RiderTua.com – Dengan start ‘roket’, Jorge Martin melesat dari posisi ke-8 dan merangsek maju di barisan depan dalam sprint race di Le Mans. Bahkan rider Aprilia itu langsung memimpin di tikungan kedua. Dia mampu mempertahankan gap lebih dari 1 detik dari pengejarnya Pecco Bagnaia dan Marco Bezzecchi hingga garis finis.
Usai sprint, Martin mengatakan, “Saya sedikit kesulitan di kualifikasi. Tapi saya tahu potensi saya jauh lebih besar. Saya memasuki balapan dengan tekad yang sangat kuat, walaupun tentu saja saya tidak menyangka akan langsung memimpin di tikungan kedua. Setelah itu, saya langsung gas pol seperti yang dulu selalu saya lakukan.”
Jorge Martin: Bukan Start Terbaik, Saya Hanya Beruntung Menemukan Jalur dan Celah yang Tepat

Menurut Jorge Martin, kunci kemenangan sprint adalah start yang luar biasa. Tapi setelah itu balapan yang sesungguhnya dimulai, jadi dia benar-benar harus menekan dengan keras. Dia juga mengaku bahwa meskipun bisa mengendalikan balapan dan mampu menjaga gap dengan Pecco, tapi mempertahankan kecepatan seperti itu tidak mudah.
Meski startnya berjalan mulus dengan kecepatan yang luar biasa, tapi Martin tidak menganggapnya sebagai start terbaik dalam karirnya. Menurutnya, itu semua berkat keberuntungannya menemukan jalur dan celah yang tepat. Juara dunia MotoGP 2024 itu menganggap, start terbaiknya adalah GP Qatar 2021 ketika dia start dari P15 dan melesat naik ke posisi ke-3.
Sebenarnya, start adalah salah satu kelemahan Aprilia tapi kini sudah berubah dan mengalami banyak peningkatan. Tapi menurut Martin, perubahan tersebut bukan semata-mata karena peningkatan teknis pada motor. “Saat start, saya selalu sangat cepat di beberapa meter pertama. Saya rasa ini lebih soal feel terhadap kopling. Sistemnya masih sama seperti musim lalu, yang berubah adalah saya lebih memahami dan meningkatkan feel itu,” jelas rider asal Madrid Spanyol itu.

Ketika Martin ditanya, seberapa besar faktor keberuntungan dibandingkan bakat atau kemampuan pembalap saat melakukan start? Rider berusia 27 tahun itu menjawab, “Sulit menjawabnya. Mungkin saya sedikit beruntung, karena start dari posisi ke-8 di grid mustahil bisa menebak apa yang akan dilakukan pembalap lain. Start cepat adalah murni keterampilan dari pembalap.”
“Setelah itu saya menemukan celah yang tepat, mungkin disitulah letak keberuntungan saya. Tetapi titik pengereman di tikungan, jelas sudah saya rencanakan. Saya tidak pernah menyangka akan memimpin hanya dalam dua tikungan. Awalnya saya pikir bisa naik ke posisi ke-4 atau ke-5. Tetapi setelah memimpin, saya terus gas pol hingga akhir,” imbuh Martinator.
Di parc ferme, Martin bilang bahwa dia sangat menyukai karakter stop-and-go dari Sirkuit Bugatti. “Biasanya, pembalap menyukai sebuah trek jika pernah meraih hasil bagus sebelumnya. Karena itu artinya mereka cepat disana. Treknya punya daya cengkeram yang tinggi sehingga ban bisa bekerja dengan sangat konsisten. Kondisi seperti itulah yang saya sukai. Hari ini ban belakang saya bekerja dengan sangat bagus dan saya mampu memanfaatkannya untuk menjauh dari lawan,” jelasnya.

Usai memenangkan sprint di Le Mans, Martin menegaskan bahwa performanya masih bisa lebih bagus lagi. Untuk sprint, timnya menguji set-up yang belum pernah dijajal sebelumnya. Eksperimen itu ternyata berhasil, tapi sekaligus menunjukkan bahwa set-up dasar motor mereka belum benar-benar sempurna. Martin juga mengaku bahwa sebelumnya dia belum pernah melakukan ‘risiko’ seperti itu di garasinya. Tapi dia dan timnya tetap nekat, dan berhasil.
Berkat kemenangan tersebut, defisit Martin dari pemimpin klasemen sekaligus rekan setimnya Marco Bezzecchi menjadi berkurang kini hanya tinggal 6 poin.






