RiderTua.com – Halo pembaca setia RiderTua…. Carlo Pernat menganalisa GP Thailand yang dimenangkan Marco Bezzecchi dengan gemilang. Namun sayangnya rider Aprilia itu crash sehingga gagal memenangkan sprint race setelah mendominasi sejak hari Jumat.
Di sisi lain, Pedro Acosta ketiban rejeki dengan kemenangan di sprint setelah Marc Marquez diganjar penalti turun 1 posisi karena melakukan manuver berlebihan yang menyebabkan rider KTM itu keluar lintasan. Dan dalam race utama, Acosta berhasil finis ke-2 setelah duel melawan Marc Marquez dan Raul Fernandez. Usai GP Thailand, rider berusia 21 tahun itu memimpin klasemen sementara dengan perolehan 32 poin…
Carlo Pernat Terkait Ban Marc Marquez: Bukan Karena Kerb, Tapi Bannya Sudah Meledak Lebih Dulu!

4 pembalap Aprilia finis di 5 besar di GP Thailand. Terkait performa kuat Aprilia dan Marco Bezzecchi, Carlo Pernat mengatakan, “Menurutku Grand Prix ini dapat dirangkum dengan sebuah pepatah, ‘satu burung layang-layang tidak membuat musim semi tetapi empat burung layang-layang menjadi satu kawanan’. Burung layang-layang itu adalah Marco Bezzecchi, yang mendominasi dengan gemilang bersama Aprilia. Jika dia tidak jatuh di Sprint, itu akan menjadi hari yang sempurna. 4 Aprilia di 5 besar bukanlah hal kecil, itu sangat besar.”
Di sisi lain, untuk pertama kalinya tidak ada pembalap Ducati yang naik podium di Buriram setelah 88 balapan berturut-turut. “Di sisi lain, ada data yang mengesankan. Ducati belum pernah finis di luar podium dalam lebih dari 88 Grand Prix. Ini adalah rekor negatif yang signifikan, seperti mendapat 4 tamparan yang sangat keras. Ducati benar-benar menderita. Ada sesuatu yang terjadi, karena semua motor mereka mengalami masalah, bukan hanya satu masalah. Dan soal Marquez, saya cukup yakin bahwa itu bukan karena kerb tapi bannya meledak lebih dulu,” tegas Pernat.

Menurut Pernat, Bezzecchi akan menjadi satu-satunya rival kuat Ducati. Namun, dia juga memperingatkan bahwa pembalap Aprilia lain juga harus diwaspadai. “Martin juga menjalani balapan yang luar biasa. Setelah hampir 1 tahun praktis tidak balapan, dia langsung berada di barisan depan. Ini pertanda bahwa motornya benar-benar kuat. Dan jika tim satelit dengan Ai Ogura dan Raul Fernandez juga tampil seperti ini, itu berarti fondasi teknisnya sangat solid,” imbuh mantan manajer Enea Bastianini itu.
Di balapan pembuka musim di Buriram, Ducati berada di titik nadir. “Bagi Ducati, ini tamparan yang sangat keras. Dan ada Pecco Bagnaia yang sudah tidak bisa diharapkan lagi. Kondisinya persis seperti tahun lalu, bagus dalam latihan tetapi kemudian berantakan di balapan. Selalu di belakang, di belakang, dan di belakang. Dia bahkan bukan yang pertama dari Ducati, saat Marquez mengalami crash. Ini adalah pertanda,” tegas Pernat.

Sementara itu, menurut Pernat KTM hanya memusatkan strateginya pada satu pembalap. “Ketika orang mengatakan bahwa talenta sejati hanya ada 3 yakni Marc Marquez, Fabio Quartararo, dan Pedro Acosta, itu tidak berlebihan. Pedro menjaga KTM tetap ‘hidup’. KTM masih ada hingga hari ini berkat dia. Semuanya berpusat pada Acosta. Setiap pembaharuan, setiap pengembangan, bahkan baut atau sekrup baru, pertama langsung diberikan kepadanya. Yang lain nanti dulu. Ini bukan hanya pilihan teknis, tetapi juga pilihan strategis. Tentu saja ada masalah keuangan, tetapi ini lebih soal prioritas,” jelas pengamat MotoGP asal Italia itu.
2 pabrikan Jepang masih terlihat kesulitan musim ini. Yamaha bermasalah dengan mesin barunya, sementara Honda kini sudah sering finis 10 besar namun mereka harus terus bekerja keras agar konsisten bertarung di barisan depan. “Kita tunggu di Jerez. Kita tunggu balapan di luar Eropa untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. Tetapi satu hal yang pasti, saat ini Aprilia dan Bezzecchi adalah pesaing utama Ducati. Bahkan lebih dari Ducati pabrikan dan Marquez sendiri,” pungkas mantan manajer Valentino Rossi itu.









