RiderTua.com – Carlo Pernat menyoroti kegagalan Marco Bezzecchi dalam mempertahankan posisinya sebagai pemimpin klasemen usai TT Belanda dua pekan yang lalu. Sebelumnya rider Italia itu sudah dua kali gagal mencetak poin dalam 2 balapan di GP Hungaria dan Ceko. Dan gongnya, di saat pembalap Aprilia yang lain meraih kesuksesan di TT Assen dengan menyapu bersih podium, doi justru kembali DNF setelah crash di lap ke-2. Hasil apik untuk memperlebar keunggulannya di klasemen sekaligus misinya untuk mempertahankan status sebagai puncak klasemen, ambyar seketika.
“Ini benar-benar Grand Prix yang luar biasa. Tahun ini adalah musim di mana kita tidak bisa mengatakan sesuatu yang pasti, karena kejutan selalu muncul setiap saat. Tetapi yang pasti, di sirkuit cepat Aprilia benar-benar selangkah lebih maju dari Ducati. Ini fakta! Ini adalah trek yang cepat, dan terlebih lagi ada 3 Aprilia di podium dengan Ai Ogura, Raul Fernandez, dan Jorge Martin,” ujar Pernat.
Carlo Pernat: Bezzecchi Mendapat Tekanan yang Lebih Besar dari Martin Ketimbang dari Marc Marquez

Absennya Marco Bezzecchi di podium, membuat Carlo Pernat khawatir. Menurutnya, situasi di Aprilia saat ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan tahun lalu. “Ada alasan untuk merasa sedikit khawatir, karena tahun lalu Marco terbiasa menjadi satu-satunya pembalap utama di Aprilia. Tanpa bermaksud meremehkan peran tes rider Lorenzo Savadori, tetapi dia benar-benar sendirian,” ujarnya.
Pernat melanjutkan, “Dengan semua crash yang dialami Martin yang membuatnya absen nyaris sepanjang musim dan semua masalah yang dia hadapi serta keinginannya untuk meninggalkan Aprilia, Marco benar-benar sendirian. Dia menjadi pemimpin di Aprilia, dia menjadi nomor satu, dia mendorong perusahaan untuk maju, dan perusahaan juga mendorongnya untuk maju. Suasana sangat luar biasa.”
Tahun lalu, Bezzecchi nyaris tidak punya tekanan besar dari rekan setim yang biasa terjadi. “Dia tidak memiliki persaingan internal. Kemudian Martin cedera. Jadi paruh kedua musim 2025 berjalan sangat bagus, tetapi Marco tidak punya banyak saingan. Mungkin ini adalah sesuatu yang tidak kami pikirkan sebelumnya. Tahun ini dia memulai dengan ambisi untuk memenangkan gelar dunia, dan itu wajar setelah musim yang luar biasa,” jelas Pernat.

Tapi situasinya berbeda tatkala musim ini Martin sudah pulih 100 persen dari cederanya. “Tetapi sekarang rekan setimnya ada di sana, namanya Martin. Menurut pendapat saya, hal itu memberikan tekanan besar padanya bahkan tekanannya lebih besar ketimbang yang diberikan Marc Marquez. Karena Martin-lah yang harus dikalahkan di dalam timnya sendiri. Dan dia melakukan kesalahan yang tidak biasa dia lakukan. Itu adalah kesalahan mendasar,” tegas Pernat.
Mantan manajer Enea Bastianini juga menyoroti perebutan gelar dunia musim ini, yang menurutnya tidak ada favorit yang jelas. “Ada 7 pembalap yang terpaut hanya 50 atau 60 poin. Menurut saya, mereka semua masih bisa memenangkan gelar dunia. Alasannya, karena terjadi banyak sekali crash dan bermacam-macam masalah. Dan saya ulangi, jumlah balapan terlalu banyak dengan Sprint race dan MotoGP race. Itu berarti 44 start antara hari Sabtu dan Minggu dan itu terlalu banyak. Lihat saja crash yang dialami Alex Marquez dan Fermin Aldeguer yang cedera pada tulang belakang. Bagaimanapun, cedera ini juga disebabkan oleh semua ini,” tegas Pernat.
Pernat juga menyoroti kondisi Marc Marquez, yang menurutnya menghadapi dua kesulitan sekaligus yakni kondisi fisik dan adaptasinya dengan motor Ducati yang baru. “Harus dikatakan bahwa Marquez sedang kesulitan. Menurut saya, dia kesulitan secara fisik. Saya yakin akan hal itu. Tapi saya rasa, dia juga mengalami masalah dengan motornya. Karena motor ini tidak pernah patuh dan pembalap selalu harus menyesuaikannya dengan berbagai gerakan dan perubahan,” jelasnya.

Pernat menambahkan, “Lihat Pecco Bagnaia. Dia tampak baik-baik saja, tetapi sebenarnya tidak juga. Fabio Di Giannantonio terkadang mampu menjalani balapan yang bagus. Dia berada di barisan depan untuk bersaing dalam perebutan gelar dunia, karena dia sekarang berada di peringkat 3. Saya melihat Di Giannantonio sangat bahagia. Posisinya di klasemen sangat menguntungkannya.”
Musim ini Marquez harus menyelesaikan dua pertarungan sekaligus. “Tapi Marquez juga sedang kesulitan dengan motornya. Dua pertarungan sekaligus yakni pertarungan pribadi dengan kondisi fisiknya, dan juga pertarungan dengan motor yang harus disetel dengan baik. Mungkin dia juga sedikit kebingungan. Mari kita tunggu pada balapan berikutnya di Sachsenring. Kemudian dia bisa istirahat saat libur musim panas,” pungkas manajer gaek asal Italia itu.
Menjelang GP Jerman akhir pekan ini, Martin memimpin klasemen hanya unggul tipis 7 poin atas Bezzecchi. Sementara Marquez berada di peringkat 5 tertinggal 40 poin dari Martin. Dan selisih poin dari pembalap pertama hingga ke-8 (Pecco Bagnaia) dalam klasemen hanya terpaut 63 poin saja, ini artinya ke-8 pembalap tersebut masih berpeluang besar meraih gelar dunia MotoGP 2026 dengan 12 seri atau 24 balapan yang masih tersisa.















