RiderTua.com – Seperti kebanyakan pembalap, Marc Marquez merintis karirnya di dunia balap motor sejak kecil. Bahkan dia mendapatkan motor pertamanya saat berusia 4 tahun. “Ulang tahun saya di bulan Februari, dan pada hari Natal saya menerima hadiah Yamaha Peewee yang punya 3 gigi persneling. Saat itu, itu satu-satunya motor yang kami punya. Dan saya mulai berlatih motocross bersama ayah saya. Setiap Natal saya selalu meminta motor, tetapi motor sungguhan bukan motor baterai. Saya ingin sepeda motor bermesin,” ujar juara dunia 9 kali itu mengenang masa kecilnya.
Karena kecintaannya dengan motor sangat besar, Marquez memulai balapan lebih cepat dari usia yang diizinkan aturan. “Saya mulai ketika berusia 4 tahun, tetapi usia minimum untuk balapan adalah 5 tahun. Sebenarnya itu illegal, sungguh. Saya mengikuti balapan ketika berusia 4 tahun 10 bulan. Saat itu zamannya berbeda, hal seperti itu masih bisa dilakukan. Itu event yang tidak terlalu resmi, yang diselenggarakan oleh teman-teman yang mengadakan balapan di Kejuaraan Catalunya. Dan saat itu saya ikut balapan enduro,” kenang rider Ducati Lenovo itu.
Marc Marquez: Ketika Disuruh Pilih Balap Motor atau Sepak Bola, Saya Bilang Pilih Balap Motor Ayah Saya Sempat Kecewa

Kemudian Marc Marquez dengan cepat pindah ke motocross lalu mencoba di lintasan aspal. “Ketika saya berusia 6 atau 7 tahun, saya tidak ingat persisnya, saya mulai mengikuti kejuaraan motocross. Dan saya lebih menyukai motocross di sirkuit tertutup, ketimbang balapan enduro. Jadi saya pindah ke motocross. Dan ketika saya berusia 8 tahun, saya mencoba balapan di lintasan aspal. Dan disitulah saya sangat beruntung. Karena ketika saya berusia 9 tahun, sebuah tim mengontrak saya. Dan sejak saat itu, semuanya gratis untuk keluarga saya. Dukungan tersebut menjadi titik penting yang memungkinkan karir balap saya terus berkembang,” jelas pemenang 100 balapan (di semua kelas) itu.
Kemudian Baby Alien menceritakan perjalanan karir balapnya. Dia mengaku awalnya lebih menyukai motorcross. “Saya selalu berlatih di lintasan motocross. Suatu hari pemilik lintasan yang selalu mengikuti perkembangan balap aspal, memberi tahu ayah saya bahwa saya memiliki cornering speed yang cocok untuk balap aspal. Kemudian di Catalunya diselenggarakan sebuah kejuaraan promosi yang menggunakan motor Prancis, Conti,” ungkap rider berusia 33 tahun itu.
Marc melanjutkan, “Paket lengkapnya mencakup motor, wearpack, helm, lisensi, dan perlengkapan lainnya dengan biaya sekitar 3.000 Euro (kalau dikurskan sekarang mencapai Rp 61,5 juta). Dan ayah saya bilang, ‘kita coba selama setahun’. Saya ingin tetap di motocross karena saya selalu menang disana. Sementara di lintasan aspal, saya masih terlalu kecil, saya tidak menang, dan saya sering jatuh. Tapi akhirnya sebuah tim menawarkan mendukung finansial pada saya. Lalu ayah saya bilang, ‘teruslah balapan di aspal karena gratis dan mereka membantumu’. Keputusan itulah yang akhirnya mengubah jalan hidup saya.”

Menariknya, kenangan pertama yang diingat Marquez soal balapan bukan kemenangan melainkan crash yang dia alami. “Itu seperti semacam high-side, meskipun tidak benar-benar high-side. Tapi ya, itu kenangan pertama saya. Kenangan indah lainnya adalah akhir pekan saya bersama keluarga. Bukan hanya datang untuk balapan saja, kami menghabiskan akhir pekan di karavan kecil bersama keluarga. Dan itu juga menjadi salah satu kenangan pertama saya,” ujar juara dunia MotoGP 7 kali itu.
Marquez juga mengakui pengorbanan kedua orangtuanya agar dia dan adiknya Alex Marquez bisa terus balapan. “Membeli motor kecil untuk seorang anak saja sudah merupakan pengorbanan besar. Uang yang seharusnya mereka gunakan untuk liburan, dihabiskan untuk membeli motor. Dan kami tidak pernah liburan, hanya balapan saja. Karena saya dan adik saya sangat menyukainya,” imbuhnya.
Akhirnya Marquez menjelma menjadi bintang top dan salah satu legenda yang masih berkompetisi di grid saat ini. Dan salah satu hal yang diajarkan ayahnya Julia Marquez kepadanya adalah bijak dalam menggunakan uang.

