RiderTua.com – Musim 2026 menjadi musim terakhir Fabio Di Giannantonio di tim VR46 Ducati. Tahun depan, rider asal Roma Italia itu akan mulai petualangan barunya di tim Red Bull KTM. Diggia mengaku bahwa bergabung di tim VR46 milik sang legenda Valentino Rossi adalah pengalaman terbaik dalam karier MotoGP-nya.
“Tak diragukan lagi, tim ini merupakan tempat terbaik yang pernah saya rasakan. Saya tidak bermaksud meremehkan tim-tim saya sebelumnya, tetapi secara keseluruhan tim ini benar-benar memberikan segalanya kepada saya. Hubungan antar-manusia di sini belum pernah saya temukan di tempat lain,” ujarnya.
Fabio Di Giannantonio: Pergi ke Psikolog Bukan Berarti Orang Itu Gila!
Fabio Di Giannantonio menekankan bahwa tim VR46 telah membantunya berkembang baik secara pribadi maupun sebagai pembalap. “Saya belum pernah merasa senyaman ini di sebuah tim. Hubungan saya dengan seluruh anggota tim menjadi sangat erat sebagai pribadi. Mereka membantu saya baik dalam urusan pribadi maupun olahraga. Saya menjadi atlet yang lebih baik, profesional yang lebih baik, dan pada akhirnya pembalap yang lebih baik. Versi terbaik dari Fabio, muncul saat mengenakan livery tim ini,” ungkap rider berusia 27 tahun itu.

Diggia kemudian menceritakan sebuah pengalaman yang menurutnya menggambarkan filosofi VR46. Saat tes pramusim pertama di Qatar, dia dan Marco Bezzecchi tampil cukup baik. Pada malam harinya, seluruh tim mengadakan pesta kecil untuk merayakannya.
“Saat tes pertama di Qatar, performa saya dan Bezzecchi sangat bagus. Malam itu kami mengadakan pesta kecil-kecilan namun sangat menyenangkan. Hal itu membuat saya memahami betapa pentingnya sisi kemanusiaan di luar lintasan bagi tim ini. Mereka membuat saya mulai menghargai segala hal di sekitar trek balap. Dulu saya hanya datang, melakukan pekerjaan saya, lalu pulang. Mereka telah mengajari saya untuk menikmati momen dan kebersamaan bersama orang-orang di sekitar saya,” imbuh Diggia.
Diggia mengaku pernah berkonsultasi dengan psikolog. “Saya pernah bekerja sama dengan psikolog, baik life coach maupun mental coach. Saya selalu memandangnya sebagai hal yang positif. Banyak orang masih berpikir, ‘apa kamu gila? Apa kamu punya masalah?’ Padahal tidak! Hal itu sebenarnya sama saja seperti pergi ke pelatih fisik atau ahli gizi. Mereka banyak membantu saya. Menurut saya, saya berkembang pesat berkat masukan profesional mengenai cara mengelola pikiran,” tegasnya.

Sejak terjun ke MotoGP, Diggia mengaku perkembangan performanya meningkat tajam. “Tahun pertama saya berada di peringkat 20, ke-12 pada tahun ke-2, ke-9 pada tahun ke-3, ke-6 tahun lalu, dan kini ke-4. Kami sudah menempuh perjalanan panjang. Saat saya bergabung dengan tim ini, kami mencapai titik terbaik berkat rasa saling menghormati, keluwesan dalam bekerja, dan kepercayaan. Kini tercipta perpaduan yang luar biasa dan itulah yang membantu saya tampil maksimal,” jelasnya.
Soal kepindahannya ke tim pabrikan KTM, Diggia mengatakan, “Itu adalah target yang dimiliki oleh semua pembalap tim satelit. Sungguh luar biasa bisa mewakili sebuah merek, menjadi wajah perusahaan, dan memimpin tim yang luar biasa. Ini memberikan kepuasan pribadi yang sangat besar.”
Tapi Diggia mengaku bahwa perpisahannya dengan tim VR46 bukanlah hal yang mudah. ”Saya memikirkannya setiap hari. Sulit untuk menemukan tim seperti ini. Saat Valentino bertanya kepadaku, ‘apakah kamu yakin ingin pergi?’, keputusan itu sebenarnya sudah bulat. Saya hanya bisa berterima kasih kepada seluruh anggota tim,” pungkasnya, merujuk pada momen saat dia dipeluk dan dibisiki Rossi usai memenangkan GP Catalunya pada akhir Mei lalu. Tahun depan, Diggia akan memperkuat di Red Bull KTM bersama Alex Marquez.












