RiderTua.com – Pada 15 Juli lalu, Pecco Bagnaia menjalani operasi arm pump (compartment syndrome) atau usai balapan di Sachsenring. Jelas hal ini mengejutkan karena rider Ducati Lenovo itu tidak pernah mengeluh sakit pada lengannya.
Sambil tersenyum Pecco menjelaskan, “Saya bukan tipe orang yang akan mengatakan hal seperti itu di depan kamera. Sepanjang karier saya, saya belum pernah mengalami masalah pada lengan. Namun tahun ini saya menghadapi kesulitan saat mengendarai motor, yang membuat operasi menjadi suatu keharusan.”
Pecco Bagnaia: Masalah Arm Pump yang Saya Alami Ada Kaitannya dengan Motor

Kapan Pecco Bagnaia menyadari bahwa operasi arm pump tak bisa dihindari? Rider asal Turin Italia itu mengaku bahwa masalah pada lengan bawah sebelah kanan tersebut mulai muncul di Jerez. Tapi sayangnya, dia tidak bisa menemukan solusi untuk memperbaikinya dan kondisinya terus memburuk.
Selama ini Pecco belum pernah mengalami masalah arm pump, hal ini baru terjadi tahun ini. “Ini ada kaitannya dengan motor,” ungkapnya singkat tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Pecco menjelaskan kondisinya pasca operasi, “Libur musim panas kali ini tidaklah mudah. Saya harus menjalani banyak perawatan untuk memulihkan lengan saya. Saya hanya punya waktu istirahat 4 hari, karena setelah itu saya harus menjalani latihan yang sangat intens. Namun menurut saya, kami sudah bekerja dengan baik dan kondisinya sudah hampir siap.”

“Kita lihat saja nanti bagaimana hasilnya. Ini adalah sirkuit yang sulit, tetapi juga salah satu favorit saya. Saya tahu betapa pentingnya set-up yang tepat di sini. Grip roda belakang menjadi masalah terbesar musim ini. Kami harus mengatasinya dan berharap Ducati berhasil menemukan solusi selama libur musim panas untuk memperbaiki situasi saya,” imbuh juara dunia 3 kali itu.
Tercatat ada 11 pemenang berbeda dalam 11 Grand Prix terakhir di Silverstone dan Pecco Bagnaia sendiri memenangkan GP Inggris pada 2022. Mengapa tidak ada pembalap yang mendominasi di sirkuit yang panjang (5,891 km) dan cepat itu?
Rider berusia 29 tahun itu menjawab, “Itu pertanyaan yang bagus. Namun berdasarkan pengalaman sebelumnya, saya memenangkan balapan tapi faktanya saya bukanlah pembalap tercepat. Saya menerapkan strategi menunggu. Di trek ini, strategi menunggu sangat efektif karena dapat mengurangi keausan ban dan memungkinkan kita untuk memanfaatkan slipstream dari pembalap di depan. Kita harus menjaga ritme balapan dan terus menempel pembalap di depan kita.”
“Pada 2024, performa saya sangat kuat. Saya memimpin selama separuh balapan. Kemudian Jorge Martin menyalip saya dan memimpin selama 8 lap. Namun pada akhirnya, Enea Bastianini yang menang. Dia terus membuntuti kami sepanjang balapan. Sebelumnya saat saya menang pada 2022, saya menghabiskan hampir seluruh balapan di posisi ke-4 atau ke-5. Kemudian sedikit demi sedikit saya merangsek maju hingga akhirnya bisa menyalip Alex Rins. Meski begitu, saya tidak ingin langsung melesat menjauh, saya ingin tetap tenang. Keausan ban sangat berpengaruh di sini. Kita harus bersabar,” jelasnya.

Selama libur musim panas, Pecco berlatih di Misano dengan mengendarai Ducati Panigale bersama rekan-rekannya dari VR46 Academy dan juga gurunya Valentino Rossi. “Saya menjalani dua sesi. Pada sesi pertama, saya berhenti setelah hanya melahap 2 lap. Pada sesi kedua, saya melahap 30 lap dan kondisinya sedikit lebih baik. Latihan itu sekitar 10 hari yang lalu,” ujar putra Pietro Bagnaia itu.
Pecco melanjutkan, “Saya berharap kondisinya kini sudah lebih baik. Mengendarai motor MotoGP sangat berbeda dibandingkan Panigale. Meski demikian, Panigale lebih sulit dikendalikan saat pengereman karena membutuhkan kekuatan fisik yang lebih besar. Mungkin saya akan mengonsumsi obat pereda nyeri saat memulai balapan akhir pekan di sini.”
Saat ini Francesco Bagnaia hanya menempati peringkat 8 dalam klasemen, tertinggal 65 poin dari pemimpin klasemen Jorge Martin (Aprilia). Apakah dia merasa masih punya peluang untuk memperebutkan gelar dunia?

“Untuk saat ini saya tidak memikirkan soal memenangkan juara dunia. Kecepatan saya masih kurang, dan saya juga belum mendapatkan feel yang pas dengan motornya. Saya menjalani balapan demi balapan, sembari berusaha memperbaiki situasi. Finis di posisi 5 besar adalah target yang realistis untuk saat ini. Jika saya bisa terus berkembang dan bersaing memperebutkan podium di setiap balapan akhir pekan, maka tentu saja itu bisa dicapai,” pungkas Pecco.












