RiderTua.com – Saat kapasitas mesin MotoGP dikurangi dari 1000cc menjadi 850cc pada 2027, bagi Fabiano Sterlacchini (direktur teknis Aprilia), hal tersebut bukan sekadar soal kehilangan tenaga melainkan perubahan besar dalam prioritas pengembangan motor.
“Kalau kapasitas mesin berubah dari 1000cc ke 850cc, kita akan kehilangan sekitar 50 tenaga kuda (hp). Saat ini, motor benar-benar mencapai batas maksimal tenaga sekitar 15 hingga 20 persen dalam satu lap, dalam posisi gas terbuka penuh. Jika tenaga dikurangi 50 hp, angka tersebut akan naik menjadi 30 hingga 40 persen,” jelas insinyur asal Italia itu.
Fabiano Sterlacchini (Aprilia): Kami Sama Sekali Tidak Menggunakan AI (Artificial Intelligence)
Artinya, tenaga mesin akan kembali menjadi faktor penting dibandingkan sekarang. “Seberapa penting mencari tambahan 1 HP pada mesin saat ini? Tidak terlalu penting, karena kita hanya sebentar saja menggunakan tenaga penuh. Mulai musim depan, hal itu akan menjadi dua kali lebih penting,” tegas Fabiano Sterlacchini.

Sterlacchini mengatakan bahwa 90 hingga 95 persen pekerjaaannya adalah urusan teknis. Dia mengibaratkan dirinya sebagai seorang konduktor yang memimpin sebuah orkestra. “Kita bisa saja memiliki musisi-musisi yang hebat. Tetapi mungkin pemain drum bermain terlalu keras sehingga menenggelamkan suara alat musik tiup. Atau ada satu orang yang memainkan musik rock, sementara yang lain memainkan simfoni klasik,” jelasnya.
Namun tugas seorang konduktor bukan hanya sekadar menjaga kekompakan para musisi. “Pada titik tertentu, konduktor harus berkata, ‘kita kekurangan piano, saya ingin instrumen oboe’. Maksudnya adalah menentukan prioritas investasi. Kita harus berinvestasi di bidang ini, bukan di bidang itu,” imbuhnya.
Selain itu, Sterlacchini juga menegaskan bahwa aerodinamika menjadi fokus utama MotoGP modern. Menurutnya, mesin sudah dikembangkan selama bertahun-tahun dengan konsep yang hampir sama sehingga ruang peningkatannya semakin kecil. Sebaliknya, aerodinamika punya potensi yang jauh lebih besar. “Menurut saya, perkembangan aerodinamika motor MotoGP tertinggal 30 hingga 50 tahun di belakang Formula 1. Masih banyak hal yang bisa digali,” tegas mantan teknisi Ducati dan KTM itu.
Menariknya, bukan hanya winglet atau fairing yang mempengaruhi aerodinamika. Tubuh pembalap sendiri juga punya pengaruh besar. Sterlacchini menjelaskan bahwa ketika pembalap keluar sedikit dari balik fairing atau menjulurkan kaki saat mengerem, tubuhnya menciptakan gaya hambatan udara yang tidak berada tepat di tengah motor.

“Saat pembalap bergerak keluar dari balik fairing atau menjulurkan kaki, mereka menghasilkan gaya yang posisinya tidak segaris dengan sumbu tengah motor. Saat pengereman, hambatan udara tersebut membantu memutar motor dan mengarahkannya masuk ke tikungan layaknya kemudi kapal, namun menggunakan udara sebagai pengganti air. Hingga sekitar 10 tahun yang lalu, belum ada seorang pun yang memikirkan hal ini,” jelas Sterlacchini.
Sterlacchini menyadari bahwa kini rival-rival mereka mulai mengambil inspirasi dari inovasi Aprilia. Namun menurutnya, sekedar copy paste bukanlah jalan terbaik. “Jangan pernah menjadi pihak yang hanya meniru dan menyalin, karena kita akan selalu tertinggal dan harus terus mengejar ketertinggalan. Meski begitu, kita juga jangan terlalu gengsi untuk meniru. Komponen bagian belakang yang efektif pada satu motor, bisa jadi tidak efektif pada motor lain karena suku cadang tersebut tidak bekerja secara sinergis dengan bagian mesin lainnya,” ungkapnya.
Mengapa aerodinamika motor jauh lebih sulit dibandingkan mobil? Sebagai perbandingan, satu perubahan kecil saja pada bagian bawah bodi mobil (underfloor) Formula 1 bisa dengan mudah menghasilkan downforce tambahan sebesar 40 kg. “Menurut saya, tidak ada satu pun komponen pada motor yang mampu menghasilkan gaya sebesar 40 kg. Mungkin bahkan jika seluruh paket aerodinamika digabungkan, tidak akan mampu mencapainya. Karena itulah, setiap perubahan kecil pada motor harus benar-benar dipikirkan agar bersinergi dengan seluruh komponen lainnya,” jelas Sterlacchini.
Menurut Sterlacchini, AI atau artificial intelligence (kecerdasan buatan) sebenarnya berpotensi membantu para insinyur menemukan hubungan-hubungan yang sulit dijelaskan dengan rumus fisika yang ada saat ini.

“AI bisa membantu melihat hubungan yang dengan pengetahuan kita sekarang belum bisa diterjemahkan ke dalam persamaan dengan parameter fisika. Kami sama sekali tidak menggunakannya. Tim lain menggunakannya, semua orang membicarakannya dan menerapkannya pada segala hal. Namun, kita harus melihatnya secara proporsional. Jika suatu saat kita menghadapi masalah di mana peran manusia menjadi tidak lagi relevan, bisa jadi kita sendirilah yang menciptakan masalah tersebut,” pungkas Fabiano Sterlacchini yang mulai bergabung dengan Aprilia pada awal 2025 itu.
Setelah menjalani 13 dari total 22 seri musim 2026, Aprilia masih memimpin klasemen konstruktor dengan perolehan 390 poin atau hanya unggul tipis 15 poin atas Ducati. Sementara dalam klasemen pembalap, pembalapnya Jorge Martin memimpin dengan unggul hanya 19 poin atas pembalap Ducati Marc Marquez. Sementara itu Marco Bezzecchi berada di peringkat 3, dan dua pembalap tim Trackhouse Aprilia yakni Ai Ogura dan Raul Fernandez masing-masing berada di peringkat 5 dan 7.
AI bukan AI OGURA loh ya 🤭..












