RiderTua.com – Waduhh.. Pembalap Yamaha ini motivasinya kemungkinan sudah tak ‘tertolong’ lagi bro.. Fabio Quartararo meninggalkan seri Italia – Mugello dengan suasana hati yang muram, begitu juga seluruh garasi tim Yamaha. Karena sumber masalahnya ada di motor, maka semua rider Yamaha kena dampaknya, termasuk Toprak yang ikut terbenam dalam tumpukan ke-frustrasian…
Meskipun awalnya ada sedikit harapan, setelah hasil yang cukup baik di Le Mans dan Barcelona mendadak kegembiraan itu sirna begitu saja. Balapan Mugello menjadi tamparan keras bagi pabrikan Jepang tersebut, sekaligus pukulan mental yang sangat berat bagi pembalap andalan mereka, Fabio Quartararo.
Fabio Quartararo Kecewa Total: Yamaha Tak Berkembang, Semangat pun Mulai Pudar

Sejatinya Mugello adalah trek terindah di kalender MotoGP, tetapi lintasan ini juga sangat kejam bagi motor yang kalah kencang di lintasan lurus. Kelemahan power Yamaha M1 V4 benar-benar terlihat di lintasan lurus utama sirkuit Italia. Quartararo sudah memberi sinyal bahwa performa motornya jauh lebih buruk dibanding perkiraannya sebelum tiba di Mugello.
Pembalap Prancis itu tak menyembunyikan rasa kecewanya setelah finis di posisi ke-14 pada Sprint Race hari Sabtu, padahal ia juga hanya mampu start dari posisi ke-18. Saat berbincang dalam wawancara dengan televisi Prancis, Quartararo menegaskan bahwa hasil tersebut mencerminkan kondisi sebenarnya Yamaha saat ini. “Saya memang berhasil menyalip beberapa pembalap saat start, tetapi balapan Sprint ini berjalan persis seperti yang saya bayangkan melihat situasi kami sepanjang akhir pekan. tak ada lagi yang perlu saya tambahkan.”

Kesabaran El Diablo tampaknya telah mencapai batasnya. Pembalap asal Nice tersebut tak lagi melihat secercah harapan dalam waktu dekat. “Saya tak melihat peluang apa pun, kami benar-benar tersesat,” katanya saat membahas situasi teknis Yamaha.
Perasaan positif pada bagian depan motor yang sempat muncul setelah tes Jerez dan masih terasa di balapan sebelumnya, benar-benar menghilang di Mugello. Akibatnya, Quartararo merasa tak memiliki senjata untuk bersaing…
Menurut Quartararo, masalah Yamaha sekarang bukan lagi soal mengubah setingan suspensi atau menggeser distribusi bobot motor. Yamaha membutuhkan komponen baru secepat mungkin, sementara ia merasa sudah melakukan semua yang bisa dilakukan sebagai pembalap.
“Tak ada peningkatan sama sekali… Ini bukan lagi soal pengaturan, melainkan soal menghadirkan komponen baru ke lintasan.. Kami sudah berbulan-bulan menggunakan motor yang sama dan tak melihat perkembangan apa pun. Tugasku adalah memberikan kemampuan terbaik. Aku rasa para pembalap sudah bekerja dengan intensitas yang sangat tinggi. Sekarang bukan lagi giliranku yang harus bekerja untuk meningkatkan motor ini,” katanya. Pesan itu jelas ditujukan langsung kepada para insinyur Yamaha di Jepang.

Pada balapan hari Minggu kondisinya juga tak membaik sedikit pun, dan balapan panjang itu merupakan tantangan berat dari awal hingga garis finish. Fabio hanya mampu mengakhiri balapan di posisi ke-18, hasil yang tentu sangat menyakitkan bagi pembalap yang terbiasa bersaing memperebutkan gelar juara dunia. Begitu turun dari motor, beban mental yang ia rasakan terlihat sangat jelas. “Kalau Anda bertanya kepada saya sekarang, saya akan bilang motivasi saya sudah hilang,” ujarnya.
Selama balapan berlangsung, prioritas Quartararo berubah total ketika ia menyadari tak memiliki kecepatan maupun peluang untuk merebut poin. Di sirkuit secepat dan seberbahaya Mugello, mengambil risiko besar hanya demi finis di posisi belakang menurutnya tak masuk akal. “Saya tak ingin terjatuh, saya tak ingin cedera di sirkuit ini. Kami tahu kondisi kami sedang sangat sulit,” katanya dengan nada pasrah.
Pikiran itulah yang terus ia pegang selama balapan utama Minggu. Saat melihat risiko mulai lebih besar daripada manfaatnya, Fabio memilih pendekatan yang lebih aman. “Saya sempat mencoba menekan lebih keras di pertengahan balapan, tetapi saya sudah terlalu dekat dengan batas kemampuan motor (hampir jatuh). Akhirnya saya memutuskan mengurangi ritme. Saya memilih lebih santai dan menghindari risiko yang tak perlu,” jelasnya setelah balapan berakhir. Ia lebih memilih membawa pulang motor dalam keadaan utuh daripada mengakhiri balapan di gravel trap.

Balapan akhir pekan di Mugello akhirnya menjadi pengalaman yang benar-benar mengecewakan bagi Quartararo. Saat mengevaluasi hasil balapan, ia memberikan penilaian yang sangat tegas. “Sejujurnya saya tak menemukan satu hal positif pun dari hari Minggu ini.”
Rekan setimnya, Alex Rins, juga tak mampu berbuat banyak. Posisi ke-12 yang diraihnya pada balapan Sprint bahkan menjadi hasil terbaik Yamaha sepanjang akhir pekan, sementara para rival terus melangkah semakin jauh di depan.
Meski sedang mengalami masa sulit secara mental, MotoGP tetap berjalan dan Quartararo mencoba menatap seri-seri berikutnya dengan harapan baru. “Saya tahu ketika kami datang ke sirkuit lain, kemungkinan besar saya akan merasa lebih baik daripada yang saya rasakan di sini. Saya juga akan kembali memberikan yang terbaik,” ujarnya menutup akhir pekan di Italia.
Namun rasa kecewanya terhadap performa Yamaha masih sangat terasa. Ia menutup pernyataannya dengan kalimat yang menggambarkan seluruh isi hatinya…. “Saat ini saya sangat kecewa dengan pekerjaan yang kami lakukan. Terus terang, saya senang akhir pekan ini sudah berakhir,” pungkasnya kecewa…
Kalau kita melihat bahasa tubuh dan komentar Quartararo sepanjang akhir pekan di Mugello, ini bukan sekadar soal hasil buruk satu balapan. Ada rasa frustrasi yang sudah menumpuk sejak beberapa seri terakhir karena motor Yamaha tak kunjung menunjukkan kemajuan signifikan. Apakah main aman ini akan dilakukannya hingga akhir musim? dan bergabung ke Honda dengan kondisi segar bugar tanpa cedera..?
Garasi Yamaha Memanas! Fabio Quartararo Terang-terangan Main Aman demi Hindari Cedera Sebelum Pindah ke Honda







