RiderTua.com – Enea Bastianini ternyata masih belum ketemu cara yang bener-bener pas buat naklukin KTM RC16. Juara dunia Moto2 2020 ini masih terus putar otak nyari solusi di tengah karakter motor yang menurutnya rumit banget. Padahal di saat yang sama, dia juga udah mulai ngelirik masa depan yang bakal ngasih tantangan baru di tahun 2027.
Musim ini emang berjalan nggak sesuai ekspektasi Bastianini. Pembalap asal Rimini ini sebenernya tetep usaha keras buat ningkatin performanya bareng KTM Tech3 dan pengen nutup musim dengan hasil semaksimal mungkin. Tapi tetep aja, pikirannya perlahan udah mulai fokus ke petualangan berikutnya setelah musim ini kelar…
βΆDaftar Isi
KTM RC16 Masih Jadi Tantangan Enea Bastianini, Masa Depan Bersama Aprilia Mulai Terbuka
Sebelumnya, sempat muncul tanda-tanda positif ketika Bastianini tampil di Sirkuit Assen. Performa dan kepercayaan dirinya terlihat alami peningkatan. Namun, tren tersebut tak berlanjut ketika MotoGP tiba di Sachsenring untuk GP Jerman.

Bastianini gagal tembus kualifikasi utama Q2 dan harus memulai balapan dari posisi ke-15. Situasi itu membuatnya harus bekerja lebih keras sejak awal akhir pekan balapan. Pada Sprint Race, ia hanya mampu finis di posisi ke-14. Meski demikian, Bastianini kemudian bangkit pada balapan utama. Start dari posisi ke-15, ia berhasil merangsek hingga finis di urutan kesembilan.
Namun, hasil tersebut juga tak sepenuhnya gambarkan potensi sebenarnya. Posisi 10 besar yang diraih Bastianini turut terbantu oleh jatuhnya Alex Marquez dan Fabio Di Giannantonio. Secara keseluruhan, level performa yang mampu ia tunjukkan di Jerman masih berada di titik yang cukup rendah.
Karena itulah jeda sebelum GP Inggris jadi penting bagi KTM Tech3. Seri berikutnya akan berlangsung di Sirkuit Silverstone pada 7 hingga 9 Agustus. Masa tanpa balapan tersebut diharapkan bisa dimanfaatkan tim untuk mempelajari data secara lebih mendalam dan cari solusi teknis baru.

Masalah Mesin KTM RC16
Kepada media Motosan, Bastianini secara terbuka gambarkan akhir pekan di Sachsenring sebagai periode yang sangat rumit dengan sedikit hal positif. Salah satu persoalan utama yang ia rasakan berkaitan dengan karakter engine brake KTM RC16.
Menurut Bastianini, sistem rem mesin tersebut sebenarnya tak selalu jadi masalah besar. Namun, persoalan mulai terasa sangat kuat pada 10 lap pertama balapan. Ketika efek engine brake bekerja terlalu agresif, motor jadi banyak bergerak dan kehilangan kestabilannya. Situasi tersebut kemudian jadi salah satu hambatan utama dalam gaya berkendaranya.
Tim dan para mekanik sudah coba berbagai variasi solusi sepanjang akhir pekan. Akan tetapi, perubahan yang dilakukan belum mampu hilangkan persoalan tersebut. Masalah yang sama tetap muncul ketika Bastianini harus kendalikan motor dalam situasi balapan.

Karakter KTM RC16 sendiri memang membuat tugas pembalap jadi sangat menuntut. Motor tersebut dinilai rumit, tak stabil, sulitkan proses pengereman dan penikungan, sekaligus menguras fisik. Namun bagi Bastianini, tingkat ketidakstabilan motor bukanlah persoalan paling besar.
Masalah yang lebih sulit justru muncul ketika engine brake tak bekerja sesuai kebutuhan. Saat memasuki tikungan dengan gigi tinggi, seperti gigi 5, 6, atau 7, pembalap membutuhkan respons motor yang tepat ketika mulai membelok. Jika fungsi pengereman tak bekerja sebagaimana mestinya, gaya berkendara yang sama akan sulit dipertahankan sepanjang balapan.
Bastianini sendiri ngakuin kondisi fisiknya masih baik. Namun, situasi berbeda dialami beberapa pembalap KTM lainnya. Pedro Acosta dan Brad Binder juga dilaporkan ngalamin persoalan fisik atau kelelahan pada bagian lengan akibat tuntutan dalam kendalikan RC16.
Artinya, persoalan yang dihadapi bukan hanya milik satu pembalap. Mengendalikan motor KTM sepanjang jarak balapan penuh memang bukan tugas mudah. Karena itu, kerja sama antara Bastianini, KTM, dan kru Tech3 akan jadi bagian penting untuk menemukan langkah maju.

Sudah Mikir Aprilia
Di tengah persoalan tersebut, masa depan Bastianini mulai mengarah ke proyek baru. Ia tetap ingin memberikan yang terbaik bersama KTM saat ini, tetapi mulai menatap tahun 2027. Pembalap Italia itu sangat menantikan kesempatan untuk cobain motor Aprilia bersama tim satelit asal Amerika Serikat, Trackhouse.
Pengumuman resmi mengenai masa depannya memang belum dirilis. Namun, arah kariernya sudah mulai terlihat. Bastianini sebenarnya memiliki peluang untuk kendarai motor RS-GP tim pabrikan Aprilia sejak 2025. Pada saat itu, bersama manajernya, Carlo Pernat, ia memilih proyek KTM.
Kini, jika memiliki kesempatan untuk memutar waktu, keputusan tersebut jadi sesuatu yang disesalinya. Pengalaman bersama KTM membuat Bastianini semakin memahami betapa sulitnya temukan performa konsisten dengan RC16.

Harapan besar pun diarahkan pada 2027. MotoGP akan memasuki era regulasi teknis baru dan juga sambut Pirelli sebagai pemasok ban baru. Perubahan besar tersebut jadi kesempatan bagi Bastianini untuk kembali tunjukkin potensi terbaiknya.
Target rekan setim Maverick Vinales saat ini jelas: pengen bisa bersaing konsisten di papan atas, sekalian buka peluang buat naik podium dan menang lagi… hal yang selama ini cuma bisa dia dapetin sesekali aja bareng KTM Tech3.
Jadi, perjalanan Bastianini sekarang bukan cuma soal gimana dia nyelesaiin musim ini. Ada misi jangka pendek buat nyari solusi bareng KTM, tapi ada juga harapan besar buat masa depannya. Setelah sekian lama berkutat nyoba mahamin karakter RC16, Bastianini sekarang mulai nungguin kesempatan buat buka lembaran baru di era MotoGP 2027… Kita tunggu saja hasilnya pembalap satu ini, yang menurut beberapa pengamat Bestia ini adalah ‘berlian’ yang dibuang Ducati…(rt)












