Home MotoGP Serasa Mengerem Tanpa Cengkeraman: Murni Masalah Teknis atau ‘Sabotase’ Terhadap Pecco Bagnaia?

    Serasa Mengerem Tanpa Cengkeraman: Murni Masalah Teknis atau ‘Sabotase’ Terhadap Pecco Bagnaia?

    Pecco Bagnaia Sad & Gutted
    Pecco Bagnaia

    RiderTua.com – Pecco Bagnaia menjalani akhir pekan GP Misano yang sulit dengan masalah yang terasa sangat berbeda dari biasanya. Di tengah performa Ducati yang tak kunjung menemukan solusi, sebuah percakapan singkat antara Pecco dan Fabio Di Giannantonio yang terekam kamera DAZN Spain justru membuka gambaran lebih jelas tentang persoalan di balik garasi tim pabrikan.

    Percakapan tersebut berlangsung di luar sesi wawancara resmi. Ketika Di Giannantonio menanyakan bagaimana masalah itu bisa terjadi, Bagnaia memberikan jawaban yang menggambarkan sensasi aneh yang ia rasakan ketika mengerem.

    Bocornya rekaman off-the-record Pecco Bagnaia yang mengeluhkan masalah pengereman motornya langsung membakar jagat media sosial, hingga memicu liarnya isu “sabotase” di kalangan penggemar MotoGP yang heran melihat performanya merosot tajam secara mendadak.

    β–ΆDaftar Isi

    Prahara Garasi Pabrikan Ducati: Pecco Bagnaia Mengaku Tertekan atau Ada ‘Sabotase’?

    “Ah, rasanya seperti mengerem saat kopling ditarik,” ujar Bagnaia Bagnaia, menggambarkan sensasi tersebut seperti mengerem ketika kopling ditarik, kondisi yang membuat engine brake tidak terasa bekerja seperti seharusnya..

    Kalimat singkat tersebut menjadi petunjuk penting mengenai persoalan yang sepanjang akhir pekan membuatnya kesulitan menemukan feeling dengan Ducati.

    Misano menjadi titik terberat Bagnaia

    Akhir pekan di Misano datang setelah performa Bagnaia memang sedang menurun. Sejak Silverstone, ia melewati tiga akhir pekan balapan tanpa mendapatkan poin dan mengalami tiga kecelakaan dalam balapan GP.

    Masalah tidak hanya muncul ketika balapan. Bagnaia juga menghadapi berbagai kendala dalam latihan dan Sprint.

    Di Misano, situasinya bahkan menjadi salah satu periode tersulit sepanjang perjalanannya bersama Ducati. Di hadapan wartawan, Bagnaia tetap menyampaikan bahwa dirinya dan tim terus bekerja untuk mencari jalan keluar.

    Namun, percakapan yang terekam DAZN Spain di luar kamera memberikan gambaran lain.Β Di Giannantonio terlihat mendekati Bagnaia dan bertanya, “Bagaimana itu mungkin?”

    Jawaban Pecco kemudian mengarah pada persoalan yang ia rasakan pada motor.Β “Saya menggunakan apa yang mereka minta untuk saya gunakan,” kata Bagnaia.

    Dalam percakapan lain yang juga direkam DAZN Spain, pembahasan mengarah pada pilihan setelan dasar. Di Giannantonio menyebut penggunaan setelan dasar yang lebih sederhana, sementara Bagnaia menjawab bahwa pilihan tersebut bukan sesuatu yang diarahkan kepadanya.Β “Ini bukan yang mereka tunjukkan harus saya lakukan,” ujar Bagnaia.

    Pecco Bagnaia Sad
    Pecco Bagnaia

    Masalah pengereman menjadi sorotan

    Persoalan tersebut semakin menarik karena Bagnaia sebelumnya sudah mencoba berbagai pendekatan untuk menemukan kembali feeling di bagian depan Ducati.

    Ia menjelaskan bahwa dirinya telah mencoba berbagai pilihan, tetapi tidak menemukan perbedaan yang berarti pada bagian depan, termasuk ketika menggunakan ban lunak dan medium maupun membandingkan ban lunak bekas dengan ban yang digunakan dalam kualifikasi.

