Pada 2015, Rossi berjuang lagi untuk merebut gelar melawan rekan setimnya di Yamaha, Jorge Lorenzo. Pada balapan di Australia, dia berpendapat bahwa juara dunia asal Spanyol Marc Marquez sudah putus asa untuk membantu rekan senegaranya Lorenzo.

Dan penyataan mengejutkan dari Rossi ini diungkapkan langsung kepada para wartawan pada Kamis, sebelum balapan berikutnya di Sepang. Dan hari itu, semua orang di Yamaha tahu bahwa itu adalah kesalahan terburuk dalam karir Rossi.

Karena Marquez sebenarnya hanya melakukan apa yang benar-benar diperlukan dalam balapan di Sepang. Dia menghentikan Rossi di setiap tikungan, melaju hampir 1 detik lebih lambat daripada saat latihan dan membiarkan Dani Pedrosa menang.

Rossi yang sangat kesal melakukan manuver terhadap Marquez, yang membuat pembalap asal Spanyol itu jatuh. Rossi bahkan dituding sempat menendang kaki Marquez, namun hal ini belum bisa dikonfirmasi dengan pasti.

Lorenzo pun bersorak di podium setelah finis di tempat kedua (di belakang Pedrosa). Dia menunjukkan gestur jempol ke bawah. Dia menuntut diskualifikasi terhadap rekan setimnya itu.

Di Sepang, Rossi menduduki tempat ketiga. Namun di balapan terakhir musim ini di Valencia, dia harus start dari tempat terakhir di grid. Dan karena itu, dia mempertaruhkan gelar juara dunia melawan Lorenzo dengan terpaut 5 poin.

Uniknya, saat dia mendapat rekan setim Maverick Vinales, Rossi tidak lagi bermusuhan. Kenapa? Karena Maverick tak pernah meraih gelar juara dunia, dan dia kerap berada dalam bayang-bayang juara dunia 9 kali itu.

Leave a Reply