RiderTua.com – Sebagai mantan pembalap Ducati, Casey Stoner hadir dalam acara World Ducati Week pada awal Juli lalu bersama sejumlah legenda balap motor yang lain. Salah satu momen yang paling menarik dan istimewa yakni tatkala Marc Marquez, Pecco Bagnaia, dan Stoner berada dalam satu frame.
Dalam acara tersebut, Pecco secara khusus menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Stoner atas semua bantuan baik saran maupun nasihat yang selama ini dia terima dari legenda MotoGP asal Australia itu. Menurutnya, mantan pembalap yang saat ini berusia 40 tahun itu punya kemampuan melihat ‘sesuatu’ yang tidak disadari pembalap profesional manapun.
βΆDaftar Isi
Casey Stoner Tidak akan Berbagi Pengetahuan dengan Siapa Pun Secara Gratis
Casey Stoner mengatakan, “Saya sudah terlalu banyak berkorban, tapi berkali-kali saya tidak menerima balasan seperti yang saya harapkan. Rasanya tidak ada penghargaan ketika melakukan hal-hal seperti ini. Merupakan kehormatan besar bagi saya mendengar Pecco berterima kasih kepada saya, dan saya melakukannya hanya untuk membantunya. Tapi kedepannya, saya tidak akan melakukan hal seperti itu untuk siapa pun.”

Mengapa Stoner tidak tertarik kembali ke paddock MotoGP, misalnya sebagai manajer atau penasihat tim? “Saya tidak akan berbagi pengetahuan saya dengan siapa pun, tanpa imbalan. Sayangnya, dulu saya sudah terlalu sering melakukannya. Awalnya mereka mendekati kita karena butuh bantuan, tapi setelah mereka mendapatkan apa yang diinginkan, mereka akan melupakan kita begitu saja. Saya tidak akan membuat kesalahan yang sama lagi. Saya tidak akan membantu tanpa alasan, dan saya tidak akan melakukannya secara cuma-cuma. Itulah alasan utama saya,” tegas juara dunia MotoGP 2 kali itu.
Pembalap Muda Australia Bagaimana?
Bagaimana perkembangan pembalap muda Australia saat ini? “Saat ini dunia balap motor di Australia benar-benar sedang sulit, nyaris tidak ada apa-apa. Tidak ada anggaran yang cukup untuk melakukan ‘sesuatu’, semuanya sangat rumit. Bahkan keinginan untuk membantu pembalap muda pun juga sulit. Dan masalahnya selalu sama, semua itu menghabiskan banyak waktu,” ungkap Stoner.
Dia melanjutkan, “Saya tidak ingin membuang waktu dan energi saya untuk hal-hal yang tidak penting, ketika ada keluarga yang harus saya prioritaskan. Saya akan menunggu kesempatan yang tepat, dan mungkin kedepannya saya akan mengabdikan diri untuk membantu. Tetapi saya tidak akan memberikan pengetahuan saya secara gratis kepada orang-orang yang kemudian berpaling dari saya dan menganggap itu hal biasa. Sekarang cara pandang saya berbeda.”

Selamat Tinggal Phillip Island
BTW, 2026 merupakan tahun terakhir Phillip Island menjadi tuan rumah MotoGP. “Ini benar-benar menyedihkan. Pada saat yang sama, ini menunjukkan kepada kita ke mana arah MotoGP kedepannya. Ini bukan lagi tentang kemurnian balapan, padahal inilah yang saya perjuangkan selama ini. MotoGP mulai mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan F1,” tegas Stoner.
Stoner melanjutkan. “Kita mengalami masalah yang sama dengan aerodinamika yang semakin mendominasi. Saat ini semakin banyak perangkat yang dipasang pada motor, yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Beberapa tahun yang lalu, sebenarnya F1 sudah menyadari hal-hal ini. Secara teknologi memang sangat maju, tetapi tidak sebanding dengan MotoGp yang terus menambahkan berbagai perangkat baru. Harus ada batasan.”