    Masalah pengereman kemudian menjadi salah satu keluhan utama.Β Dalam analisis teknis yang menyertai percakapan tersebut, persoalannya digambarkan berkaitan dengan engine braking. Ketika masuk ke fase pengereman, Bagnaia merasa respons motor seperti ketika kopling ditarik, sehingga karakter motor terasa berbeda dari yang ia harapkan.

    Pengelolaan engine brake sendiri berkaitan dengan cara motor merespons ketika pembalap menutup gas dan kemudian masuk ke pengereman. Sistem tersebut dapat diatur melalui pilihan elektronik yang tersedia pada motor, sementara pembalap juga dapat memodulasi intervensinya ketika berada di lintasan.

    Karena itu, sensasi yang dirasakan Bagnaia menjadi persoalan penting dalam upayanya menemukan kembali feeling dengan Ducati.

    Pecco Bagnaia Menang Sprint Ceko di Brno 2026
    Pecco Bagnaia

    Dari penantang gelar menjadi mencari solusi

    Perubahan performa Bagnaia terasa semakin kontras jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.Β Pada akhir 2024, ia mampu memenangkan 11 balapan GP dan terus bersaing memperebutkan gelar hingga akhir musim bersama Jorge Martin. Setelah itu, jumlah kemenangannya menurun drastis.

    Bagnaia hanya mencatat dua kemenangan pada musim berikutnya. Salah satunya terjadi di Austin setelah pembalap Spanyol yang memimpin balapan mengalami kecelakaan. Kemenangan lainnya diraih di Motegi, bertepatan dengan hari ketika Marc Marquez memastikan gelar juara dunia.

    Musim 2026 sempat memberikan tanda kebangkitan. Bagnaia meraih beberapa podium Sprint di Austin dan Le Mans, kemudian memenangkan Sprint di Brno di depan Ogura dan Marquez.

    Hasil tersebut berlanjut dengan podium ketiga dalam balapan GP, menjadi podium keempat secara beruntun setelah Barcelona, Mugello, dan Hungaria. Saat itu, Pecco kembali terlihat berada di barisan depan.

    Namun, situasinya berubah sejak Silverstone.Β Kini, persoalan yang dihadapi bukan sekadar hasil akhir. Bagnaia masih mencari sensasi yang tepat dari motor Ducati, terutama ketika masuk ke pengereman.

    Pecco Bagnaia Crash
    Pecco Bagnaia Crash

    Ducati harus menemukan jalan keluar

    Komentar Pol Espargaro bahkan menggambarkan apa yang dilakukan Bagnaia di atas KTM sebagai sesuatu yang pernah dilakukan Marc Marquez ketika mengendarai Honda.

    Bagnaia sendiri memilih melihatnya dari sisi berbeda. Ia hanya berusaha memberikan kemampuan maksimal dengan motor yang tersedia.

    Hasilnya pun bisa berbeda dari satu balapan ke balapan lain. Ia mampu naik podium di Aragon dan Misano, tetapi juga hanya finis keenam pada Sprint sehari sebelumnya.Β Yang terpenting bagi Bagnaia adalah terus mengumpulkan poin yang bisa berguna pada akhir musim.

    Namun, sebelum memikirkan lebih jauh soal klasemen, persoalan teknis di Ducati perlu menemukan jawaban. Percakapan singkat dengan Di Giannantonio setidaknya memperlihatkan bahwa masalah yang dirasakan Pecco bukan sekadar hasil buruk di papan klasemen.

    Sensasi “mengerem seperti kopling ditarik” menunjukkan betapa pentingnya feeling di bagian depan motor bagi Bagnaia. Misano akhirnya menjadi gambaran paling jelas tentang betapa sulitnya Pecco menemukan kembali koneksi dengan Ducati yang sebelumnya membawanya menjadi salah satu pembalap terkuat di MotoGP.

    Baca: Hasil Race MotoGP San Marino 2026: Bezzecchi Crash, Marc Menang Lagi, Alex Naik 7 Posisi

    © ridertua.com

    TINGGALKAN BALASAN

    Silakan masukkan komentar Anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini