Home MotoGP Massimo Rivola: Marc Marquez Tahu Kapan Harus Menang Tanpa Risiko. Kita Harus...

    Massimo Rivola: Marc Marquez Tahu Kapan Harus Menang Tanpa Risiko. Kita Harus Belajar Banyak dari Sikap Juara Itu!

    Marc Marquez - Massimo Rivola
    Marc Marquez - Massimo Rivola

    RiderTua.com – Menurut Massimo Rivola (CEO Aprilia), hasil GP Aragon akhir pekan ini tetaplah memuaskan bagi mereka. Pembalap Aprilia terbaik di MotoGP Aragon adalah Marco Bezzecchi yang sukses meraih pole position dan dua kali finis di posisi ke-3. Meski sedikit mengecewakan karena gagal menang, tapi MotorLand adalah ‘wilayah kekuasaan’ Marc Marquez dan karakteristik sirkuitnya cenderung lebih cocok dengan Ducati dibandingkan Aprilia.

    “Tentu, semuanya harus dilihat secara proporsional. Kondisi yang ideal adalah Mugello. Di Mugello semuanya berjalan sempurna, karena kami finis di posisi pertama dan kedua serta semua motor Aprilia berada di barisan depan. Di Aragon, sejak awal kami tahu bahwa kami akan lebih banyak bertahan. Saya harus katakan ada kepuasan yang luar biasa terkait Bezz. Dia merebut pole position di ‘kandang’ Marc. Tapi Aragon memang kandang Marc. Hari ini kita melihat sendiri saat balapan, ketika dia memutuskan untuk gas pol lalu mencetak 3 lap yang impresif,” ungkap Rivola merujuk pada kemenangan besar Aprilia di kandang mereka di Mugello pada Mei lalu.

    Massimo Rivola: Marc Marquez Tahu Kapan Harus Menang Tanpa Risiko. Kita Harus Belajar Banyak dari Sikap Juara Itu!

    Massimo Rivola - Jorge Martin - Marco Bezzecchi
    Massimo Rivola – Jorge Martin – Marco Bezzecchi

    Massimo Rivola juga memuji kecerdikan Pedro Acosta, yang mampu memanfaatkan celah kecil untuk menyalip ketika Marco Bezzecchi sedang duel sengit melawan Marc Marquez di lap ke-6 dalam race utama hari Minggu.

    “Menurut saya, manuver dan aksi menyalip terbaik tahun ini dilakukan Pedro. Bagi saya, aksi menyalip Pedro adalah salah satu yang terbaik yang pernah saya lihat. Dengan sangat berani, dia memaksakan motor masuk ke celah sempit pada kecepatan 350 km/jam. Memang ada kondisi-kondisi tertentu yang berhasil dia manfaatkan, tetapi saya ‘angkat topi’ untuknya,” ujar Rivola.

    Sayangnya, pembalap tim Trackhouse Aprilia Raul Fernandez mengalami masalah teknis di lap ke-6 yang memaksanya mundur dari balapan. “Saya ingin meminta maaf secara terbuka kepada Raul. Ketika terjadi masalah teknis baik itu kesalahan mekanik maupun kerusakan motor, sudah sepantasnya kami meminta maaf kepada pembalap. Sama halnya ketika dia meminta maaf kepada kami saat melakukan kesalahan dan membuat motor jatuh akibat terlalu bersemangat atau apa pun alasannya,” ungkap Rivola.

    Bos asal Italia itu melanjutkan, “Ini masalah yang perlu dan harus dianalisis. Kami mengirim motor itu kembali ke pabrik untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Kami punya beberapa dugaan, namun ini adalah tanda-tanda peringatan yang harus ditangani secara serius. Bagi saya, tim Trackhouse masih dalam persaingan perebutan gelar dunia. Kalau kami saja belum terbiasa membalap di barisan depan, apalagi mereka.”

    “Kalau berbicara soal gelar dunia, semua orang tahu hanya ada satu nama yakni Marc Marquez. Kami sudah mengatakannya sejak awal musim dan akan mengatakannya lagi sekarang, terutama setelah balapan seperti ini, sekali lagi dia membuktikan bahwa ketika waktunya menang, dia selalu bisa melakukannya. Nomor 37 memang milik Pedro, tapi yang benar-benar melakukan hal yang luar biasa tetaplah Marc Marquez,” imbuh Rivola.

    Massimo Rivola - Marc Marquez - Pedro Acosta
    Massimo Rivola – Marc Marquez – Pedro Acosta

    Aprilia mampu bersaing dalam perebutan gelar dunia setelah peningkatan besar yang mereka capai. “Memang benar kami sudah membuat keputusan yang tepat, termasuk langkah-langkah yang berorientasi pada masa depan. Namun itu saja tidak cukup. Kami ada di barisan depan dan kami akan bertarung habis-habisan hingga balapan terakhir.  Kami tahu kami menghadapi rival seperti Marquez, salah satu pembalap terhebat sepanjang sejarah. Jadi, merupakan sebuah kehormatan mencoba mengalahkannya. Itu menjadi sumber motivasi yang sangat besar, dan kami tidak akan mengendurkan semangat hingga akhir,” tegas Rivola.

    Hal terpenting yang harus dipelajari dari Marc Marquez adalah konsistensi. “Menurut saya, dari Marquez kita harus belajar soal ini. Lihat saja penampilannya di Mugello atau Silverstone. Dia tetap berhasil meraih hasil bagus bahkan di saat performanya tampak sedang menurun. Kenyataannya, dia berhasil mencapai garis finis tanpa mengambil risiko yang tidak perlu karena dia tahu konsistensi adalah hal yang paling penting,” tegasnya.

    Duel Marc Marquez - Marco Bezzecchi
    Duel Marc Marquez – Marco Bezzecchi

    Rivola menambahkan, “Dan ketika tiba saatnya untuk meraih kemenangan karena dia tahu dia yang terkuat, dia pun melakukannya. Kami harus banyak belajar darinya, mulai dari kecerdikannya hingga tentu saja kemampuannya. Bakat seperti itu belum tentu dimiliki seseorang. Tetapi harus saya akui, belajar dari yang terbaik adalah pilihan terbaik.”

    Setelah menjalani 13 dari total 22 seri, Aprilia memimpin klasemen konstruktor unggul tipis hanya 15 atas Ducati. Sementara itu, pembalapnya Jorge Martin masih memimpin klasemen meski hanya dua kali finis ke-5 di Aragon. Kini Martin hanya unggul 19 poin atas Marc Marquez yang naik ke peringkat 2 setelah menyapu bersih kemenangan di Aragon. Di sisi lain Bezzecchi turun ke peringkat 3, begitu juga Ai Ogura yang turun ke peringkat 5 (absen di Aragon karena cedera). Dan Raul Fernandez tetap berada di peringkat 7.

    © ridertua.com

    TINGGALKAN BALASAN

    Silakan masukkan komentar Anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini