RiderTua.com – Carlo Pernat menilai keputusan Pecco Bagnaia buat gabung ke Aprilia itu jadi salah satu pilihan paling berani yang bisa diambil sama pembalap MotoGP. Alasan utamanya bukan karena duit, tapi justru karena Bagnaia milih jalur yang jauh lebih menantang demi satu tujuan: membangun perlawanan terhadap Ducati dan Marc Marquez.
▶Daftar Isi
Pecco Bagnaia Rela Kehilangan Separuh Tawaran Yamaha, Sementara Bezzecchi Dinilai Harus Belajar dari Marc Marquez
Di waktu yang sama, Pernat juga ngasih rapor buat Marco Bezzecchi di momen paruh musim. Nilainya sih emang masih masuk kategori lulus, tapi situasi yang lagi dihadapi sama pembalap Aprilia ini dinilai jauh lebih rumit kalau dibandingin sama musim lalu.
Analisis tersebut jadi sorotan utama ketika Pernat evaluasi para pembalap Italia yang bersaing di Kejuaraan Dunia. Dari seluruh pembahasan, keputusan Bagnaia dan kondisi psikologis Bezzecchi jadi dua cerita yang paling menarik perhatian.

Menurut Pernat, Massimo Rivola ngambil keputusan yang aman ketika berusaha merekrut Bagnaia ke Aprilia. CEO Aprilia tersebut membujuk Bagnaia untuk tinggalkan Ducati dan bergabung dengan proyek yang dianggap mampu sediakan motor kompetitif. Menariknya, proses tersebut berlangsung ketika Bagnaia juga tengah melakukan negosiasi kontrak dengan Yamaha.
Di titik inilah pilihan Bagnaia jadi sangat penting. Secara finansial, Yamaha tawarkan nilai yang jauh lebih besar. Bagnaia disebut bisa dapetin uang dua kali lipat dibandingkan jumlah yang diterimanya di Aprilia. Dengan kata lain, ia memilih menerima sekitar 50 persen dari tawaran Yamaha.
Karena itu, Pernat nilai keputusan tersebut tak didasarkan pada pertimbangan ekonomi. Bagnaia memilih jalur teknis dan kompetisi. Jika memilih Yamaha, langkah tersebut bisa dianggap sebagai keputusan yang lebih aman dari sisi portofolio dan finansial. Namun, bersama Aprilia, Bagnaia justru memilih sebuah pertempuran yang sejak awal dipahami tak akan mudah.
Ambisinya pun sangat jelas. Bagnaia ingin membangun kekuatan baru untuk hadapi Ducati dan Marc Marquez. Keputusan tersebut, menurut Pernat, merupakan tindakan sportif yang layak dihormati karena sang pembalap rela mempertaruhkan separuh nilai tawaran finansial demi peluang mengejar gelar juara dunia melalui jalur yang lebih menantang.

Meski demikian, tantangan Bagnaia tak berhenti pada performa motor. Perpindahan tersebut juga ngerubah seluruh dinamika di sekelilingnya. Bagnaia disebut tak lagi ingin mengetahui apa pun tentang Ducati, sementara tak ada satu pun kru teknis lamanya yang ikut pindah ke Aprilia.
Termasuk Christian Gabbiadini, kepala mekanik yang selama ini jadi bagian penting dari perjalanan Bagnaia. tak ada satu pun kru teknis yang berganti tim bersamanya. Artinya, Bagnaia harus membangun kembali lingkungan kerjanya di tempat baru.
Namun, keputusan besar tersebut tetap memiliki fondasi yang menjanjikan. Motor Aprilia saat ini sudah menunjukkan performa yang sangat kompetitif. Memang belum ada kepastian mengenai seberapa kuat motor masa depan ketika regulasi mesin 850cc mulai berlaku. Meski begitu, Pernat nilai motor buatan Aprilia maupun Ducati akan tetap jadi kekuatan kompetitif.
Tekanan Berat yang Dihadapi Marco Bezzecchi
Sementara itu, perhatian Pernat langsung beralih ke Bezzecchi. Situasi dia musim ini dinilai jauh lebih susah kalau dibandingin sama tahun lalu. Di musim sebelumnya, Bezzecchi dapat keuntungan gede banget karena jadi fokus utamanya Aprilia.
Waktu itu, Jorge Martin nggak bisa bersaing secara maksimal gara-gara sering kecelakaan, sedangkan rekan setim Bezzecchi yang satunya lagi itu Lorenzo Savadori. Pernat menilai Savadori ini bukan pembalap yang posisinya siap buat bertarung di level kejuaraan dunia. Kondisi inilah yang bikin hampir semua sumber daya dan perhatian Aprilia terpusat penuh ke Bezzecchi.

