RiderTua.com – Ada berita hangat buat pembaca RiderTua. Pit Beirer dibuat kesal karena beberapa kali pembalapnya dirugikan dengan aturan tekanan ban. Yang terakhir dialami Pedro Acosta dalam sprint race di COTA dua pekan lalu. Awalnya rider berusia 21 tahun finis di posisi ke-3, namun karena kena penalti tekanan ban (8 detik) dia harus turun ke posisi 8 dan podiumnya harus dia serahkan ke Enea Bastianini (Tim Tech3 KTM) yang sedianya finis ke-4.
Kejadian serupa juga pernah dialami pembalap tim Tech3 KTM Maverick Vinales di Qatar tahun lalu. Awalnya rider berjuluk Top Gun itu sempat merayakan podium setelah finis ke-2, namun tak berselang lama dia menerima penalti 16 detik dan harus turun ke posisi ke-14 karena melanggar aturan tekanan ban.
Pit Beirer (KTM) Kesal: Aturan Tekanan Ban Harus Diubah Kalau Perlu Dihapus, Tidak Ada Hubungannya dengan Kecurangan!

Sejak aturan tekanan ban diberlakukan di MotoGP, hal ini menimbulkan kontroversi. Karena seringkali pembalap menerima penalti beberapa saat usai balapan, yang secara signifikan mengubah hasilnya. Sebenarnya aturan dimaksudkan untuk meningkatkan keselamatan pembalap. Tapi kenyataannya justru memicu kemarahan dan ke’gagal paham’an baik pembalap maupun pengggemar.
Untuk menghindarinya, pembalap seringkali menggunakan manuver ‘cerdas’ selama balapan. Misalnya seperti yang dilakukan Marc Marquez tahun lalu, yang sengaja memperlambat motornya saat memimpin balapan ketika tekanan bannya mulai menurun. BTW, tekanan minimum yang ditentukan pada ban depan tidak boleh berkurang setidaknya selama 60 persen jarak balapan.

Direktur Balap KTM Pit Beirer menegaskan bahwa keputusan tekanan ban diambil secara bersama-sama antara pembalap dan kepala kru. “Kami punya banyak data, tapi keputusan akhir soal tekanan ban mutlak diambil oleh kepala kru. Tapi sebelumnya dia akan bertanya kepada pembalap, ‘mau ambil risiko hingga batas maksimal atau main aman?'”ungkap Pit.
Untuk kasus Acosta dalam sprint di Austin kemarin, mereka memang sengaja mendekati limit. Keduanya, baik kepala krunya Paul Trevathan maupun Acosta sendiri adalah tipe orang yang suka bermain di limit. Meski kena penalti, keesokan harinya Acsota mampu bangkit dan kembali naik podium dalam race utama hari Minggu tanpa masalah tekana ban.
Pit mengatakan, “Kami menanggung akibatnya, itulah sebabnya kami tidak protes. Tentu saja dia kecewa. Tetapi sejak awal dia memang sengaja mendekati limit. Dan pada hari Sabtu suhunya sangat dingin sehingga tekanan ban turun di bawah batas.”

Beirer secara terang-terangan mengkritik aturan tekanan ban ini. “Selain itu, menurutku aturan ini benar-benar tidak masuk akal. Kenapa tekanan ban tidak dicek di grid sebelum start? Misalnya, semua harus start dengan tekanan ban 1,8, 1,9, atau 2,0 bar. Yang penting sama untuk semua pembalap,” tegas bos asal Jerman itu.
Pit menegaskan, “Aturan tekanan ban ini tidak masuk akal karena tidak ada hubungannya dengan kecurangan. Jika kita menambahkan begitu banyak tekanan margin (cadangan) sehingga kita yakin tidak akan berada di bawah batas, dan kemudian kita berkendara di belakang pembalap lain (kena slipsteram), tekanan ban akan melonjak drastis dan motor menjadi sulit dikendalikan.”
“Tetapi jika kita membalap sendirian di depan, tekanan justru tiba-tiba turun. Tahun lalu kita tidak berada dalam situasi yang sama seperti Marc Marquez, yang sejak awal berasumsi bahwa dia akan memimpin sendirian di depan dan mengatur semuanya sesuai dengan itu. Terkadang kami bertarung di tengah rombongan, kemudian tiba-tiba ada beberapa lap di mana kita membalap sendirian dan kemudian tekanan ban turun.”

“Aturan ini jelas harus diubah atau kalau perlu dihapus. Sangat buruk kalau balapan ditentukan oleh hasil seperti ini. Bahkan selisih kecil seperti 0,03 bar tidak memberikan keuntungan nyata. Ini tidak menunjukkan siapa yang kerja bagus dan yang tidak. Kami pernah dirugikan karena itu, tetapi kami juga pernah diuntungkan. Bahkan kami pernah mendapat podium dari pembalap lain.”
“Ini benar-benar omong kosong. Tentu saja, ini semakin membuat saya kesal sekarang karena hal itu secara langsung kembali memengaruhi kami. Jika itu tidak memengaruhi kita selama 3 atau 4 balapan, kita bisa mengabaikannya. Itu adalah poin penting yang harus dibahas.”
“Saya bertemu dengan presiden FIM di grid start. Dia bilang, ‘aturan ini harus segera diubah’. Saya bilang kepadanya, ‘anda presiden FIM, ya ubah saja!’ Dia yakin setelah balapan ini akan ada tekanan untuk mengubah aturan ini, karena fans juga tidak suka hasil balapan diubah usai balapan,” jelas Beirer.

Penalti terhadap Acosta di Austin menyebabkan situasi yang aneh usai sprint. “Kami berhasil naik podium, tapi setelah itu kami harus membawa medali tersebut ke pit KTM lain (tim Tech3),” pungkas Pit Beirer.










