RiderTua.com – Marco Melandri menilai Marco Bezzecchi dan mengkritik jalannya balapan di Sachsenring akhir pekan lalu. Menurutnya, balapan kali ini sangat membosankan. “Salah satu balapan terburuk yang pernah saya lihat dalam 5 tahun terakhir. Bahkan mungkin yang paling buruk. Tidak ada yang terjadi sepanjang balapan!” tegasnya,
Melandri juga menyoroti Fabio Di Giannantonio yang kali ini tumben DNF karena crash dalam race utama hari Minggu, setelah meraih podium dalam sprint hari Sabtu. “Di Giannatonio adalah satu-satunya pembalap yang kehilangan posisi, sehingga peluangnya semakin berkurang. Jika melihat hasil sepanjang musim, dia nyaris tidak pernah kehilangan posisi dalam sebuah balapan dan selalu tampil konsisten. Tapi kali ini, sayangnya, hasilnya beda.”
Marco Melandri: Hanya Marco Bezzecchi Satu-satunya Rider yang Kecepatannya Bisa Mendekati Marc Marquez

Marco Melandri menambahkan, “Di Sachsenring, Di Giannantonio adalah satu-satunya pembalap Ducati yang memulai balapan dengan sangat kuat setelah Marc Marquez. Alex Marquez memang tampil luar biasa. Tetapi dia terlalu santai dan menjadi lengah, lalu terjatuh karenanya. Usai race, dia sendiri mengakui bahwa dia terlalu santai selama balapan sehingga melakukan kesalahan. Dan menurut saya dia tidak punya pace seperti Marc Marquez, tetapi dia tetap cepat.”
“Di Giannantonio sangat cepat di kualifikasi dan juga di balapan. Dia selalu bermasalah saat start. Kalau dia bisa melesat seperti roket sejak awal, maka semuanya akan berjalan dengan baik. Namun kalau tidak, entah mengapa dia selalu kehilangan posisinya di dua atau tiga tikungan pertama,” imbuh mantan pembalap asal Italia itu.
Soal persaingan dalam perebutan gelar dunia musim ini, Marco menjelaskan, “Saya rasa ada faktor psikologis di balik semua ini. Di lintasan, Marco Bezzecchi adalah satu-satunya yang memiliki kecepatan untuk tetap dekat dengan Marc Marquez. Jadi, dia ingin mengirimkan ‘pesan’ yang kuat kepada Marquez dalam persaingan ini.”

Melandri juga membandingkan MotoGP saat dia masih aktif balapan, dengan era saat ini. “Lihat, situasinya sudah banyak berubah. Hingga beberapa balapan yang lalu, 3 motor mendominasi di depan dan sepertinya sudah bisa ditebak siapa pemenangnya. Sekarang, situasinya berubah. Tim pabrikan membawa pembaharuan untuk motornya, tapi mereka justru yang mengalami kesulitan. Tim satelit yang memakai motor spek lama, justru lebih kuat. Itulah keindahan sekaligus kutukan dunia balap. Masalahnya, motor-motor saat ini sudah sangat canggih sehingga di beberapa sirkuit sangat sulit untuk melakukan manuver menyalip, apalagi dengan adanya aerodinamika,” tegasnya.
Melandri mengaku sangat terkesan dengan penampilan Ai Ogura. “Namun di MotoGP saat ini, posisi start hampir pasti menentukan pula posisi finis. Karena ritme balapan semua rider nyaris sama. Hanya Ogura yang berhasil melakukan sesuatu yang berbeda di akhir balapan, karena dia sengaja melambat di beberapa lap pertama. Jadi, sekarang sudah pasti bahwa Ogura lebih kuat di lap-lap terakhir. Bahkan dia mampu mengejar Raul Fernandez dan menyalipnya,” ujarnya.
Melandri menambahkan, “Ogura benar-benar mengejutkan saya, tetapi dia selalu bermain aman. Dia dianggap seorang pembalap yang pendiam dan sangat tenang. Mungkin karena dia orang Jepang, itulah sebabnya banyak yang meremehkannya. Belakangan ini, kita hanya melihat pembalap Italia atau Spanyol sebagai kandidat peraih gelar dunia. Tapi Ai tidak banyak membuat sensasi. Tetapi ketika melihat jumlah poin di akhir klasemen, dia berada di barisan atas dan Marc Marquez tahu itu. Dan menurutku Raul Fernandez juga mulai masuk dalam persaingan.”

Setelah paruh pertama musim selesai, selisih poin antara pembalap peringkat 1 hingga 5 hanya dipisahkan 24 poin. Sementara itu, antara peringkat 3 hingga 5 selisihnya tipis banget hanya 6 poin saja. Jorge Martin di peringkat 1 dengan 208 poin, unggul 14 atas Ai Ogura, 18 poin atas Marc Marquez, 22 poin atas Marco Bezzecchi, dan 24 atas Fabio Di Giannantonio.
“Di Giannantonio semakin mendekati Bezzecchi (hanya selisih 2 poin). Martin memang memimpin klasemen, tetapi dia tidak punya kecepatan yang cukup untuk bertahan dalam persaingan. Jadi secara mental, Martin sudah kehilangan Gelar Dunia. Tetapi dia bisa kembali kuat setelah summer break dan Bezzecchi hampir pulih pasca menjalani operasi,” jelas Melandri.
Marco Melandri juga menyoroti pabrikan yang gagal moncer tahun ini. Dia juga mengkritik penampilan Toprak Razgatlioglu (rookie Pramac Yamaha) dan membandingkannya dengan Diogo Moreira (rookie tim LCR Honda). “Honda belum terlihat kompetitif tahun ini, begitu pula Yamaha. Dan Toprak tampil sangat buruk, benar-benar buruk. Meskipun dia belum mampu beradaptasi, tetapi saya berharap dia mengumpulkan beberapa poin. Lihat Moreira, dia berhasil mencetak beberapa poin,” pungkasnya. Saat ini rookie asal Crasil itu sudah mengantongi 48 poin sementara Toprak baru 12 poin.