Akan tetapi, situasi itu berubah total. Bezzecchi kini harus hadapi Marc Marquez sekaligus Martin, yang justru jadi rekan setimnya sendiri. Bagi Pernat, Martin merupakan tipe rekan setim yang sangat sulit karena memiliki kekuatan kompetitif yang besar.
Situasi tersebut semakin rumit karena Martin sudah resmi akan pindah ke Yamaha musim depan. Dengan masa depan yang sudah ditentukan, ia memiliki motivasi untuk meraih kemenangan tanpa harus terlalu memikirkan kepentingan Bezzecchi sebagai rekan setim.
Dinamika internal kemudian capai titik yang sangat sulit setelah insiden di GP Hungaria. Keharmonisan di dalam tim Aprilia disebut ngalami keretakan. Hubungan antarpembalap memburuk, sementara hubungan di antara kepala teknis masing-masing pihak juga tak lagi berjalan seperti sebelumnya.
Karena itulah, Pernat menilai Bezzecchi harus kelola kembali kondisi mentalnya. Lompatan performanya pada musim lalu memang sangat kuat, tetapi situasi sekarang menuntut kemampuan berbeda. Bezzecchi harus lebih mampu kendalikan dirinya setelah terlalu sering ngalami crash di lintasan.
Meski hadapi tekanan besar, Bezzecchi tetap dapatkan nilai 7 dari Pernat untuk rapor paruh musimnya. Nilai tersebut bahkan datang ketika ia mampu berada di posisi pertama klasemen Kejuaraan Dunia setelah sebelumnya sempat tertahan di peringkat ketiga hingga Minggu sebelumnya.

Belajar dari Marc
Namun, jika ingin tingkatin nilainya menjadi 8 atau bahkan 9, Bezzecchi dinilai harus memperbaiki cara ngelola pikirannya. Pernat sarankan agar ia belajar dari Marc Marquez, terutama dalam hal mengontrol diri setelah ngalami situasi sulit.
Marquez dinilai mampu terima hasil yang realistis setelah sebuah kecelakaan dan tak selalu memaksakan diri untuk dapetin hasil maksimal. Bagi Bezzecchi, kemampuan untuk menenangkan diri dan gunakan kontrol pikiran secara lebih matang bisa jadi kunci penting untuk hadapi persaingan yang kini jauh lebih berat.
Jadi, Aprilia sekarang lagi ngadepin dua cerita yang beda banget. Bagnaia datang lewat keputusan besar buat bangun perlawanan ke Ducati, meskipun dia harus rela korbanin separuh dari nilai tawaran finansialnya (gaji di Aprilia separuh lebih kecil dari tawaran Yamaha). Sementara itu, Bezzecchi harus bisa nemuin lagi keseimbangan dirinya di tengah persaingan internal dan tekanan dari dua pembalap top.

Dua-duanya punya tantangan masing-masing. Bagnaia milih jalan yang lebih susah demi ngejar ambisi besarnya, sedangkan Bezzecchi harus belajar gimana caranya ngelola tekanan yang datang dari keberhasilan dan persaingan di sekelilingnya. Ujung-ujungnya, kelanjutan kisah mereka bakal bergantung banget sama kemampuan masing-masing dalam hadapi babak baru ini. (rt)