Mulai tahun depan, GP Australia akan digelar di sirkuit jalanan di Adelaide. “Sepertinya mereka akan mencoba balapan di sirkuit dalam kota. Menurut saya, mustahil membuat sirkuit jalanan yang benar-benar aman. Seperti yang terjadi pada Marco Bezzecchi di Assen, ketika dia nyaris menabrak dinding pembatas. Bahkan di trek permanen yang punya area run-off yang luas, pembalap tetap masih bisa menabrak dinding,” tegas Stoner.
Stoner mengaku sangat sedih kehilangan Phillip Island dalam kalender MotoGP. “Phillip Island berada di lokasi yang fantastis. Memang tidak mudah untuk mencapai tempat itu dan fasilitas di sekitar trek juga tidak memadai. ββTetapi justru sepadan dengan kualitas treknya. Trek tersebut selalu menyuguhkan balapan terbaik setiap musim, selalu memberikan sesuatu yang istimewa. Dan sekarang kita kehilangan semua itu, yang benar-benar sangat saya sesalkan,” pungkas suami Adriana Tuchyna itu.
Stoner Ragukan MotoGP 2027, Khawatir Balapan Makin Sulit Menyalip…
Sementara itu soal regulasi baru, Casey Stoner balik lagi melontarkan kritiknya terhadap arah perkembangan MotoGP modern. Mantan juara dunia ini menilai kalau kejuaraan sekarang makin tergantung sama teknologi dan elektronik, terutama lewat fitur-fitur kayak sistem anti-highside atau stability control. Menurut Stoner, teknologi semacam itu bikin motor jadi lebih gampang dikendalikan, yang ujung-ujungnya berisiko ngurangin peran skill alami dari si pembalap. Dia bahkan ngerasa balapan zaman sekarang lebih banyak mamerin kejeniusan para insinyur dalam ngembangin teknologi ketimbang murni bakat pembalap di atas lintasan.

Pandangan kritis Stoner juga tertuju pada regulasi baru MotoGP 2027 dengan motor berkapasitas 850cc. Ia masih meragukan apakah perubahan tersebut benar-benar akan membuat balapan lebih aman atau lebih baik. Kekhawatirannya, zona pengereman justru menjadi lebih pendek, sementara aerodinamika masih memiliki pengaruh besar dan aksi menyalip semakin sulit dilakukan. Artinya, perubahan kapasitas mesin belum tentu otomatis mengembalikan karakter balapan yang lebih menarik.
Di tengah kritik terhadap arah teknis MotoGP, Stoner juga menyoroti perubahan pada kalender kejuaraan. Ia menyayangkan keputusan menghapus sirkuit ikonik seperti Phillip Island, yang menurutnya menjadi bagian dari hilangnya kemurnian esensi balapan. Bagi Stoner, MotoGP seharusnya tetap menghadirkan tantangan yang membuat pembalap benar-benar bekerja keras untuk mengendalikan motor.
Karena itu, Stoner lebih memilih melihat motor yang sulit dikendalikan, dengan pembalap harus berjuang mencari grip serta mengontrol tenaga mesin mereka sendiri. Menurut pandangannya, kondisi semacam itu akan membuat kemampuan alami pembalap kembali menjadi faktor penting dalam sebuah balapan, bukan sekadar seberapa baik teknologi dan perangkat elektronik bekerja.

Pada akhirnya, kritik dari Casey Stoner ini berpusat pada kekhawatiran kalau kemajuan teknologi yang kelewatan bisa bikin MotoGP kehilangan sebagian dari identitas utamanya. Di tengah persiapan menuju era baru dengan regulasi 850cc pada 2027 nanti, dia berharap canggihnya teknologi nggak sampai ngilangin esensi paling mendasar dari balap motor: pembalap yang harus menaklukkan motor sulit lewat kemampuan mereka sendiri. (rt)












