RiderTua.com – Hakim Danish menjalani debutnya di Moto3 tahun ini. Rider asal Malaysia itu sukses meraih kemenangan pertamanya di GP Ceko pada Juni lalu, padahal waktu itu hanya start dari posisi ke-14. Dia juga meraih 1 podium yakni saat finis di posisi ke-3 di GP Italia. Setelah 11 seri musim 2026, dia menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Saat ini dia berada di peringkat 7 dengan perolehan 86 poin dalam klasemen.
Hanya dalam waktu sekitar 5 tahun, Hakim berhasil menapaki karir balapnya mulai dari berbagai ajang pembinaan di Asia hingga mampu bersaing melawan pembalap-pembalap terbaik di kelas Moto3. Rider berusia 18 tahun itu mengaku bahwa keluarganya bukan berasal dari dunia balap profesional, hanya keluarga biasa yang kebetulan cinta sekali dengan dunia balap. “Keluarga saya menyukai sepeda motor, jadi ayah mengajari saya dan sering membawa saya ke sirkuit,” jelasnya.
Hakim Danish Langsung Bersinar Pada Debutnya di Moto3: Saya Beruntung
Sejak masih kecil Hakim Danish sudah mengendarai mini-moto dan kemudian beralih ke kelas MiniGP pada usia 13 tahun. Di saat inilah, Zulfahmi Khairuddin (mantan pembalap yang kini menjadi mentor bagi talenta muda Malaysia) mulai meliriknya. Zulfahmi melihat potensinya setelah Danish memenangkan kejuaraan MiniGP di Malaysia. “Saya cukup beruntung. Zulfahmi membimbing saya dan membuka kejuaraan MiniGP di Malaysia. Saya ikut serta, memenangkan balapan, dan kemudian bergabung dengan Akademi Zulfahmi Khairuddin,” ungkapnya.

Setelah itu perkembangan karir balap Hakim melesat dengan sangat cepat. Dia kemudian berkompetisi diΒ Asia Talent Cup, European Talent Cup, Rookies Cup (peringkat 3 pada 2025) dan akhirnya melangkah ke Moto3 pada 2026. “Kalau melihat perkembangan saya, semuanya berjalan sangat cepat sampai akhirnya saya bisa mencapai Kejuaraan Dunia di usia seperti sekarang,” ungkapnya.
Di sisi lain, Hakim sadar betul bahwa berkompetisi di Eropa membutuhkan biaya yang sangat besar. Karena itulah dia sangat berterima kasih atas dukungan dan bantuan dari pemerintah Malaysia sejak awal perjalanannya berkompetisi di ajang balap internasional. “Saya beruntung. Ketika saya mulai balapan di Asia Talent Cup, pemerintah saya sangat membantu sejak awal hingga saat ini. Selain itu Khairuddin juga berperan besar dalam mengelola dan mengarahkan karier saya,” ujarnya.
Meski membawa nama Malaysia di pentas dunia, Danish berusaha tidak membebani dirinya dengan tekanan berlebihan. “Saya berusaha untuk tidak terlalu menekan diri sendiri, karena menurut saya itu tidak baik. Saya tidak bisa fokus pada balapan jika melakukannya,” ungkapnya.
Selama musim balap berlangsung, Danish tinggal di Tarragona Spanyol bersama mekanik asal Malaysia yang suda dia anggap seperti ayahnya sendiri. “Dia seperti ayah kedua bagi saya karena dialah yang mengurus saya, motor, latihan, dan segalanya. Saya juag sering bersepeda bersama Valentin Perrone (pembalap asal Argentina) yang merupakan sahabat dekat saya,” jelasnya.
Untuk ukuran pemula, gaya balap Hakim tergolong agresif. Dia mengaku sangat suka duel head to head alias pertarungan dari jarak dekat terutama ketika balapan memasuki lap terakhir. Gaya seperti itu mirip karakter kebanyakan pembalap Spanyol. “Kami tidak merasa takut. Kami hanya berpikir untuk melaju cepat dan berusaha melakukan overtake demi meraih hasil bagus. Tapi saya sadar bahwa di Moto3, posisi pembalap bisa berubah dengan sangat cepat dan hasil balapan sering kali ditentukan di lap terakhir atau bahkan di detik-detik terakhir,” jelasnya.

Dengan 11 seri yang masih tersisa, Hakim mengaku tidak terlalu memikirkan peringkat di klasemen namun dia memilih lebih fokus pada perkembangannya sendiri. “Saya tidak memikirkan soal klsemen musim ini. Saya hanya fokus untuk terus berkembang di setiap balapan, berusaha berada di posisi depan dan tetap berada di grup terdepan,” pungkas pembalap muda dari tim AEON Credit – MT Helmets – MSIΒ itu.
Dalam klasemen rookie Moto3 2026, Hakim Danish berada di peringkat 3 tertinggal 41 dari pemimpin klasemen Brian Uriarte dan terpaut tipis 4 poin dari Veda Ega Pratama yang berada di peringkat 2. Di peringkat 4 dan seterusnya ditempati oleh Rico Salmela, Jesus Rios, Casey O’Gorman, Leo Rammerstorfer, dan Zen Mitani.












