Dua Podium dalam 51 Balapan, Mengapa Franco Morbidelli Malah Berpeluang Dapat Kursi Ducati WSBK?
RiderTua.com – Pergerakan pembalap antara MotoGP dan World Superbike (WSBK) memang selalu punya cerita yang seru buat disimak. Tapi kali ini, sorotan utamanya malah jatuh ke satu nama yang rekam jejaknya bikin banyak orang bertanya-tanya, yaitu Franco Morbidelli.
Di tengah kencangnya kabar kalau dia jadi kandidat utama buat ngisi kursi Ducati Aruba di WSBK, muncul perdebatan hangat soal apa yang sebenarnya bikin dia bisa dapet peluang sebesar itu.
Dalam beberapa tahun terakhir, WSBK memang semakin sering jadi tujuan para pembalap yang kehilangan tempat di MotoGP. Kompetisi tersebut bahkan mulai dipandang sebagai tempat berkumpulnya pembalap-pembalap yang tak lagi dapat kesempatan bertahan di kelas utama. Perpindahan itu bukan lagi hal baru, tetapi tetap timbulkan pertanyaan ketika menyangkut nama-nama tertentu.
Franco Morbidelli Menuju WSBK? Rekam Jejaknya di Ducati Justru Memunculkan Tanda Tanya
Morbidelli jadi salah satu contoh yang paling banyak dibicarakan. Bersama Luca Marini, ia merupakan satu-satunya pembalap yang belum pernah memenangkan balapan gunakan motor rancangan Gigi Dall’Igna di Ducati. Padahal, hampir semua pembalap lain yang menunggangi motor tersebut berhasil merasakan kemenangan.

Sementara itu, Luca Marini telah memperoleh tempat baru di Tech3 KTM yang dipimpin Gunther Steiner. Di sisi lain, Morbidelli justru disebut-sebut sebagai kandidat terdepan untuk menggantikan Nicolo Bulega di tim Ducati Aruba pada Kejuaraan Dunia Superbike.
Kabar tersebut tentu mengundang perhatian karena performa Morbidelli dalam beberapa musim terakhir belum benar-benar mampu menghapus keraguan. Setelah tampil mengejutkan pada musim 2020 dan sempat bersaing dalam perebutan gelar juara dunia MotoGP, performanya perlahan ngalamin penurunan.
Sejak musim 2021, hasil yang diraih Morbidelli lebih sering berada di kategori biasa saja. Momen luar biasa yang sempat membuat namanya diperhitungkan tak lagi terlihat secara konsisten. Kondisi itu membuat banyak pihak mempertanyakan apakah ia masih mampu kembali ke level terbaiknya.
Catatan statistik selama gunakan Ducati juga belum banyak membantu memperkuat argumen tersebut.
Dalam 51 balapan sejak musim 2024 dengan Ducati Desmosedici GP24, motor yang dikenal sebagai salah satu paket paling kompetitif dalam sejarah Kejuaraan Dunia MotoGP, Morbidelli hanya mampu naik podium sebanyak dua kali.

Dua hasil terbaik itu diraihnya pada musim 2025, masing-masing di Sirkuit Termas de Rio Hondo dan Sirkuit Losail. Selain dua podium tersebut, hasil-hasil lain belum mampu menunjukkan konsistensi yang diharapkan dari seorang pembalap yang mengendarai motor terbaik di lintasan.
Jika menoleh sedikit ke belakang, perjalanan Morbidelli memang memperlihatkan tren yang cukup kontras. Podium terakhirnya bersama Yamaha terjadi pada musim 2021 di Sirkuit Jerez. Setelah itu, ia melewati musim 2021, 2022, hingga 2023 tanpa kembali merasakan finis di tiga besar.
Kesempatan bergabung dengan Pramac Racing pada musim 2024 bahkan dianggap sebagai sebuah keberuntungan besar. Tim tersebut datang dengan status juara dunia bertahan dan sediakan motor yang sangat kompetitif.
Namun peluang emas itu belum mampu dimanfaatkan secara maksimal. Ketika rekan setimnya, Jorge Martin, berhasil merebut gelar juara dunia MotoGP, Morbidelli justru menutup musim tanpa satu pun podium. Perbedaan hasil tersebut semakin mempertegas jarak performa antara kedua pembalap yang menggunakan paket teknis serupa.
Cerita itu berlanjut ketika Morbidelli memperkuat VR46 pada musim 2025 hingga musim 2026. Alih-alih lebih sering berada di podium, catatan yang muncul justru memperlihatkan jumlah sanksi akibat tindakan berkendara yang dinilai tak bertanggung jawab lebih banyak dibandingkan raihan finis tiga besar.
Fakta-fakta tersebut membuat muncul satu pertanyaan besar. Mengapa pembalap dengan rekam jejak seperti itu justru disebut sebagai kandidat utama untuk bergabung dengan Ducati Aruba, salah satu tim paling bergengsi di World Superbike?
Pertanyaan tersebut jadi semakin menarik karena kursi yang tersedia bukanlah posisi sembarangan. Ducati Aruba merupakan tim yang selama ini identik dengan target juara dan dihuni pembalap-pembalap yang diharapkan mampu langsung bersaing di barisan depan.
Di tengah seluruh catatan performa Morbidelli dalam beberapa musim terakhir, peluang menuju WSBK justru tetap terbuka lebar. Hal inilah yang memunculkan berbagai tanda tanya mengenai dasar penilaian yang digunakan dalam menentukan kandidat pengganti Nicolo Bulega.

Apakah kesempatan itu datang karena potensi yang masih dipercaya ada dalam diri Morbidelli, atau sekadar jadi bukti bahwa faktor keberuntungan masih memainkan peran besar dalam perjalanan karier seorang pembalap?
Jawabannya mungkin baru bener-bener ketahuan pas keputusan resminya udah diumumkan nanti. Tapi buat sekarang, satu hal yang udah jelas dan susah dibantah: nama Franco Morbidelli balik lagi jadi pusat perhatian. Uniknya, ini bukan gara-gara hasil performanya di atas lintasan, melainkan karena dapet peluang emas di tengah rekam jejaknya yang masih terus diperdebatkan.












