RiderTua.com – Berdasarkan pengalamannya membalap di MotoGP yang sudah berjalan hampir 16 tahun, Marc Marquez menyoroti ketidakkompakan para pembalap dalam menggaungkan misi keselamatan.
“Ya, tapi tidak ada kekompakan. Di antara para pembalap terkadang ada sikap egois. Dan ketika sesuatu yang serius terjadi, seringkali seorang pembalap akan langsung mengangkat tangan dan berkata, ‘saya tidak akan balapan’. Tetapi pembalap yang merasa cocok dengan karakter sikruit dan melihat bahwa mereka punya potensi besar untuk mencetak poin, mereka akan berkata, ‘saya tetap balapan’. Jadi, kita semua harus ‘satu suara’ atau tidak sama sekali. Tetapi untuk saat ini, itu tidak mungkin. Karena tidak ada kekompakan. Sudah pernah dicoba, tetapi gagal,” tegas rider berjuluk Baby Alien itu.
Marc Marquez: Balapan Sekarang Terasa Seperti Reli

Selain itu juara dunia 9 kali itu juga mengkritik pesatnya perkembangan aerodinamika yang membuat semakin sulit untuk melakukan overtake. “Kalau saya boleh memilih, saya akan menghentikan perkembangan aerodinamika pada 2017, tepat ketika winglet mulai muncul. Sekarang balapan terasa seperti reli. Kalau ritme kita tidak jauh lebih cepat daripada pembalap di depan, maka kita tidak akan bisa menyalip. Dan ketika ada rival mampu menyalip kita dengan kecepatan lebih tinggi, maka kita tidak bisa mengimbanginya,” jelas Marc Marquez.
Marquez mengungkapkan adanya perbedaan besar dengan era MotoGP beberapa tahun lalu. “Pada 2017, meskipun kecepatan saya lebih lambat 0,5 detik di belakang pemimpin balapan, saya masih bisa menempelnya (slipstream) dan mengikuti kecepatannya. Sekarang, tidak lagi bisa seperti itu. Dulu berada di belakang pembalap lain bisa membantu kita. Sekarang bahkan dalam latihan saja, jika kita tidak punya kecepatan yang cukup, seberapa pun kita mencoba memanfaatkan slipstream, kita tidak akan terbantu dengan hal itu,” imbuh pemenang 101 balapan di semua kelas itu.

Selain menyoroti aerodinamika, Marquez juga mengungkapkan bahwa betapa beratnya ketika melihat saudara sendiri mengalami crash di lintasan. “Itu pernah terjadi pada saya, dan sebaliknya juga terjadi pada Alex (adiknya). Saya ingat dalam sprint race di GP Catalunya tahun lalu. Dia memimpin balapan dan saya di posisi ke-2, lalu dia terjatuh. Tapi sebagai pembalap kita harus menyelesaikan balapan, tetapi tentu saja kita tidak ingin saudara kita terjatuh. Atau di Belanda akhir pekan lalu, ketika saya melewatinya, saya melihatnya berada di gravel sedang ditangani petugas medis. Saat itu saya tidak tahu bagaimana kondisinya. Itu sangat berat,” ungkap rider berusia 33 tahun itu.
Dan untuk insiden di GP Catalunya tahun ini dimana Alex Marquez mengalami crash yang cukup serius setelah menabrak bagian belakang motor Pedro Acosta, Marc bilang bahwa mungkin dirinya tidak akan ikut balapan. “Untungnya, saat itu saya sedang absen karena cedera. Saya rasa 95 persen kemungkinan saya tidak akan memulai balapan, mental saya tidak akan siap karena saya tidak tahu bagaimana kondisi adik saya sebenarnya. Pada akhirnya kesehatan adalah yang utama, baru kemudian balapan,” tegas juara dunia MotoGP 7 kali itu.

Sebagai seorang atlet profesional, pelajaran apa yang bisa dipetik dari semua yang terjadi selama karir balapnya? “Yang terpenting, nikmati momen-momen indah. Karena momen yang baik, harus diperjuangkan dan diciptakan sendiri. Dan momen yang buruk, sayangnya datang dengan sendirinya tanpa harus dicari. Nikmati saat-saat indah, saat-saat buruk tidak akan terlalu buruk seiring berjalannya waktu. Manusia memiliki kemampuan untuk melupakan hal-hal buruk dan menyimpan hal-hal baik,” pungkas rider yang saat ini berada di peringkat 5 dengan perolehan 153 poin dalam klasemen itu atau tertinggal hanya 40 poin dari pemimpin klasemen yang baru Jorge Martin (Aprilia).