“Itu sangat penting bagi saya, dan saya sangat berterima kasih kepada ayah saya karena telah mengajari saya. Karena pada akhirnya, sekarang saya dapat mengatakan bahwa saya punya uang, tetapi saya tahu nilai kehidupan. Dan ayah saya mengajari saya hal itu. Misalnya dia pernah bilang kepada saya, ‘jika kamu ingin balapan motor, kita tidak bisa pergi ke Disneyland. Kamu harus memilih’,” ungkap Marquez.
Seperti layaknya anak-anak, Marquez juga pernah ingin bermain sepak bola seperti teman-temannya. “Saya juga sangat menyukai sepak bola. Ketika saya bilang kepadanya, ‘saya ingin bermain sepak bola dengan teman-teman saya’. Dan ayah menjawab, ‘pilih waktu dan uangmu. Saya akan menyediakan uang untuk balap motor, tetapi kamu yang menentukan waktumu’. Kamu mau menghabiskan waktumu untuk balap motor atau sepak bola?’ Lalu saya menjawab, ‘balap motor’. Dan ayahku tidak senang dengan jawaban itu, karena sepak bola lebih murah. Itu hanya satu contoh. Ayahku selalu berusaha mengajarkan kepadaku nilai kehidupan dengan cara yang benar,” jelasnya.
Pengalaman dan tempaan keras sejak kecil membentuk Marc Marquez menjadi sosok yang kita kenal saat ini. Di luar lintasan dia adalah orang yang supel dan baik. Tapi di dalam lintasan dan saat mengenakan helm, dia berubah menjadi seorang ‘kesatria’ yang siap meng’habisi’ lawan-lawannya.

“Saya mencoba menghormati semua orang, tetapi di lintasan kita tidak bisa ‘baik’ kepada rival kita. Ini kompetisi. Kita selalu berusaha untuk bertindak dengan benar, tetapi tetap berada di batas maksimal. Karena tujuan kompetisi adalah untuk menang. Di lintasan saya mencari cara untuk menang dan menyerang ketika saya bisa. Terkadang kita ingin melakukannya tetapi tidak bisa. Tetapi ketika saya tidak balapan, saya hanyalah orang biasa,” imbuh Marquez sambil tersenyum.
Meski garang di lintasan, namun Marquez sangat memperhatikan orang-orang yang berada di lingkaran terdekatnya. “Itu penting bagi saya. Dalam balapan, saya mencoba untuk mencapai batas, karena batas memberi adrenalin yang kita butuhkan. Kompetisi adalah kompetisi,” tegasnya.
Sikap tersebut juga tercermin dari hubungan dekatnya dengan sang adik Alex Marquez. “Sangat berbeda. Saya membela Ducati Lenovo dan dia membela Gresini. Tapi kami tidak punya rahasia. Kami berlatih bersama, kami tinggal bersama. Tahun lalu misalnya, adalah tahun terbaik kami. Juara pertama dan kedua di klasemen. Kami berlatih bersama, diet yang sama, suplemen yang sama, semuanya sama. Tapi di lintasan, kami masing-masing punya tim sendiri,” ungkap Marc.
Marquez menambahkan, “Memang benar bahwa menyalip saudara sendiri berbeda dengan menyalip pembalap lain. Tapi pada akhirnya, kami berdua mengerti. Kami berbicara sebelum musim dimulai. Level kami sangat tinggi, kami akan bertarung, tetapi hubungan tetap sama di luar lintasan. Ini seperti sepak bola. Barcelona dan Real Madrid saling berhadapan, tetapi kemudian mereka menjadi rekan satu tim di tim nasional. Sesuatu yang serupa terjadi di MotoGP.”

“Di MotoGP, kit adalah seorang atlet. Kita harus berpikir 24 jam sehari tentang bagaimana meningkatkan kemampuan. Meski tidak berlatih setiap hari tetapi kita harus menjaga pola makan, cukup istirahat, dan persiapan fisik,” lanjutnya.
Marquez juga mengaku bahwa istirahat untuk sejenak melepaskan diri dari rutinitas juga sangat penting. “Itu penting. Kita tidak bisa memikirkan motor sepanjang tahun. Di musim panas, saya punya waktu liburan 1 atau 1,5 pekan. Dan di musim dingin, 2 atau 2,5 pekan. Selama kompetisi, saya sangat sibuk dan jadwalnya ketat. Saat liburan, saya santai. Saya tidak suka jadwal yang terlalu ketat karena saya membencinya. Saya hanya punya jadwal ketat saat di sirkuit pada balapan akhir pekan. Tetapi selama liburan, saya tidak ingin ada rencana yang kaku,” pungkas rider yang saat ini menempati peringkat 5 dengan perolehan 108 poin dalam klasemen itu. Menjelang GP Ceko akhir pekan ini, selisih poinnya dari pemimpin klasemen Marco Bezzecchi adalah 72 poin.







